Trading dan Investasi
ad1
Iklan Gratis
Buku Berdarah
Alam Semesta
Juni 02, 2015
18 oktober 2007
Di ruang kelas pulang sekolah…
Semua siswa-siswi sudah pulang, kecuali Dita dan Shilla. Sebelum pulang mereka diminta menempelkan hasil karya para siswa-siswi di mading. Kemudian turun hujan sehingga mereka berdua menunggu hujan reda. Sembari menunggu hujan, mereka berdua duduk-duduk di kelas.
“Lo jahat ya! Jahat banget sama gua!” Kata Dita.
“Emang gua salah apa sih?” Shilla heran.
“Udah, jangan munafik! gua kan udah pernah bilang kalo gua suka banget sama Ricky! Tapi kenapa lo malah jadian sama Ricky?” Tanya Dita.
“Tapi jujur, gua gak suka sama Ricky. Tapi Ricky yang nembak gua!” Kata Shilla.
“Iya gua tau! Lo gak suka kan sama Ricky? Tapi kenapa lo sampai jadian sama Ricky? padahal lo kan tau kalo gua sayang banget sama Ricky! Kenapa sih lo mesti nusuk gua dari belakang? Kenapa? gua ini sahabat lo Shilla” Kata Dita sambil terisak.
“Tapi… tapi…” Belum sempat Shilla melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Dita menusuk Shilla dengan pisau. Seketika Shilla tergeletak di lantai bersimbah darah. Lalu Dita meneteskan darah di pisau ke buku diary milik Shilla.
“Ini pembalasan dari gua, selamat tinggal Shilla” lalu Dita meninggalkan mayat Shilla di kelas.
5 tahun kemudian…
“Anak-anak, kalian diminta untuk membuat sebuah puisi, yang terbaik akan dipajang di mading” kata Pak Andhika, guru Bahasa Indonesia.
“Baiik pak” akhirnya pelajaran selesai. Para siswa-siswi segera pulang.
Perjalanan pulang…
“Aih, gua gak jago bikin puisi” kata Nadine.
“gua sih gak terlalu” kata Vianni.
“gua sih bisa-bisa aja” kata Marchella.
“Iya, lo kan pinter. Gak kayak gua, bikin puisi aja gak bisa” kata Tiara.
Malam harinya…
“Hmm, kali ini bikin puisi apa ya?” Kata Marchella dalam hati.
“Aha!” Tiba-tiba Marchella menemukan ide.
Esok harinya…
“Ya, anak-anak. Sudah dikerjakan tugas yang bapak berikan kemarin?” Tanya Pak Andhika.
“Sudah pak”
“Nah, sekarang coba Marchella maju ke depan, bacakan puisi mu” kata Pak Andhika.
Marchella maju ke depan, sedangkan teman-temannya menunggu giliran dengan gelisah.
Ketika malam tiba
Aku termenung di sudut jendela
Memandangi langit malam
Yang penuh dengan bintang-bintang
Aku mencoba melihat kembali ke atas
Akhirnya telah tampak sang bulan
Bulan yang berdiam di langit
Ditemani oleh sang bintang
Andai saja tuhan memberiku sayap
Maka aku akan terbang ke atas
Jauh ke atas dan akan kuraih bintang-bintang di langit.
Setelah Marchella membacakan puisinya, seluruh siswa-siswi bertepuk tangan.
“Ya, sangat bagus Marchella! Good job” kata Pak Andhika.
Machella segera duduk kembali. Lalu, Pak Andhika memanggil murid-murid yang lain untuk membacakan puisi.
“Baiklah anak-anak, puisi yang akan dipajang di mading adalah milik Marchella, Dhika, Astri, Frans, dan Zee” kata Pak Andhika.
Selesai sekolah Marchella, Andi, Chintya, dan Dimas masih harus tinggal di sekolah untuk piket dan memajang puisi di Mading. Saat sedang menyapu, Marchella menemukan sesuatu di kolong lemari.
“Apaan sih?” Lalu Marchella mengambil benda itu.
“Hah? diary? punya siapa nih?” Marchella heran.
“Eh Marchella, ngapain lo jongkok disitu?” Tanya Dimas.
“gua nemuin diary” kata Marchella.
“Iih, punya siapa sih? Jangan sembarangan diambil” kata Chintya.
“Lo mah percaya takhayul banget” kata Andi.
“gua bawa pulang ah” kata Marchella.
“Terserah! Ya udah yuk kita pulang” kata Dimas.
Lalu mereka berempat segera pulang.
Di rumah, malam hari…
“Ini kira-kira punya siapa sih?” Kemudian Marchella membuka diary itu.
Milik: Ashilla Fiona Michella
Since: 19 maret 2006
“Ashilla itu siapa sih?” Marchella heran.
Marchella penasaran, ia membuka halaman terakhir di diary itu.
“Haaaahhhh!!” Marchella kaget, ada bercak darah di diary itu.
Lalu Marchella segera menutup buku itu dan menyimpannya di laci. Kemudian Marchella pergi tidur.
Malam semakin larut, tetapi Marchella belum bisa tidur. Kamarnya gelap, ia segera menyalakan lampu. Kemudian Marchella memberanikan diri untuk mengambil diary itu.
“Baca-baca aah” kata Marchella sembari membuka buku itu.
14 oktober 2007
Hari ini Ricky nembak aku. Sebenernya aku gak suka sama Ricky. Lagipula aku tau kalo Dita suka banget sama Ricky. Tapi Ricky udah lama banget suka sama aku. Dan Ricky kena penyakit kanker. Ricky bilang, hidup dia mungkin gak akan lama lagi. Karena kasihan, aku terima aja.
“Ricky? Dita? Mereka sebenernya siapa ya?” Marchella masih heran.
“Aah bodo amat lah. Ini kan diary orang. Tapi ngomong-ngomong ngapain juga ya gua bawa-bawa diary orang? Aah tapi kan gak ada yang punya. Mending gua bawa. Secara kan gua kepo. Hahahaha” Marchella tertawa sendiri.
Marchella segera meletakkan diary itu di laci. Lalu Marchella kembali tidur.
Esok harinya…
“Eh, kemarin ya gua nemu diary. Gak jelas gitu deh. Terus di belakangnya ada bercak darah” kata Marchella kepada teman-temannya.
“Terus lo bawa pulang?” Tanya Tiara.
“Yupz” kata Marchella.
“Emang lo gak takut apa?” Kata Vianni.
“Enggak” kata Marchella
“Eh, ngomong-ngomong itu diary punya siapa?” Tanya Nadine.
“Ashilla fiona Michella” jawab Marchella.
“Astaga naga bonar ebuset” Nadine kaget.
“Emang kenapa?” Tanya Tiara.
“Nih, jadi si Ashilla itu seangkatan sama kakak gua, si Naura. Kakak gua kan lulusnya tahun 2008. Tapi si Ashilla meninggal tahun 2007″ kata Nadine.
“Berarti Ashilla meninggal pas kelas SMA 2 dong” kata Vianni.
“Iya, kayak kita. Kita kan sekarang juga kelas SMA 2″ kata Nadine.
“Terus, kok bisa meninggal?” Tanya Marchella.
“Kalo gak salah sih dibunuh sama sahabatnya sendiri, si Dita. Ceritanya Dita sukaan sama cowok namanya Ricky. Terus Ricky malah jadian sama Shilla. Dibunuh deh” kata Nadine.
“Kok lo tau banget sih ceritanya?” Tanya Tiara.
“gua dikasih tau kakak gua” kata Nadine.
“Terus, si Shilla meninggal dimana?” Tanya Vianni.
“Kejadiannya di kelas kita” kata Nadine.
“Hiiiiyy!” Marchella bergidik ngeri.
Pulang sekolah…
“gua jadi penasaran sama kejadian itu” kata Marchella.
“Sama nih, gua pengen selidikin” kata Nadine.
“Kan kakak lo bisa kita mintain informasi” kata Marchella.
“Masalahnya kakak gua di kuliah di Amerika” kata Nadine.
“Yaah, terus gimana dong?” Kata Marchella.
“Gimana kalo kita ke ruang perpus aja? Siapa tau kita bisa nemuin data tentang Ashilla dan Dita” kata Nadine.
Di ruang perpus…
“Duh, buanyak banget” kata Nadine.
“Ribet nih carinya” kata Marchella.
Kemudian mereka mencari arsip tahun 2006-2007.
“Ini dia!” Kata Nadine.
“Apaan tuh?” Tanya Marchella.
“Ini arsip nya Ashilla dan Dita” kata Nadine.
Kemudian mereka berdua menyelidiki arsip itu.
“Ooo… gua dapet alamat mereka berdua” kata Nadine
Perjalanan pulang…
“Lo udah catat alamat mereka?” Tanya Marchella.
“Udah” kata Nadine.
“Terus kapan kita pergi?” Tanya Marchella.
“Besok. Kan besok hari sabtu” kata Nadine.
“Oh iya, libur” kata Marchella.
Di rumah…
“Haaa… Akhirnya bisa rebahan lagi di kasur yang serba empuk ini” kata Marchella sambil berguling-guling di kasur.
“Tapiii… Ini kok panas banget ya kayak di pantai kuta?” Tanya Marchella.
“Ooo iya! gua belum nyalain AC” lalu Marchella segera menyalakan AC.
Kemudian Marchella kembali mengeluarkan diary yang kemarin ia temukan. Tanpa sengaja Marchella membuka halaman terakhir.
“TOLONG AKU!” Tertulis sebuah kalimat di halaman terakhir.
“Hah? Ini tulisan siapa sih? Bikin merinding aja” kata Marchella.
Malam hari…
Marchella akan beranjak tidur. Matanya terasa berat. Saat Marchella sedang menatap ke kaca, ia melihat seorang perempuan. Perempuan itu berambut panjang sepinggang, memakai baju putih abu-abu, dan ada bekas tusukan di perutnya.
“Haaahhh!!! Hantu!! Hantuu!!” Marchella takut sekali.
Tiba-tiba mama Marchella masuk ke kamar Marchella.
“Ya ampun, kok teriak-teriak sih?” Tanya mama.
“Ma, ada hantu ma! Ada hantu!” Kata Marchella.
“Hantu? Aah masa sih?” Kata mama
“Bener mah!” Kata Marchella.
“Udah ah! Makanya kalo mau tidur berdoa! Jangan mikir yang aneh-aneh. Met bobo” kata mama.
“Iya ma, met bobo” lalu Marchella segera menutup diri dengan selimut.
Esok hari…
“Semalem gua ngelihat hantu” kata Machella.
“Hah? Hantu? Kayak gimana?” Tanya Nadine.
“Mirip sama foto Ashilla di buku arsip kemarin” kata Marchella.
“Terus?” Tanya Nadine.
“Di halaman paling belakang ada tulisan tolong aku. Jangan-jangan Ashilla yang minta tolong” kata Nadine.
“gua sih juga bingung” kata Nadine.
“Terus sekarang kita mau kemana?” Tanya Marchella.
“Ke Parung, Bogor” kata Nadine.
“Ngapain?” Tanya Marchella.
“Kita mau ke rumah Ashilla, di jalan kenari” kata Nadine.
Lalu Nadine menyerahkan kertas berisi alamat yang dilihatnya di buku arsip kepada Marchella.
Di rumah Ashilla…
“Permisi…” Kata Nadine sambil mengetuk pintu.
“Gak ada orang ya?” Tanya Marchella.
Lalu, dari seberang rumah datang seorang ibu tua.
“Adek nyari siapa?” Tanya ibu itu
“Nyari yang tinggal di rumah ini” kata Marchella.
“Penghuni nya udah pindah 3 tahun yang lalu. Kalo gak salah sih ke Semarang. Dengar-dengar sih, anak yang tinggal disini tuh dibunuh” kata ibu itu.
“Makasih ya bu” kata Nadine.
Lalu mereka segera naik ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Di mobil…
“Rumah Dita dimana?” Tanya Marchella.
“Kan ada disitu neng, di jalan Cemara nomor 34″ kata Nadine.
“Oo iya, gua gak lihat kertasnya” kata Marchella sambil cengar-cengir.
“Uuu! Semprul!” Kata Nadine.
Tak lama, mereka sampai di rumah Dita.
Di rumah Dita…
“Permisi…” Nadi mengetuk pintu pagar.
“Iyaa…” Lalu seorang wanita membukakan pintu.
“Ada Dita gak bu?” Tanya Marchella.
Ibu itu hanya terdiam, lalu menangis.
“Ibu kenapa?” Tanya Nadine.
“Ayo, ikut ibu ke dalam” lalu Nadine dan Marchella masuk ke dalam rumah.
“Untuk apa kalian kemari?” Tanya Ibu itu.
“Kami mau menyelidiki kejadian pembunuhan 5 tahun yang lalu di sekolah kami” kata Marchella.
“Kalian pasti dari SMA melati Parung kan?” Tanya ibu itu.
“Iya bu. Nama saya Nadine, ini teman saya Marchella” kata Nadine.
“Oo, ibu ini mamanya Dita” kata ibu itu.
Lalu Nadine dan Marchella menceritakan kejadian pembunuhan itu.
“Begitu ceritanya” kata Marchella.
tak lama kemudian ibu itu menangis.
“Kenapa Bu?” Tanya Nadine.
“Waktu itu, pulang sekolah seragamnya Dita ada bercak darah. Lalu Dita menangis seharian di kamar. Terus Ibu tanya kenapa. Dita bilang dia merasa bersalah sama Ashilla. Dita bilang kalo Dita udah membunuh Ashilla” kata Ibu itu.
“Terus, gimana kelanjutannya?” Tanya Marchella.
“Pas esoknya, mayat Ashilla ditemukan. Dita langsung pergi ke acara pemakaman Ashilla. Sejak saat itu, Dita jadi anak yang pemurung. Dita dihantui rasa bersalah. Dan sekarang, Dita kena penyakit jiwa” kata Ibu itu sambil menangis.
“Hah?” Marchella dan Nadine kaget.
“lalu, Dita ada dimana?” Tanya Nadine.
“Sekarang Dita di RSJ. Kalau kalian mau ketemu, ayo sekalian antarkan ibu” kata Ibu itu.
Lalu mereka segera menuju RSJ.
Di RSJ…
“Dita ada di ruang melati. Kalian masuk saja” kata Ibu itu.
“Ibu gak mau masuk?” Tanya Marchella.
“Ibu gak kuat lihat kondisi Dita” kata Ibu itu.
Perlahan-lahan Nadine dan Marchella melangkah masuk ke ruang Melati. Di pojok kamar ada Dita yang sedang menangis.
“Dita…” Panggil Nadine.
“Ada apa?” Tanya Dita.
“Benar, kamu yang membunuh Ashilla?” Tanya Marchella.
“Iya… Mau apa tanya-tanya?!” Kata Dita sambil marah.
Lalu, Nadine memberikan diary Ashilla kepada Dita.
“Dulu, aku membunuh Ashilla karena dia jadian sama Ricky, orang yang aku suka. Aku cemburu sama Ashilla dan Ricky. Lalu, sejak pembunuhan itu aku menyesal telah membunuh sahabatku” kata Dita.
Nadine dan Marchella mendengarkan Dita.
“Andai saja, aku tidak membunuhnya. Sekarang aku tak ada kesempatan lagi untuk meminta maaf” kata Dita sambil menangis.
“Masih ada waktu untuk minta maaf. Ayo kita pergi ke makam Ashilla” kata Nadine.
lalu dengan pengawasan perawat, Nadine, Marchella, Ibu Dita, dan Dita pergi ke TPU parung.
Di TPU parung…
“Ini dia kuburan Ashilla” kata Nadine.
“Ashilla, maafin gua. Dulu gua udah membunuh lo. gua nyesel banget. Maafin gua ya. gua dihantui rasa bersalah sejak gua membunuh lo 5 tahun yang lalu. Maafin gua” kata Dita.
Tiba-tiba, dari kejauhan tampak Ashilla tersenyum kepada Dita. Dita juga ikut tersenyum.
Kemudian mereka pulang.
Seminggu kemudian…
Marchella dan Nadine sedang duduk berdua di kelas. Mereka sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba, mereka melihat seseorang yang duduk di bangku paling depan.
“Siapa ya?” Tanya Nadine.
Orang itu berbalik, rupanya orang itu adalah Ashilla!
Selesai
Cerpen Karangan: Olivia Putri Hermawan
Facebook: Olivia Putri
Nama ku Olivia Putri Hermawan.
Hobi ku menulis cerpen dan cerbung.
Kalau mau tau lebih banyak tentang aku, silahkan follow twitter ku
@olivia86746072
Thanks….
Di ruang kelas pulang sekolah…
Semua siswa-siswi sudah pulang, kecuali Dita dan Shilla. Sebelum pulang mereka diminta menempelkan hasil karya para siswa-siswi di mading. Kemudian turun hujan sehingga mereka berdua menunggu hujan reda. Sembari menunggu hujan, mereka berdua duduk-duduk di kelas.
“Lo jahat ya! Jahat banget sama gua!” Kata Dita.
“Emang gua salah apa sih?” Shilla heran.
“Udah, jangan munafik! gua kan udah pernah bilang kalo gua suka banget sama Ricky! Tapi kenapa lo malah jadian sama Ricky?” Tanya Dita.
“Tapi jujur, gua gak suka sama Ricky. Tapi Ricky yang nembak gua!” Kata Shilla.
“Iya gua tau! Lo gak suka kan sama Ricky? Tapi kenapa lo sampai jadian sama Ricky? padahal lo kan tau kalo gua sayang banget sama Ricky! Kenapa sih lo mesti nusuk gua dari belakang? Kenapa? gua ini sahabat lo Shilla” Kata Dita sambil terisak.
“Tapi… tapi…” Belum sempat Shilla melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba Dita menusuk Shilla dengan pisau. Seketika Shilla tergeletak di lantai bersimbah darah. Lalu Dita meneteskan darah di pisau ke buku diary milik Shilla.
“Ini pembalasan dari gua, selamat tinggal Shilla” lalu Dita meninggalkan mayat Shilla di kelas.
5 tahun kemudian…
“Anak-anak, kalian diminta untuk membuat sebuah puisi, yang terbaik akan dipajang di mading” kata Pak Andhika, guru Bahasa Indonesia.
“Baiik pak” akhirnya pelajaran selesai. Para siswa-siswi segera pulang.
Perjalanan pulang…
“Aih, gua gak jago bikin puisi” kata Nadine.
“gua sih gak terlalu” kata Vianni.
“gua sih bisa-bisa aja” kata Marchella.
“Iya, lo kan pinter. Gak kayak gua, bikin puisi aja gak bisa” kata Tiara.
Malam harinya…
“Hmm, kali ini bikin puisi apa ya?” Kata Marchella dalam hati.
“Aha!” Tiba-tiba Marchella menemukan ide.
Esok harinya…
“Ya, anak-anak. Sudah dikerjakan tugas yang bapak berikan kemarin?” Tanya Pak Andhika.
“Sudah pak”
“Nah, sekarang coba Marchella maju ke depan, bacakan puisi mu” kata Pak Andhika.
Marchella maju ke depan, sedangkan teman-temannya menunggu giliran dengan gelisah.
Ketika malam tiba
Aku termenung di sudut jendela
Memandangi langit malam
Yang penuh dengan bintang-bintang
Aku mencoba melihat kembali ke atas
Akhirnya telah tampak sang bulan
Bulan yang berdiam di langit
Ditemani oleh sang bintang
Andai saja tuhan memberiku sayap
Maka aku akan terbang ke atas
Jauh ke atas dan akan kuraih bintang-bintang di langit.
Setelah Marchella membacakan puisinya, seluruh siswa-siswi bertepuk tangan.
“Ya, sangat bagus Marchella! Good job” kata Pak Andhika.
Machella segera duduk kembali. Lalu, Pak Andhika memanggil murid-murid yang lain untuk membacakan puisi.
“Baiklah anak-anak, puisi yang akan dipajang di mading adalah milik Marchella, Dhika, Astri, Frans, dan Zee” kata Pak Andhika.
Selesai sekolah Marchella, Andi, Chintya, dan Dimas masih harus tinggal di sekolah untuk piket dan memajang puisi di Mading. Saat sedang menyapu, Marchella menemukan sesuatu di kolong lemari.
“Apaan sih?” Lalu Marchella mengambil benda itu.
“Hah? diary? punya siapa nih?” Marchella heran.
“Eh Marchella, ngapain lo jongkok disitu?” Tanya Dimas.
“gua nemuin diary” kata Marchella.
“Iih, punya siapa sih? Jangan sembarangan diambil” kata Chintya.
“Lo mah percaya takhayul banget” kata Andi.
“gua bawa pulang ah” kata Marchella.
“Terserah! Ya udah yuk kita pulang” kata Dimas.
Lalu mereka berempat segera pulang.
Di rumah, malam hari…
“Ini kira-kira punya siapa sih?” Kemudian Marchella membuka diary itu.
Milik: Ashilla Fiona Michella
Since: 19 maret 2006
“Ashilla itu siapa sih?” Marchella heran.
Marchella penasaran, ia membuka halaman terakhir di diary itu.
“Haaaahhhh!!” Marchella kaget, ada bercak darah di diary itu.
Lalu Marchella segera menutup buku itu dan menyimpannya di laci. Kemudian Marchella pergi tidur.
Malam semakin larut, tetapi Marchella belum bisa tidur. Kamarnya gelap, ia segera menyalakan lampu. Kemudian Marchella memberanikan diri untuk mengambil diary itu.
“Baca-baca aah” kata Marchella sembari membuka buku itu.
14 oktober 2007
Hari ini Ricky nembak aku. Sebenernya aku gak suka sama Ricky. Lagipula aku tau kalo Dita suka banget sama Ricky. Tapi Ricky udah lama banget suka sama aku. Dan Ricky kena penyakit kanker. Ricky bilang, hidup dia mungkin gak akan lama lagi. Karena kasihan, aku terima aja.
“Ricky? Dita? Mereka sebenernya siapa ya?” Marchella masih heran.
“Aah bodo amat lah. Ini kan diary orang. Tapi ngomong-ngomong ngapain juga ya gua bawa-bawa diary orang? Aah tapi kan gak ada yang punya. Mending gua bawa. Secara kan gua kepo. Hahahaha” Marchella tertawa sendiri.
Marchella segera meletakkan diary itu di laci. Lalu Marchella kembali tidur.
Esok harinya…
“Eh, kemarin ya gua nemu diary. Gak jelas gitu deh. Terus di belakangnya ada bercak darah” kata Marchella kepada teman-temannya.
“Terus lo bawa pulang?” Tanya Tiara.
“Yupz” kata Marchella.
“Emang lo gak takut apa?” Kata Vianni.
“Enggak” kata Marchella
“Eh, ngomong-ngomong itu diary punya siapa?” Tanya Nadine.
“Ashilla fiona Michella” jawab Marchella.
“Astaga naga bonar ebuset” Nadine kaget.
“Emang kenapa?” Tanya Tiara.
“Nih, jadi si Ashilla itu seangkatan sama kakak gua, si Naura. Kakak gua kan lulusnya tahun 2008. Tapi si Ashilla meninggal tahun 2007″ kata Nadine.
“Berarti Ashilla meninggal pas kelas SMA 2 dong” kata Vianni.
“Iya, kayak kita. Kita kan sekarang juga kelas SMA 2″ kata Nadine.
“Terus, kok bisa meninggal?” Tanya Marchella.
“Kalo gak salah sih dibunuh sama sahabatnya sendiri, si Dita. Ceritanya Dita sukaan sama cowok namanya Ricky. Terus Ricky malah jadian sama Shilla. Dibunuh deh” kata Nadine.
“Kok lo tau banget sih ceritanya?” Tanya Tiara.
“gua dikasih tau kakak gua” kata Nadine.
“Terus, si Shilla meninggal dimana?” Tanya Vianni.
“Kejadiannya di kelas kita” kata Nadine.
“Hiiiiyy!” Marchella bergidik ngeri.
Pulang sekolah…
“gua jadi penasaran sama kejadian itu” kata Marchella.
“Sama nih, gua pengen selidikin” kata Nadine.
“Kan kakak lo bisa kita mintain informasi” kata Marchella.
“Masalahnya kakak gua di kuliah di Amerika” kata Nadine.
“Yaah, terus gimana dong?” Kata Marchella.
“Gimana kalo kita ke ruang perpus aja? Siapa tau kita bisa nemuin data tentang Ashilla dan Dita” kata Nadine.
Di ruang perpus…
“Duh, buanyak banget” kata Nadine.
“Ribet nih carinya” kata Marchella.
Kemudian mereka mencari arsip tahun 2006-2007.
“Ini dia!” Kata Nadine.
“Apaan tuh?” Tanya Marchella.
“Ini arsip nya Ashilla dan Dita” kata Nadine.
Kemudian mereka berdua menyelidiki arsip itu.
“Ooo… gua dapet alamat mereka berdua” kata Nadine
Perjalanan pulang…
“Lo udah catat alamat mereka?” Tanya Marchella.
“Udah” kata Nadine.
“Terus kapan kita pergi?” Tanya Marchella.
“Besok. Kan besok hari sabtu” kata Nadine.
“Oh iya, libur” kata Marchella.
Di rumah…
“Haaa… Akhirnya bisa rebahan lagi di kasur yang serba empuk ini” kata Marchella sambil berguling-guling di kasur.
“Tapiii… Ini kok panas banget ya kayak di pantai kuta?” Tanya Marchella.
“Ooo iya! gua belum nyalain AC” lalu Marchella segera menyalakan AC.
Kemudian Marchella kembali mengeluarkan diary yang kemarin ia temukan. Tanpa sengaja Marchella membuka halaman terakhir.
“TOLONG AKU!” Tertulis sebuah kalimat di halaman terakhir.
“Hah? Ini tulisan siapa sih? Bikin merinding aja” kata Marchella.
Malam hari…
Marchella akan beranjak tidur. Matanya terasa berat. Saat Marchella sedang menatap ke kaca, ia melihat seorang perempuan. Perempuan itu berambut panjang sepinggang, memakai baju putih abu-abu, dan ada bekas tusukan di perutnya.
“Haaahhh!!! Hantu!! Hantuu!!” Marchella takut sekali.
Tiba-tiba mama Marchella masuk ke kamar Marchella.
“Ya ampun, kok teriak-teriak sih?” Tanya mama.
“Ma, ada hantu ma! Ada hantu!” Kata Marchella.
“Hantu? Aah masa sih?” Kata mama
“Bener mah!” Kata Marchella.
“Udah ah! Makanya kalo mau tidur berdoa! Jangan mikir yang aneh-aneh. Met bobo” kata mama.
“Iya ma, met bobo” lalu Marchella segera menutup diri dengan selimut.
Esok hari…
“Semalem gua ngelihat hantu” kata Machella.
“Hah? Hantu? Kayak gimana?” Tanya Nadine.
“Mirip sama foto Ashilla di buku arsip kemarin” kata Marchella.
“Terus?” Tanya Nadine.
“Di halaman paling belakang ada tulisan tolong aku. Jangan-jangan Ashilla yang minta tolong” kata Nadine.
“gua sih juga bingung” kata Nadine.
“Terus sekarang kita mau kemana?” Tanya Marchella.
“Ke Parung, Bogor” kata Nadine.
“Ngapain?” Tanya Marchella.
“Kita mau ke rumah Ashilla, di jalan kenari” kata Nadine.
Lalu Nadine menyerahkan kertas berisi alamat yang dilihatnya di buku arsip kepada Marchella.
Di rumah Ashilla…
“Permisi…” Kata Nadine sambil mengetuk pintu.
“Gak ada orang ya?” Tanya Marchella.
Lalu, dari seberang rumah datang seorang ibu tua.
“Adek nyari siapa?” Tanya ibu itu
“Nyari yang tinggal di rumah ini” kata Marchella.
“Penghuni nya udah pindah 3 tahun yang lalu. Kalo gak salah sih ke Semarang. Dengar-dengar sih, anak yang tinggal disini tuh dibunuh” kata ibu itu.
“Makasih ya bu” kata Nadine.
Lalu mereka segera naik ke mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Di mobil…
“Rumah Dita dimana?” Tanya Marchella.
“Kan ada disitu neng, di jalan Cemara nomor 34″ kata Nadine.
“Oo iya, gua gak lihat kertasnya” kata Marchella sambil cengar-cengir.
“Uuu! Semprul!” Kata Nadine.
Tak lama, mereka sampai di rumah Dita.
Di rumah Dita…
“Permisi…” Nadi mengetuk pintu pagar.
“Iyaa…” Lalu seorang wanita membukakan pintu.
“Ada Dita gak bu?” Tanya Marchella.
Ibu itu hanya terdiam, lalu menangis.
“Ibu kenapa?” Tanya Nadine.
“Ayo, ikut ibu ke dalam” lalu Nadine dan Marchella masuk ke dalam rumah.
“Untuk apa kalian kemari?” Tanya Ibu itu.
“Kami mau menyelidiki kejadian pembunuhan 5 tahun yang lalu di sekolah kami” kata Marchella.
“Kalian pasti dari SMA melati Parung kan?” Tanya ibu itu.
“Iya bu. Nama saya Nadine, ini teman saya Marchella” kata Nadine.
“Oo, ibu ini mamanya Dita” kata ibu itu.
Lalu Nadine dan Marchella menceritakan kejadian pembunuhan itu.
“Begitu ceritanya” kata Marchella.
tak lama kemudian ibu itu menangis.
“Kenapa Bu?” Tanya Nadine.
“Waktu itu, pulang sekolah seragamnya Dita ada bercak darah. Lalu Dita menangis seharian di kamar. Terus Ibu tanya kenapa. Dita bilang dia merasa bersalah sama Ashilla. Dita bilang kalo Dita udah membunuh Ashilla” kata Ibu itu.
“Terus, gimana kelanjutannya?” Tanya Marchella.
“Pas esoknya, mayat Ashilla ditemukan. Dita langsung pergi ke acara pemakaman Ashilla. Sejak saat itu, Dita jadi anak yang pemurung. Dita dihantui rasa bersalah. Dan sekarang, Dita kena penyakit jiwa” kata Ibu itu sambil menangis.
“Hah?” Marchella dan Nadine kaget.
“lalu, Dita ada dimana?” Tanya Nadine.
“Sekarang Dita di RSJ. Kalau kalian mau ketemu, ayo sekalian antarkan ibu” kata Ibu itu.
Lalu mereka segera menuju RSJ.
Di RSJ…
“Dita ada di ruang melati. Kalian masuk saja” kata Ibu itu.
“Ibu gak mau masuk?” Tanya Marchella.
“Ibu gak kuat lihat kondisi Dita” kata Ibu itu.
Perlahan-lahan Nadine dan Marchella melangkah masuk ke ruang Melati. Di pojok kamar ada Dita yang sedang menangis.
“Dita…” Panggil Nadine.
“Ada apa?” Tanya Dita.
“Benar, kamu yang membunuh Ashilla?” Tanya Marchella.
“Iya… Mau apa tanya-tanya?!” Kata Dita sambil marah.
Lalu, Nadine memberikan diary Ashilla kepada Dita.
“Dulu, aku membunuh Ashilla karena dia jadian sama Ricky, orang yang aku suka. Aku cemburu sama Ashilla dan Ricky. Lalu, sejak pembunuhan itu aku menyesal telah membunuh sahabatku” kata Dita.
Nadine dan Marchella mendengarkan Dita.
“Andai saja, aku tidak membunuhnya. Sekarang aku tak ada kesempatan lagi untuk meminta maaf” kata Dita sambil menangis.
“Masih ada waktu untuk minta maaf. Ayo kita pergi ke makam Ashilla” kata Nadine.
lalu dengan pengawasan perawat, Nadine, Marchella, Ibu Dita, dan Dita pergi ke TPU parung.
Di TPU parung…
“Ini dia kuburan Ashilla” kata Nadine.
“Ashilla, maafin gua. Dulu gua udah membunuh lo. gua nyesel banget. Maafin gua ya. gua dihantui rasa bersalah sejak gua membunuh lo 5 tahun yang lalu. Maafin gua” kata Dita.
Tiba-tiba, dari kejauhan tampak Ashilla tersenyum kepada Dita. Dita juga ikut tersenyum.
Kemudian mereka pulang.
Seminggu kemudian…
Marchella dan Nadine sedang duduk berdua di kelas. Mereka sedang asyik mengobrol. Tiba-tiba, mereka melihat seseorang yang duduk di bangku paling depan.
“Siapa ya?” Tanya Nadine.
Orang itu berbalik, rupanya orang itu adalah Ashilla!
Selesai
Cerpen Karangan: Olivia Putri Hermawan
Facebook: Olivia Putri
Nama ku Olivia Putri Hermawan.
Hobi ku menulis cerpen dan cerbung.
Kalau mau tau lebih banyak tentang aku, silahkan follow twitter ku
@olivia86746072
Thanks….
Mati Suri
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Hai, namaku Ken. Aku duduk di kelas 7. Aku anak sebatang kara. Hujan atau panas pun aku selalu sendiri. Jarang ada yang menemaniku. Membutuhkanku hanya ada butuhnya saja. Ke kantin saja sendirian apalagi pulang sekolah
Saat di kelas aku duduk sendiri di kelas. Entah, mengapa perasaanku tidak enak begini.
Pak Hilmi bilang bahwa sekarang ada pembagian kelompok pelajaran Bahasa Sunda. Aku tidak tau kelompokku bersama siapa.
“Sa, aku boleh tidak sekelompok bersamamu?” Tanyaku
“Aku sudah cukup. Kelompok yang lain sepertinya juga sudah cukup.” Jawab Elisa
“Ya sudahlah aku sendiri saja.” Pintaku dengan nada yang malas
Saat mengerjakan tugas kelompok tiba-tiba ada seorang wanita berambut panjang memakai baju seragam sekolahanku. Dan ternyata… Itu Firda. Firda berkata dia ingin mengajakku untuk kerja kelompok bersamaku.
“Ken jangan mau kerja kelompok bersamanya. Kamu bakal dikacangin sama dia!”
“Siapa yang berkata seperti itu padaku? Sepertinya, tidak ada satu orang pun di sebelahku? Di sebelahku hanya tembok dan Firda. Hmm.. mungkin hanya perasaanku saja kali ya.” Tanyaku dalam hati
“Coba kamu tengok ke belakang…” Katanya sambil bersiul
Astaga!!! Wanita bermuka hancur yang penuh darah!! Ternyata dia yang dari tadi menghasut obrolanku dengan Firda! Siapa dia? Kenapa tiba-tiba dia Ada di sebelahku? Karena aku kaget, aku menendang kursi ke arah belakang.
“Dih, kenapa kamu Ken?” Tanya Arka kebingungan
“Aa…Ddd…aaa… Sssesesese…taa..nnn!!!” Jawabku sambil menjerit ketakutan
“Hah? setan? Hahaha yang namanya setan itu ada di malam hari. Bukan di Siang hari. Biasanya saja kamu tidak seperti itu.” Katanya sambil tertawa terbahak-bahak
Tiba-tiba Arka tertiban proyektor yang jatuh secara drastis. Lalu, aku bingung mengapa Arka ketiban proyektor secara tiba-tiba? Aneh sekali. Arka pun dibawa ke UKS. Lalu, aku bingung mengapa saat aku mengantar Arka ke UKS kakiku sangat berat untuk dilepaskan.
“Woy!!! Tungguin aku!” Teriaku karena aku ketakutan di kelas
Aku pun terkunci di dalam kelas.
“Hai Ken”
“HAAAA! Jangan ganggu aku aku tidak bermaksud mengganggumu maafkan aku!” pintaku sambil menjerit dan menutup mukaku sambil jongkok
“Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya ingin kamu menemaniku agar aku dan kamu tidak kesepian. Tadi, yang menjatuhkan proyektor ke badan Arka itu adalah aku.” Ucapnya dengan nada datar
“Na… na… namamu siapa?” Tanyaku sambil ketakutan
“Namaku Joya. Sebut saja Oya. Aku adalah anak dari pemilik Kuburan ini. Kini, kamu telah menjadi hantu. Bukan lagi manusia.” Katanya sambil memegang rambutnya yang sangat panjang
“Kuburan? Ini sekolah! Bukan kuburan! Aku ini sudah menjadi hantu? Ini dunia N-y-a-t-a!” Kataku sambil membentak
“Kamu tidak mempercayainya? Coba saja kamu mengambil pulpen. Setelah itu, bawa pulpen itu untukku.” Pintanya sambil menatapku dengan muka jutek
Aku hanya bisa terdiam.
Ternyata apa yang diomongkan Joya itu benar.
“Ini bukan lagi sekolah. Tetapi, kuburan. Kuburan keegoisan. Dimana manusia yang mengunjungi tempat ini lalu menyepelekannya/tidak percaya kalau disini ada hantu lalu, mereka akan kubunuh secara kejam! Karena teman-temanmu selama ini sebenarnya tidak ada.” Ucapnya dengan suara yang tegas
“Jadi, selama ini aku tidak sekolah? Alasanku tidak mempunyai teman, itu?” Tanyaku sambil kebingungan
“Pertanyaanmu benar semua. Apakah kamu ingin menjadi sahabatku? Ingat! Kamu ini hantu. Bukan lagi manusia!” Bentaknya
“Baiklah. Mengapa aku bukan lagi manusia?” Tanyaku dengan menjerit
“Karena, kamu tadi sudah menanggapi Arka dengan menjawab DISINI ADA SETAN!” Jawabnya dengan mata yang tajam
Tiba-tiba Oya itu menjelaskan semuanya padaku. Bahwa, dia anak pemilik sekolah ini yang telah meninggal karena bunuh diri. Bunuh diri karena dirinya selalu sendiri tak ada satu orang pun yang menemaninya. Sepertiku. Selain itu, dia juga sering dibully oleh teman-temannya yang tidak suka sama Oya.
“Wah, betapa malang hidupmu. Yang sabar ya Oya masih ada aku yang menjagamu. Hidupmu dan Hidupku sama.” Kataku sambil meneteskan air mata
“Iya terimakasih telah memberi motivasiku.” Ucapnya sambil tersenyum di depan hadapanku
“Iya sama-sama dengan senang hati.” Balasku dengan senyuman yang lebih lebar darinya
Hidupku hanya bersama Oya. Aku dan Oya bagaikan adik kakak. Kemana-mana selalu bersama. Menampangkan diri di depan manusia yang ke kuburan. Agar manusia itu tidak mengganggu penghuni Kuburan ini seperti Aku, Oya, Arka dan yang lainnya. Tetapi sayang, Arka beda dunia denganku. Waktu pun cepat berlalu. Sudah 3 hari aku bersama Oya.
Lalu, apa yang akan terjadi?
“Oya, apakah ini sudah 3 hari?” Tanyaku dengan peluh yang bercucuran
“Hmm.. iya ken. Aku ingin pergi ke sana dulu ya. Maafkan aku kalau aku sudah membentakmu dan mengambil rohmu hanya untuk menemaniku bermain. Kembalilah kepada Jasadmu. Selamat tinggal sahabat dunia lainku.” Kata Oya sambil berjalan menuju pintu yang besar entah dia kemana
Aku pun menangis lalu kembali ke jasadku. Aku pun membuka mataku ke dunia nyata.
“Arka? Kamu masih ada disini?” Tanyaku
“Memangnya kamu pikir aku dimana Kennn?” Tanyanya sambil menahan tertawa
“Bubububu…kannya kamu tertiban proyektor?” Tanyaku sambil grogi
“Hahaha dasar indigo. Aku ini di sebelahmu dari tadi. Tapi tadi aku hanya tertiban buku di atas proyektor.” Jawabnya sambil tertawa
“Tadi kamu terkunci disini dan tidur tetapi kamu sekarang sudah sadar.” Ucap Firda sambil mengerjakan Prnya
Apa yang aku alami tadi? Siapa wanita Oya yang cantik berambut panjang itu? Mengapa dia bilang aku ini sudah menjadi hantu? Mungkin itu hanya mimpi.
Astaga!!! Rupanya Sahabat hantuku.
Cerpen Karangan: Niken Yeckti Rachmahatmi Adiputra
Blog: http://nikenyecktiradiputra.blogspot.com
Facebook: Alditsa Niken Sadega Episode II
Dengan menulis aku akan bisa mengungkapkan kalimat dan cerita hidupku. Bahkan perasaanku.
Saat di kelas aku duduk sendiri di kelas. Entah, mengapa perasaanku tidak enak begini.
Pak Hilmi bilang bahwa sekarang ada pembagian kelompok pelajaran Bahasa Sunda. Aku tidak tau kelompokku bersama siapa.
“Sa, aku boleh tidak sekelompok bersamamu?” Tanyaku
“Aku sudah cukup. Kelompok yang lain sepertinya juga sudah cukup.” Jawab Elisa
“Ya sudahlah aku sendiri saja.” Pintaku dengan nada yang malas
Saat mengerjakan tugas kelompok tiba-tiba ada seorang wanita berambut panjang memakai baju seragam sekolahanku. Dan ternyata… Itu Firda. Firda berkata dia ingin mengajakku untuk kerja kelompok bersamaku.
“Ken jangan mau kerja kelompok bersamanya. Kamu bakal dikacangin sama dia!”
“Siapa yang berkata seperti itu padaku? Sepertinya, tidak ada satu orang pun di sebelahku? Di sebelahku hanya tembok dan Firda. Hmm.. mungkin hanya perasaanku saja kali ya.” Tanyaku dalam hati
“Coba kamu tengok ke belakang…” Katanya sambil bersiul
Astaga!!! Wanita bermuka hancur yang penuh darah!! Ternyata dia yang dari tadi menghasut obrolanku dengan Firda! Siapa dia? Kenapa tiba-tiba dia Ada di sebelahku? Karena aku kaget, aku menendang kursi ke arah belakang.
“Dih, kenapa kamu Ken?” Tanya Arka kebingungan
“Aa…Ddd…aaa… Sssesesese…taa..nnn!!!” Jawabku sambil menjerit ketakutan
“Hah? setan? Hahaha yang namanya setan itu ada di malam hari. Bukan di Siang hari. Biasanya saja kamu tidak seperti itu.” Katanya sambil tertawa terbahak-bahak
Tiba-tiba Arka tertiban proyektor yang jatuh secara drastis. Lalu, aku bingung mengapa Arka ketiban proyektor secara tiba-tiba? Aneh sekali. Arka pun dibawa ke UKS. Lalu, aku bingung mengapa saat aku mengantar Arka ke UKS kakiku sangat berat untuk dilepaskan.
“Woy!!! Tungguin aku!” Teriaku karena aku ketakutan di kelas
Aku pun terkunci di dalam kelas.
“Hai Ken”
“HAAAA! Jangan ganggu aku aku tidak bermaksud mengganggumu maafkan aku!” pintaku sambil menjerit dan menutup mukaku sambil jongkok
“Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya ingin kamu menemaniku agar aku dan kamu tidak kesepian. Tadi, yang menjatuhkan proyektor ke badan Arka itu adalah aku.” Ucapnya dengan nada datar
“Na… na… namamu siapa?” Tanyaku sambil ketakutan
“Namaku Joya. Sebut saja Oya. Aku adalah anak dari pemilik Kuburan ini. Kini, kamu telah menjadi hantu. Bukan lagi manusia.” Katanya sambil memegang rambutnya yang sangat panjang
“Kuburan? Ini sekolah! Bukan kuburan! Aku ini sudah menjadi hantu? Ini dunia N-y-a-t-a!” Kataku sambil membentak
“Kamu tidak mempercayainya? Coba saja kamu mengambil pulpen. Setelah itu, bawa pulpen itu untukku.” Pintanya sambil menatapku dengan muka jutek
Aku hanya bisa terdiam.
Ternyata apa yang diomongkan Joya itu benar.
“Ini bukan lagi sekolah. Tetapi, kuburan. Kuburan keegoisan. Dimana manusia yang mengunjungi tempat ini lalu menyepelekannya/tidak percaya kalau disini ada hantu lalu, mereka akan kubunuh secara kejam! Karena teman-temanmu selama ini sebenarnya tidak ada.” Ucapnya dengan suara yang tegas
“Jadi, selama ini aku tidak sekolah? Alasanku tidak mempunyai teman, itu?” Tanyaku sambil kebingungan
“Pertanyaanmu benar semua. Apakah kamu ingin menjadi sahabatku? Ingat! Kamu ini hantu. Bukan lagi manusia!” Bentaknya
“Baiklah. Mengapa aku bukan lagi manusia?” Tanyaku dengan menjerit
“Karena, kamu tadi sudah menanggapi Arka dengan menjawab DISINI ADA SETAN!” Jawabnya dengan mata yang tajam
Tiba-tiba Oya itu menjelaskan semuanya padaku. Bahwa, dia anak pemilik sekolah ini yang telah meninggal karena bunuh diri. Bunuh diri karena dirinya selalu sendiri tak ada satu orang pun yang menemaninya. Sepertiku. Selain itu, dia juga sering dibully oleh teman-temannya yang tidak suka sama Oya.
“Wah, betapa malang hidupmu. Yang sabar ya Oya masih ada aku yang menjagamu. Hidupmu dan Hidupku sama.” Kataku sambil meneteskan air mata
“Iya terimakasih telah memberi motivasiku.” Ucapnya sambil tersenyum di depan hadapanku
“Iya sama-sama dengan senang hati.” Balasku dengan senyuman yang lebih lebar darinya
Hidupku hanya bersama Oya. Aku dan Oya bagaikan adik kakak. Kemana-mana selalu bersama. Menampangkan diri di depan manusia yang ke kuburan. Agar manusia itu tidak mengganggu penghuni Kuburan ini seperti Aku, Oya, Arka dan yang lainnya. Tetapi sayang, Arka beda dunia denganku. Waktu pun cepat berlalu. Sudah 3 hari aku bersama Oya.
Lalu, apa yang akan terjadi?
“Oya, apakah ini sudah 3 hari?” Tanyaku dengan peluh yang bercucuran
“Hmm.. iya ken. Aku ingin pergi ke sana dulu ya. Maafkan aku kalau aku sudah membentakmu dan mengambil rohmu hanya untuk menemaniku bermain. Kembalilah kepada Jasadmu. Selamat tinggal sahabat dunia lainku.” Kata Oya sambil berjalan menuju pintu yang besar entah dia kemana
Aku pun menangis lalu kembali ke jasadku. Aku pun membuka mataku ke dunia nyata.
“Arka? Kamu masih ada disini?” Tanyaku
“Memangnya kamu pikir aku dimana Kennn?” Tanyanya sambil menahan tertawa
“Bubububu…kannya kamu tertiban proyektor?” Tanyaku sambil grogi
“Hahaha dasar indigo. Aku ini di sebelahmu dari tadi. Tapi tadi aku hanya tertiban buku di atas proyektor.” Jawabnya sambil tertawa
“Tadi kamu terkunci disini dan tidur tetapi kamu sekarang sudah sadar.” Ucap Firda sambil mengerjakan Prnya
Apa yang aku alami tadi? Siapa wanita Oya yang cantik berambut panjang itu? Mengapa dia bilang aku ini sudah menjadi hantu? Mungkin itu hanya mimpi.
Astaga!!! Rupanya Sahabat hantuku.
Cerpen Karangan: Niken Yeckti Rachmahatmi Adiputra
Blog: http://nikenyecktiradiputra.blogspot.com
Facebook: Alditsa Niken Sadega Episode II
Dengan menulis aku akan bisa mengungkapkan kalimat dan cerita hidupku. Bahkan perasaanku.
Horror Side
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Malam ini, ya saat sepi. Aku tidak bisa tidur karena terus membayangkan film horor yang aku tonton tadi.
Aku memaksa mataku untuk terlelap dan istirahat. Tapi, mataku selalu membantah dan melihat suatu sosok yang tidak lazim. Saat itu aku berteriak. Tapi, mulutku terasa disekap. Ruang kamarku tiba-tiba gelap. Aku tidak bisa melihat satu benda pun. Ak.. aku melihat..
“Hey, siapa kau? Jawab a.. ak..”
Aku merasa kakiku ditarik oleh tangan dengan permukaan yang sangat kasar, berkuku tajam. “Argghh.. siapa kau? Ibu.. ayah.. kakak, kumohon jangan main-main!”.
Aku menenggelamkan seluruh tubuhku ke selimut tebalku, namun lagi-lagi ditariknya. Aku mengumpulkan kekuatanku untuk lari, menerjang ke arah pintu.
“Sial, ini terkunci”. Keringat dingin mulai membasahi tubuh dan rambutku, tiba-tiba sosok itu muncul tepat di hadapanku, aku bisa melihat matanya yang berkilat tajam sangat mengerikan, perlahan tubuhku merosot terduduk bersandar di pintu dengan napas menggebu-gebu.
Saat sosok itu menangkapku, aku berlari menjauh menuju sudut kamarku. “Bu.. ayah..”
Srek srek srek srek
Sosok itu muncul lagi, langkah kaki yang terdengar sangat dipaksakan. Dalam gelap aku tidak bisa memastikan bagaimana sosok itu, namun aku bisa merasakan keberadaan sosok mengerikan itu yang ada di dekatku. Aku mencoba berdiri dan berlari lagi, namun aku tersandung dan tubuhku masuk ke bawah ranjang tempat tidurku. Uhh situasi yang sangat menguntungkan.
“Argghh”. Untuk kesekian kalinya kakiku ditarik oleh tangan kasar itu, aku diseret menuju tembok, sosok itu menghimpitku, aku berpikir mencari cara untuk terlepaskan, pura-pura terjatuh dan langsung berlari. Aku melempar beberapa buku yang tersusun rapi di meja belajar di samping tubuhku. Sosok itu menghilang! Fuihh lega. Tiba-tiba
Tsss
Aku mendongakkan kepalaku, dan sosok itu tepat berada di atas kepalaku, darah dari tubuhnya menetes tepat di wajahku. Aku ingin berteriak, tapi mulut ini kembali disekap, tidak ada suara yang dapat keluar dari mulutku, lututku lemas, aku sangat ketakutan.
Pukk
Sebuah telapak tangan menepuk bahuku keras, aku hanya dapat berlari ke setiap sudut kamar yang aku yakin sangat berantakan saat ini, aku bermandikan keringat dingin, sosok itu kembali muncul, kali ini tepat di hadapan wajahku, sangat dekat!
“Argghh..”
“Bangun Libby, bangun, hey bangun”.
Aku merasa ada yang memanggil namaku. Kenapa kali ini mataku terasa melihat cahaya. Aku menggesek mataku dengan tangan dan. Ah sosok itu!
“Ahh.. itu.. i.. itu, eee.e.. ibu?”
“Apa yang terjadi denganmu hey? Berteriak dengan lantang di malam hari”.
Aku menatap sekelilingku, kamarku yang tadinya hitam gelap, kini sangat terang. Tidak ada hal yang aneh disini.
“A.. a.. apakah aku bermimpi?”
Ibuku hanya mendecak kesal, pergi menjauh dari kamarku. Ia membawa sebuah gayung berisi air.
“Jika kau masih berharap bisa sarapan, segera bangun dan mandi. Ibu akan pergi limabelas menit lagi. Jangan sampai kau terlambat ke sekolah”. Omel ibuku, aku masih saja terdiam.
“Heah, kau sangat susah dibangunkan”. Ucapnya sebelum benar-benar pergi.
Aku lemah, memaksakan tubuhku untuk bangun. Aku merapikan tempat tidurku dan pergi bergegas untuk mandi. Saat shower itu kugunakan untuk membasahi tubuhku, aku teringat tetesan darah tadi. “Kumohon, aku ingin pikiranku segar kembali”.
Aku segera mengganti bajuku dan pergi ke meja makan untuk sarapan. Aku menghela napas, saat roti menuju mulutku aku selalu teringat akan mimpiku tadi. “Ah.. tak usah kupikirkan”. Nyamm..
“Libby, ibu akan berangkat sekarang”. Teriak ibuku.
“Libby, ayo cepat!” Teriak ayah yang akan menuju kantornya yang bersebelahan dengan sekolahku.
“Ya sebentar”. Aku sigap melangkahkan kaki ini untuk pergi.
Aku membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang.
“Yah, ayo cepat. Ini sudah terlambat”.
Ayah, menolehkan perlahan kepalanya ke arahku.
“Argghh! Tidak, sosok itu”.
End
Cerpen Karangan: Andini Fitriani
Facebook: Andini Fitriani
Andini fitriani
Kp. Cikondang, Kec. Pangalengan
SMAN 1 Soreang
Aku memaksa mataku untuk terlelap dan istirahat. Tapi, mataku selalu membantah dan melihat suatu sosok yang tidak lazim. Saat itu aku berteriak. Tapi, mulutku terasa disekap. Ruang kamarku tiba-tiba gelap. Aku tidak bisa melihat satu benda pun. Ak.. aku melihat..
“Hey, siapa kau? Jawab a.. ak..”
Aku merasa kakiku ditarik oleh tangan dengan permukaan yang sangat kasar, berkuku tajam. “Argghh.. siapa kau? Ibu.. ayah.. kakak, kumohon jangan main-main!”.
Aku menenggelamkan seluruh tubuhku ke selimut tebalku, namun lagi-lagi ditariknya. Aku mengumpulkan kekuatanku untuk lari, menerjang ke arah pintu.
“Sial, ini terkunci”. Keringat dingin mulai membasahi tubuh dan rambutku, tiba-tiba sosok itu muncul tepat di hadapanku, aku bisa melihat matanya yang berkilat tajam sangat mengerikan, perlahan tubuhku merosot terduduk bersandar di pintu dengan napas menggebu-gebu.
Saat sosok itu menangkapku, aku berlari menjauh menuju sudut kamarku. “Bu.. ayah..”
Srek srek srek srek
Sosok itu muncul lagi, langkah kaki yang terdengar sangat dipaksakan. Dalam gelap aku tidak bisa memastikan bagaimana sosok itu, namun aku bisa merasakan keberadaan sosok mengerikan itu yang ada di dekatku. Aku mencoba berdiri dan berlari lagi, namun aku tersandung dan tubuhku masuk ke bawah ranjang tempat tidurku. Uhh situasi yang sangat menguntungkan.
“Argghh”. Untuk kesekian kalinya kakiku ditarik oleh tangan kasar itu, aku diseret menuju tembok, sosok itu menghimpitku, aku berpikir mencari cara untuk terlepaskan, pura-pura terjatuh dan langsung berlari. Aku melempar beberapa buku yang tersusun rapi di meja belajar di samping tubuhku. Sosok itu menghilang! Fuihh lega. Tiba-tiba
Tsss
Aku mendongakkan kepalaku, dan sosok itu tepat berada di atas kepalaku, darah dari tubuhnya menetes tepat di wajahku. Aku ingin berteriak, tapi mulut ini kembali disekap, tidak ada suara yang dapat keluar dari mulutku, lututku lemas, aku sangat ketakutan.
Pukk
Sebuah telapak tangan menepuk bahuku keras, aku hanya dapat berlari ke setiap sudut kamar yang aku yakin sangat berantakan saat ini, aku bermandikan keringat dingin, sosok itu kembali muncul, kali ini tepat di hadapan wajahku, sangat dekat!
“Argghh..”
“Bangun Libby, bangun, hey bangun”.
Aku merasa ada yang memanggil namaku. Kenapa kali ini mataku terasa melihat cahaya. Aku menggesek mataku dengan tangan dan. Ah sosok itu!
“Ahh.. itu.. i.. itu, eee.e.. ibu?”
“Apa yang terjadi denganmu hey? Berteriak dengan lantang di malam hari”.
Aku menatap sekelilingku, kamarku yang tadinya hitam gelap, kini sangat terang. Tidak ada hal yang aneh disini.
“A.. a.. apakah aku bermimpi?”
Ibuku hanya mendecak kesal, pergi menjauh dari kamarku. Ia membawa sebuah gayung berisi air.
“Jika kau masih berharap bisa sarapan, segera bangun dan mandi. Ibu akan pergi limabelas menit lagi. Jangan sampai kau terlambat ke sekolah”. Omel ibuku, aku masih saja terdiam.
“Heah, kau sangat susah dibangunkan”. Ucapnya sebelum benar-benar pergi.
Aku lemah, memaksakan tubuhku untuk bangun. Aku merapikan tempat tidurku dan pergi bergegas untuk mandi. Saat shower itu kugunakan untuk membasahi tubuhku, aku teringat tetesan darah tadi. “Kumohon, aku ingin pikiranku segar kembali”.
Aku segera mengganti bajuku dan pergi ke meja makan untuk sarapan. Aku menghela napas, saat roti menuju mulutku aku selalu teringat akan mimpiku tadi. “Ah.. tak usah kupikirkan”. Nyamm..
“Libby, ibu akan berangkat sekarang”. Teriak ibuku.
“Libby, ayo cepat!” Teriak ayah yang akan menuju kantornya yang bersebelahan dengan sekolahku.
“Ya sebentar”. Aku sigap melangkahkan kaki ini untuk pergi.
Aku membuka pintu mobil dan duduk di kursi belakang.
“Yah, ayo cepat. Ini sudah terlambat”.
Ayah, menolehkan perlahan kepalanya ke arahku.
“Argghh! Tidak, sosok itu”.
End
Cerpen Karangan: Andini Fitriani
Facebook: Andini Fitriani
Andini fitriani
Kp. Cikondang, Kec. Pangalengan
SMAN 1 Soreang
Rumah Angker
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Hening malam itu begitu mencengang nama saya Natan yang sering pulang malam lewat di depat rumah itu, suasana begitu misterius keadaan bagai malam tiada habisnya dengan waktu yang terus berjalan seakan berjalan sangat lama. Rumah itu begitu berkesan bagi sang pemilik, dulu pemilik rumah itu meninggal akibat ulah para pemburu bayaran, putri mereka yang begitu cantik membuat nafsu bejat sang ayah menggerutu ke uluh hati, bisikan malaikat-malaikat tuhan sudah tak terhiraukan lagi di hati, telinganya. Seruan para setan begitu terjerat di hati tiada disangka ulah itu terjadi saat sang istri sekaligus ibu dari gadis cantik bernama Renna itu tak berada di rumah.
“Renn bisa tolong ayah nggak, tolong kamu ambilin minuman ayah di ruang tenggah?” modus dari pikiran bejat ayahnya. Renna yang patuh dan tak berfikiran sampai kesitu pun, mengerjakan apa yan diperintah ayahnya.
“Ini yah, minumanya dingin?, apa mau dibuatin yang baru?” sambil menaruh minuman itu di meja kecil dekat tempat tidur ayahnya.
“Nggak sayang, terimakasih. Sekarang kamu tolong tutup pintu itu, lalu duduk di samping ayah, ayah mau bicara sama kamu sayang!!!” dengan menatap wajah sang ayah yang tampak serius. Tanpa bicara apapun dia menuruti perkataan ayahnya, lalu dia mendekat, dan duduk di samping ayahnya yang berada di atas tempat tidur yang lumayan luas.
“Kamu tu cantik, sayang” belai rambut Renna, yang Nampak indah. Kelakuan itu pun, dilakukan dengan memaksa anaknya untuk melayani nafsunya, Jeritan sang anak yang meronta tak dihiraukan yang terpenting kepuasanya. Saat bersamaan istrinya pulang, dan membuka pintu kamar, betapa kagetnya seorang ibu melihat anaknya dipaksa melayani nafsu sang ayah. Sampai kemudian setelah bercerai dengan sang suami, dan membawa Renna bersamanya.
Gelap mata batinya waktu itu, melihat Renna menanggis di pelukanya sambil berkata “mengapa ayah tega?” tanpa menjawab ibu Renna kemudian pergi mencari orang untuk dapat membunuh mantan suaminya itu. Malam itu begitu sunyi Pak. Imron tiada bekas sesal, dia tertidur dengan pulasnya, begitu mudah para pembunuh itu masuk, dan langsung masuk menuju ke kamar Pak. Imron, tanpa berfikir panjang tusukan pisau itu tepat di bagian hati berulang-ulang Pak. Imron berteriak, berulang kali pula tusukan itu mengenai bagian perut itu. Darah yang membekas di kamar itu begitu jelas di atas sebuah kasur, sampai-sampai tiada yang berani masuk untuk membersihkannya karena suara jeritan, dan bagian tubuh Pak. Imron yang mengenaskan sering terdengar, dan terlihat oleh para tetangga di sekitaran rumah itu sambil meminta tolong.
Beberapa tahun setelah kejadian ibu gadis cantik itu tertangkap polisi dengan para pembunuh yang dia bayar, tetapi arwah Pak. Imron itu tetap bergentayangan sampai sekarang. Entah apa yang dia minta sampai-sampai dia tak bisa tenang, tetap menjadi hantu yang sering menampakan dirinya setiap pukul 01.00 WIB, sama seperti kejadian itu berlangsung. Ditambah bertahun-tahun setelah kejadian rumah itu tak pernah ditempati, setiap ada yang menempati pasti mereka terusik dengan kejadian itu, sama seperti saya yang berjalan menyusuri jalan petang dekat dengan rumah itu sepulang kerja tepatnya pukul 01.00 WIB, mata ini tak menyangka akan menangkap sosok itu begitu hancur tubuhnya dengan darah yang mengalir, sambil mulutnya meminta pertolongan. Kaki saya begitu terpaku di bumi, mulut begitu susah berteriak sampai saya akhirnya pingsan, dan ditolong warga tetangga saya kemudian dibawah ke rumah, setelah kejadian itu saya benar-benar tak ingin melewati rumah itu lagi. Tetapi Renna menguatkan hati saya untuk dapat lebih percaya dengan iman saya, benar Renna yang kumaksud ialah Renna yang saya ceritakan yang sekarang menjadi pendamping hidup saya, meski seperti itulah masa lalunya saya tetap terima dia apa adanya.
By. @kikisyaumi
Catatan: cerita ini hanya fiksi belakang bila ada kesamaan nama atau sebagainya mohon dimaafkan, terimakasih.
Cerpen Karangan: Rizky Syaumi Kusuma
Facebook: Rizky Syaumi Kusuma
Namaku Rizky Syaumi kusuma, rumah gue dijl. tamn safari 2, sekolah gue di SMP Negeri 2 Prigen
“Renn bisa tolong ayah nggak, tolong kamu ambilin minuman ayah di ruang tenggah?” modus dari pikiran bejat ayahnya. Renna yang patuh dan tak berfikiran sampai kesitu pun, mengerjakan apa yan diperintah ayahnya.
“Ini yah, minumanya dingin?, apa mau dibuatin yang baru?” sambil menaruh minuman itu di meja kecil dekat tempat tidur ayahnya.
“Nggak sayang, terimakasih. Sekarang kamu tolong tutup pintu itu, lalu duduk di samping ayah, ayah mau bicara sama kamu sayang!!!” dengan menatap wajah sang ayah yang tampak serius. Tanpa bicara apapun dia menuruti perkataan ayahnya, lalu dia mendekat, dan duduk di samping ayahnya yang berada di atas tempat tidur yang lumayan luas.
“Kamu tu cantik, sayang” belai rambut Renna, yang Nampak indah. Kelakuan itu pun, dilakukan dengan memaksa anaknya untuk melayani nafsunya, Jeritan sang anak yang meronta tak dihiraukan yang terpenting kepuasanya. Saat bersamaan istrinya pulang, dan membuka pintu kamar, betapa kagetnya seorang ibu melihat anaknya dipaksa melayani nafsu sang ayah. Sampai kemudian setelah bercerai dengan sang suami, dan membawa Renna bersamanya.
Gelap mata batinya waktu itu, melihat Renna menanggis di pelukanya sambil berkata “mengapa ayah tega?” tanpa menjawab ibu Renna kemudian pergi mencari orang untuk dapat membunuh mantan suaminya itu. Malam itu begitu sunyi Pak. Imron tiada bekas sesal, dia tertidur dengan pulasnya, begitu mudah para pembunuh itu masuk, dan langsung masuk menuju ke kamar Pak. Imron, tanpa berfikir panjang tusukan pisau itu tepat di bagian hati berulang-ulang Pak. Imron berteriak, berulang kali pula tusukan itu mengenai bagian perut itu. Darah yang membekas di kamar itu begitu jelas di atas sebuah kasur, sampai-sampai tiada yang berani masuk untuk membersihkannya karena suara jeritan, dan bagian tubuh Pak. Imron yang mengenaskan sering terdengar, dan terlihat oleh para tetangga di sekitaran rumah itu sambil meminta tolong.
Beberapa tahun setelah kejadian ibu gadis cantik itu tertangkap polisi dengan para pembunuh yang dia bayar, tetapi arwah Pak. Imron itu tetap bergentayangan sampai sekarang. Entah apa yang dia minta sampai-sampai dia tak bisa tenang, tetap menjadi hantu yang sering menampakan dirinya setiap pukul 01.00 WIB, sama seperti kejadian itu berlangsung. Ditambah bertahun-tahun setelah kejadian rumah itu tak pernah ditempati, setiap ada yang menempati pasti mereka terusik dengan kejadian itu, sama seperti saya yang berjalan menyusuri jalan petang dekat dengan rumah itu sepulang kerja tepatnya pukul 01.00 WIB, mata ini tak menyangka akan menangkap sosok itu begitu hancur tubuhnya dengan darah yang mengalir, sambil mulutnya meminta pertolongan. Kaki saya begitu terpaku di bumi, mulut begitu susah berteriak sampai saya akhirnya pingsan, dan ditolong warga tetangga saya kemudian dibawah ke rumah, setelah kejadian itu saya benar-benar tak ingin melewati rumah itu lagi. Tetapi Renna menguatkan hati saya untuk dapat lebih percaya dengan iman saya, benar Renna yang kumaksud ialah Renna yang saya ceritakan yang sekarang menjadi pendamping hidup saya, meski seperti itulah masa lalunya saya tetap terima dia apa adanya.
By. @kikisyaumi
Catatan: cerita ini hanya fiksi belakang bila ada kesamaan nama atau sebagainya mohon dimaafkan, terimakasih.
Cerpen Karangan: Rizky Syaumi Kusuma
Facebook: Rizky Syaumi Kusuma
Namaku Rizky Syaumi kusuma, rumah gue dijl. tamn safari 2, sekolah gue di SMP Negeri 2 Prigen
Sekolahku Angker
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Nama ku ana, aku bersekolah di salah satu sekolah menengah pertama negeri yang ada di jakarta. Semenjak aku masuk ke sekolah itu aku tidak tahu letak dan gedung sekolahnya karena pendaftaran sekolah hanya dari online dan aku baru tahu gedung sekolah pas hari pertama mos (masa orientasi siswa) saat mos aku ditemani mama ku, sebelum kegiatan mos dimulai aku dan mama sejenak berkeliling-keliling gedung sekolah yang kelihatannya agak sedikit aneh karena gedung sekolah baru ku ini kurang terawat.
Tujuan pertama yang kita ingin lihat adalah kantin, yaapp dugaanku ternyata benar bahwa kantinnya sedikit lusuh dan hanya ada 5 tempat jajanan. Bukan hanya itu yang membuat aku terkejut, tapi jalan menuju kantinnya itu melewati lorong yang agak panjang dan tidak ada lampu sama sekali. Sesekali mama berkata “ih kok begini ya?” dan aku hanya bisa menaikkan pundak secara tidak langsung aku berkata “gak tau deh”. “Oke kantin sudah kita lihat.. sekarang tujuan selanjutnya kemana ya?” Tanya ku kepada mama. Mama berkata “kita ke toilet saja na, mungkin toiletnya tidak terlalu buruk seperti kantin ini”. Yaa mungkin mama ada benarnya juga mungkin toilet tidak lebih buruk dari kantin ini, ucapku dalam hati.
“Kak toilet dimana ya?” Aku bertanya kepada kakak kelas yang ada di lorong kantin. “Kamu lurus aja nanti belok kanan lalu ada tulisan toilet sebelah kanan..” jawab kakak kelas yang aku tidak tahu namanya. “Oh makasih ya kak” jawabku. Kemudian aku dan mama mulai menelusuri lorong itu, mengikuti arahan kakak kelas tadi. Setelah sampai di toilet aku sedikit bingung karena toilet ini sangat berbeda dengan toilet sd ku dulu, tapi aku tetap merasa sanggup sekolah disini.
Setelah beberapa bulan aku sekolah disini, mulai beredaran berita-berita miring tentang sekolah ini, salah satunya adalah berita tentang sekolah ini dulunya bekas rumah sakit belanda selain itu ada juga berita kalau ruang kelasku ini banyak hantu-hantu belandanya gitu.
Awalnya aku memang tidak percaya tentang kabar yang beredar itu tapi setelah 2 tahun berjalan aku sekolah di smp itu aku mulai percaya tentang berita yang sudah beredar itu. Faktanya pas teman sekelas ku ada yang mengikuti kegiatan pelantikan paskibra yang mengharuskan anggota paskib menginap di sekolah selama satu malam, selama satu malam itu dia merasakan banyak keanehan di sekolah. Semua keanehan itu dia ceritakan kepada ku, mulai dari pintu kelas yang kebuka sendiri pada malam hari sampai dia melihat suatu penampakan di tangga lantai 1 sekolah.
Cerpen Karangan: Cut Bilqis Putri Afla
Ini merupakan cerita pendek karangan Cut Bilqi
Tujuan pertama yang kita ingin lihat adalah kantin, yaapp dugaanku ternyata benar bahwa kantinnya sedikit lusuh dan hanya ada 5 tempat jajanan. Bukan hanya itu yang membuat aku terkejut, tapi jalan menuju kantinnya itu melewati lorong yang agak panjang dan tidak ada lampu sama sekali. Sesekali mama berkata “ih kok begini ya?” dan aku hanya bisa menaikkan pundak secara tidak langsung aku berkata “gak tau deh”. “Oke kantin sudah kita lihat.. sekarang tujuan selanjutnya kemana ya?” Tanya ku kepada mama. Mama berkata “kita ke toilet saja na, mungkin toiletnya tidak terlalu buruk seperti kantin ini”. Yaa mungkin mama ada benarnya juga mungkin toilet tidak lebih buruk dari kantin ini, ucapku dalam hati.
“Kak toilet dimana ya?” Aku bertanya kepada kakak kelas yang ada di lorong kantin. “Kamu lurus aja nanti belok kanan lalu ada tulisan toilet sebelah kanan..” jawab kakak kelas yang aku tidak tahu namanya. “Oh makasih ya kak” jawabku. Kemudian aku dan mama mulai menelusuri lorong itu, mengikuti arahan kakak kelas tadi. Setelah sampai di toilet aku sedikit bingung karena toilet ini sangat berbeda dengan toilet sd ku dulu, tapi aku tetap merasa sanggup sekolah disini.
Setelah beberapa bulan aku sekolah disini, mulai beredaran berita-berita miring tentang sekolah ini, salah satunya adalah berita tentang sekolah ini dulunya bekas rumah sakit belanda selain itu ada juga berita kalau ruang kelasku ini banyak hantu-hantu belandanya gitu.
Awalnya aku memang tidak percaya tentang kabar yang beredar itu tapi setelah 2 tahun berjalan aku sekolah di smp itu aku mulai percaya tentang berita yang sudah beredar itu. Faktanya pas teman sekelas ku ada yang mengikuti kegiatan pelantikan paskibra yang mengharuskan anggota paskib menginap di sekolah selama satu malam, selama satu malam itu dia merasakan banyak keanehan di sekolah. Semua keanehan itu dia ceritakan kepada ku, mulai dari pintu kelas yang kebuka sendiri pada malam hari sampai dia melihat suatu penampakan di tangga lantai 1 sekolah.
Cerpen Karangan: Cut Bilqis Putri Afla
Ini merupakan cerita pendek karangan Cut Bilqi
Hear Me? Miss Me?
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Namaku Megumi, aku bersekolah di SMAK SSang Timur (Tomang). Aku mempunyai sahabat bernama Monica, yang biasa kupanggil Monik. Setiap hari aku selalu bersama-sama dengannya, apalagi kami petugas agenda.
“Hmm… Megumi, lu kenal cowok itu gak?” Tanya Monik.
“Nggak lah, gue gak punya kenalan cowok kecuali kelas XI. Adik kelas aja gak kenal.” Jawabku pada Monik, “Lagian kenapa?”
“Lu nggak sadar apa? Tuh cowok ganteng banget..” Jelasnya.
“Ehm… Iya juga ya.” Kataku jujur.
“Tuh kan, lu mau comblangin gue sama dia gak?” Tawar Monik.
Hah? Monik suka dia? OMG..
“Terserah lu dah, gue comblangin deh..” Akhirnya aku jawab begitu.
Aku pun langsung tau namanya cowok yang ditaksir Monik adalah Christo, aku juga langsung tau nomor telponnya, tapi kok malah ada rasa cemburu gini ya?
Malamnya dia SMS aku.
“Hi, blm tidur?”
“Blm, knp emgny?”
“Haha gak papa.. Good night ya”
“Iy”
Esoknya, Monik datang kepadaku dengan wajah berseri-seri.
“Gue diSMS-in sama Christo! Isinya begini: ‘hai, kenalan yuk.’, ‘o iya boleh nama gue Monik.’, ‘ooo.. Salam kenal ya’ gitu!! Gregetan banget tau!!”
2 bulan kemudian, Monik tiba-tiba hampirin aku.
“Lu kok tega banget sama gue! Gue kecewa sama lu!!” Seru Monik.
“Ya, Mon! Gue bisa jelasin sama lu..” Kataku.
“Percuma! Gua benci sama LU!”
Ya, 2 hari yang lalu aku jadian dengan Christo. Tapi balasannya aku malah dibenci sama Monik.
2 bulan Monik sudah gak masuk sekolah, dia juga gak beri kabar ke sekolah. Bayangan Monik perlahan-lahan menghilang dari hidupku.
1 tahun silam, aku mendengar kabar bahwa Monik telah tiada. Aku bingung, mau lega atau senang. Aku melihat semua permakaman Monik. Saat semua sudah pulang, aku ke kuburan Monik. Aku diam, meratapi nisannya.
“Hear Me?”
“Siapa itu?”
“Miss Me?”
Suara misterius itu memenuhi benakku. Siapa sih? Tapi kuburan ini sangat sepi. Mana mungkin ada orang! Apa mungkin…
“Miss Me?”
Kubuka HPku, lalu kusuruh Pak Zayda untuk segera menjemputku.
SRUUU
Tetesan hujan membasahiku. Tetesan hujan..
Namun bewarna merah segar.
Hujan DARAH.
Tiba-tiba aku sudah berada di alam gelap, di dinding itu selalu terdengar suara “Hear Me? Miss Me?”
Aku baru tau bahwa itu suara Monik. “Megumi, Miss Me?”
Tiba-tiba ular putih melilit tubuhku. Setelah itu aku tidak sadar apa-apa lagi.
THE END
Cerpen Karangan: Bianca Rachela N.
Nama: Bianca Rachela N.
Umur: 10 tahun
Sekolah: SDK Sang Timur
Temenan yuk!
“Hmm… Megumi, lu kenal cowok itu gak?” Tanya Monik.
“Nggak lah, gue gak punya kenalan cowok kecuali kelas XI. Adik kelas aja gak kenal.” Jawabku pada Monik, “Lagian kenapa?”
“Lu nggak sadar apa? Tuh cowok ganteng banget..” Jelasnya.
“Ehm… Iya juga ya.” Kataku jujur.
“Tuh kan, lu mau comblangin gue sama dia gak?” Tawar Monik.
Hah? Monik suka dia? OMG..
“Terserah lu dah, gue comblangin deh..” Akhirnya aku jawab begitu.
Aku pun langsung tau namanya cowok yang ditaksir Monik adalah Christo, aku juga langsung tau nomor telponnya, tapi kok malah ada rasa cemburu gini ya?
Malamnya dia SMS aku.
“Hi, blm tidur?”
“Blm, knp emgny?”
“Haha gak papa.. Good night ya”
“Iy”
Esoknya, Monik datang kepadaku dengan wajah berseri-seri.
“Gue diSMS-in sama Christo! Isinya begini: ‘hai, kenalan yuk.’, ‘o iya boleh nama gue Monik.’, ‘ooo.. Salam kenal ya’ gitu!! Gregetan banget tau!!”
2 bulan kemudian, Monik tiba-tiba hampirin aku.
“Lu kok tega banget sama gue! Gue kecewa sama lu!!” Seru Monik.
“Ya, Mon! Gue bisa jelasin sama lu..” Kataku.
“Percuma! Gua benci sama LU!”
Ya, 2 hari yang lalu aku jadian dengan Christo. Tapi balasannya aku malah dibenci sama Monik.
2 bulan Monik sudah gak masuk sekolah, dia juga gak beri kabar ke sekolah. Bayangan Monik perlahan-lahan menghilang dari hidupku.
1 tahun silam, aku mendengar kabar bahwa Monik telah tiada. Aku bingung, mau lega atau senang. Aku melihat semua permakaman Monik. Saat semua sudah pulang, aku ke kuburan Monik. Aku diam, meratapi nisannya.
“Hear Me?”
“Siapa itu?”
“Miss Me?”
Suara misterius itu memenuhi benakku. Siapa sih? Tapi kuburan ini sangat sepi. Mana mungkin ada orang! Apa mungkin…
“Miss Me?”
Kubuka HPku, lalu kusuruh Pak Zayda untuk segera menjemputku.
SRUUU
Tetesan hujan membasahiku. Tetesan hujan..
Namun bewarna merah segar.
Hujan DARAH.
Tiba-tiba aku sudah berada di alam gelap, di dinding itu selalu terdengar suara “Hear Me? Miss Me?”
Aku baru tau bahwa itu suara Monik. “Megumi, Miss Me?”
Tiba-tiba ular putih melilit tubuhku. Setelah itu aku tidak sadar apa-apa lagi.
THE END
Cerpen Karangan: Bianca Rachela N.
Nama: Bianca Rachela N.
Umur: 10 tahun
Sekolah: SDK Sang Timur
Temenan yuk!
Perpustakaan Peminta Tumbal
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Treeet… Treet, bunyi bel sekolahku, waktunya pulang sekolah, semua murid keluar dengan berhamburan kemana mana, ada yang ke tepi jalan, ada yang nunggu dan masih banyak lagi, melainkan aku, aku melangkahkan kaki ku ke perpustakaan, sebab aku lupa mengembalikan buku pinjaman ku, karena aku meminjam labih dari seminggu.
“aduhh, pintu ditutup lagi, kalo besok aku pasti kena marah, gimana kalo aku manjat aja kan di belakang perpus ada jendela terbuka, asyik aku gak kena marah” kata ku sambil beranjak pergi ke belakang perpustakaan
Tiba tiba ada sosok cowok yang memnggil ku di belakang “wooy, ngapain lo di sana, mau maling ya?” tanya rehan teman sekelasku
“kagak kok cuma mau ngembaliin buku” kataku sambil lega
“apaa, jam segini mau ke perpustakaan, lo kagak tau kejadian yang dulu” kata rehan membuatku merinding
“emang kejadian apaan?” kataku sambil mengelus rambutku
“dulu ada kakak kelas kita pernah dibunuh sama penghuni di sana, katanya sih penghuninya itu setan, hiiih lo emang berani” kata rehan membuat bulu kudukku naik
“bener lo?” kata ku curiga
“bener lah ngapain juga aku bohong sama kamu, ya udah aku pulang ya, nanti kelamaan di sini, aku takut” kata rehan langsung pergi meninggalkanku
Aku pun seorang di sana, sepertinya hanya aku yang ada di sekolahan itu, melainkan di belakang perpustakaan itu, bulu kudukku makin menaik, tapi kalau tidak sekarang buku itu dikembalikan nanti aku kena marah,
Aku akan memberanikan diri untuk masuk ke dalam, akhirnya aku manjat..
“lo harus berani angel, harus bisa” kataku sambil masuk ke dalam
Setelah sampai di dalam, tiba tiba jendelannya tertutup sendiri, “bruuk”, aku sangat kaget, aku mencoba membukanya tapi tidak berhasil, aku kiranya aku memecahkan kaca jendela itu memakai buku pinjamanku, dan aku sempat bisa keluar tapi aku terjatuh lagi,
“tolong tolong, pak petugas tolong aku” kata ku teriak sambil menangis
Tiba tiba ada sosok penamakan orang yang membawa seikat kantong plastik berwarna merah, ku kira itu adalah tulang manusia, aku segera pergi dan memanjat untuk bisa pergi dari sana, dan aku kiranya jendela itu pun bisa terbuka dan penampakan itu juga sudah menghilang, aku lalu loncat turun, dan langsung mengambil buku dan lari sekencang kencangnya meninggalkan perpustakaan itu,
Kesokan harinya.
“angel.. Angel, bangun nak udah pagi” kata ibuku membangunkanku
“iya bu,” kataku sambil bangun dan segera mandi.
Sehabis aku mandi dan langsung memakai pakaian..Aku langsung beranjak pergi ke sekolah, sesampai di sekolah, aku langsung lari menuju kelas dan langsung duduk ke bangku ku…
“pagi angel, ada info baru gak?” tanya sahabatku syari
“tentunya ada, pokoknya mengerikan dan menakutkan” kataku menjawab
“emang ada kejadian apa?” tanya syari
“nanti aja pas waktunya istirahat” kata ku
“baiklah” kata syari senyu
Tiba tiba rehan dateng membawa kantong plastik berwarna merah.. Aku mengingat seketika penampakan itu membawa sekatong tulang manusia
“rehan, lo bawa apa?” tanyaku heran
“ini makanan kesukaan ku, sate” kata rehan lalu duduk di bangakunya
“yaelah gue kira tulang” kataku keceplosan
“apaaa, tulang?” kata rehan dan syari bebarengan
“maaf aku lagi melamun, maaf” kata ku berbohong
Tiba tiba ada beberapa murid yang dibawa ke uks, sempet waktu itu tidak ada yang ngajar, aku dan temen temen pergi ke uks melihat situasinya, sesampai di uks, aku bertanya kepada kakak yang ada di sana..
“kakak, ini temennya kenapa kak?” tanyaku curiga
“ini katanya dia ngelihat penampakan hantu di perpustakaan, dan dia langsung pingsan dan kepalanya berhamburan darah, untung aja dia selamat, kalau enggak dia bisa mati dijadiin tumbal” kata kakak kelas
“tumbaal?” kata aku, rehan, syari bebarengan
“tumbal untuk apa kak?” kataku
“bisa aja untuk dia hidup kembali atau bisa jadi untuk dimakan sama tu setan” kata kakak kelas itu dan langsung pergi ke kwlas
“kasian banget ya kakak nya” kata teman teman ku
Aku dan temen ku langsung pergi ke kelas dan duduk sambil melamun,
“apa bener, perpustakaan itu minta tumbal?” tanyaku dalam hati
Treeet.. Treeet.. Treeet, bunyi bel istirahat, semua murid keluar kelas, ada yang kejar kejaran, lompat lompat, sedankan kita bertiga bercerita,
“kalian gak tau, kemarin pas aku ke perpus, aku ngeliat kejadian aneh dan menyeramkan, pas itu aku ngelihat penampakan hantu yang membawa kantong plastik berwarna merah, dan aku yakin pasti dalamnya tulang manusia, dan
Aku waktu itu sempet nangis tersesak sesak, soalnya hantunya serem aku aja baru pernah ngeliat hantu” kataku sambil menutupkan mata
“masa sih?” kata syari
“jelas aja kakak kelas kita pingsan dan langsung di bawa ke uks, ternyata perpustakaannya itu keramat” kata rehan
“suut, lo jangan ngomong sembarangan, nanti di digentayangin tau” kata ku
“maaf, maaf, gak sengaja” kata rehan
“truus lo nggak jadi ngembaliin buku itu?” tanya syari
“ya gak jadi lah orang udah gugup gitu mana sempet ngembaliin” kata ku
“ya udah kalo gitu ke kelas yuk” kata rehan
“yuk” kata syari
“ya udah yuk” kata ku
Saat pulang sekolah di rumah..
“ibu, di sekolah angel ngeliat setan lo bu” kataku
“ya udah kalo ngomongin setan itu masalahnya sama bapak mu jangan sama ibu” kata ibuku
“yaah ibu, orang beneran” kata ku langsung pergi ke kamar
Saat di kamar..
“huuh, masa sih perpustakaannya keramat, nanti aja, tanya bapak” kata ku langsung ganti baju
Setibanya bapak di rumah,
“pak, aku punya berita baru” kata ku
“berita apa?” tanya bapak ku
“kemarin angel ngeliat setan lo pak, dan setan itu hampir bunuh kakak kelas angel, angel jadi takut pak” kata ku
“emang kamu ngelihatnya di mana?” kata bapakku bertanya
“di perpustakaan” kata ku
“jelaslah kamu dicari, bapak pas sekolah di sana juga sempet kaya kamu, setau bapak, dulu perpustakaannya sebenernya gak ada yang bangun, dan dulu murid murid dan guru guru kaget melihat peristiwa itu, ada di sekolah itu, dan di perpustakaan itu banyak orang yang terbunuh, jadi bapak sarankan jangan pernah coba coba masuk ke tempat itu, karena perpustakaan itu peminta tumbal tumbal manusia, supaya penghuni disana bisa makan sepuasnya” kata bapakku menceritakan
“ternyata gitu asal mula perpustakaan itu, jelas banyak kejadian aneh” kata ku
Esok harinya di sekolah aku menceritakan semua yang sebenarnya yang terjadi dengan perpustakaan kita,
“ternyata perpustakaan itu peminta tumbal” kataku
“apaa, ternyata bener yang diceritakan sama kakak kelas itu” kata syari
“aku jadi takut” kata rehan
“mending kita jelasin dengan benar ke bu kepala sekolah agar perpustakaannya dibangun ulang aja, supaya tidak banyak korban yang terbunuh di sana” kata ku
“bener juga” kata rehan
“ya udah buruan ke ruang kepala sekolah” kata syari
Setiba di ruang kepala sekolah, aku dan temen ku menceritakan semua apa penyebab murid murid meninggal atau terluka luka, aku menceritakan panjang lebar ke bu kepala sekolah, dan sejak itu perpustakaan itu dibangun ulang supaya tidak ada korban tumbal lagi, selesai perpustakaannya dibangun, murid murud serta guru guru sangat gembira karena tidak ada kejadian aneh lagi di sekolah itu, dan semestinya guru guru tetap waspada terhadap murid murid nya.
Tamat
Cerpen Karangan: Bulan Intan Aziza Rmadhani
Blog: www.bulan_aziza.blogspot.com
salam manis
BULAN
follow :@RBulanc
“aduhh, pintu ditutup lagi, kalo besok aku pasti kena marah, gimana kalo aku manjat aja kan di belakang perpus ada jendela terbuka, asyik aku gak kena marah” kata ku sambil beranjak pergi ke belakang perpustakaan
Tiba tiba ada sosok cowok yang memnggil ku di belakang “wooy, ngapain lo di sana, mau maling ya?” tanya rehan teman sekelasku
“kagak kok cuma mau ngembaliin buku” kataku sambil lega
“apaa, jam segini mau ke perpustakaan, lo kagak tau kejadian yang dulu” kata rehan membuatku merinding
“emang kejadian apaan?” kataku sambil mengelus rambutku
“dulu ada kakak kelas kita pernah dibunuh sama penghuni di sana, katanya sih penghuninya itu setan, hiiih lo emang berani” kata rehan membuat bulu kudukku naik
“bener lo?” kata ku curiga
“bener lah ngapain juga aku bohong sama kamu, ya udah aku pulang ya, nanti kelamaan di sini, aku takut” kata rehan langsung pergi meninggalkanku
Aku pun seorang di sana, sepertinya hanya aku yang ada di sekolahan itu, melainkan di belakang perpustakaan itu, bulu kudukku makin menaik, tapi kalau tidak sekarang buku itu dikembalikan nanti aku kena marah,
Aku akan memberanikan diri untuk masuk ke dalam, akhirnya aku manjat..
“lo harus berani angel, harus bisa” kataku sambil masuk ke dalam
Setelah sampai di dalam, tiba tiba jendelannya tertutup sendiri, “bruuk”, aku sangat kaget, aku mencoba membukanya tapi tidak berhasil, aku kiranya aku memecahkan kaca jendela itu memakai buku pinjamanku, dan aku sempat bisa keluar tapi aku terjatuh lagi,
“tolong tolong, pak petugas tolong aku” kata ku teriak sambil menangis
Tiba tiba ada sosok penamakan orang yang membawa seikat kantong plastik berwarna merah, ku kira itu adalah tulang manusia, aku segera pergi dan memanjat untuk bisa pergi dari sana, dan aku kiranya jendela itu pun bisa terbuka dan penampakan itu juga sudah menghilang, aku lalu loncat turun, dan langsung mengambil buku dan lari sekencang kencangnya meninggalkan perpustakaan itu,
Kesokan harinya.
“angel.. Angel, bangun nak udah pagi” kata ibuku membangunkanku
“iya bu,” kataku sambil bangun dan segera mandi.
Sehabis aku mandi dan langsung memakai pakaian..Aku langsung beranjak pergi ke sekolah, sesampai di sekolah, aku langsung lari menuju kelas dan langsung duduk ke bangku ku…
“pagi angel, ada info baru gak?” tanya sahabatku syari
“tentunya ada, pokoknya mengerikan dan menakutkan” kataku menjawab
“emang ada kejadian apa?” tanya syari
“nanti aja pas waktunya istirahat” kata ku
“baiklah” kata syari senyu
Tiba tiba rehan dateng membawa kantong plastik berwarna merah.. Aku mengingat seketika penampakan itu membawa sekatong tulang manusia
“rehan, lo bawa apa?” tanyaku heran
“ini makanan kesukaan ku, sate” kata rehan lalu duduk di bangakunya
“yaelah gue kira tulang” kataku keceplosan
“apaaa, tulang?” kata rehan dan syari bebarengan
“maaf aku lagi melamun, maaf” kata ku berbohong
Tiba tiba ada beberapa murid yang dibawa ke uks, sempet waktu itu tidak ada yang ngajar, aku dan temen temen pergi ke uks melihat situasinya, sesampai di uks, aku bertanya kepada kakak yang ada di sana..
“kakak, ini temennya kenapa kak?” tanyaku curiga
“ini katanya dia ngelihat penampakan hantu di perpustakaan, dan dia langsung pingsan dan kepalanya berhamburan darah, untung aja dia selamat, kalau enggak dia bisa mati dijadiin tumbal” kata kakak kelas
“tumbaal?” kata aku, rehan, syari bebarengan
“tumbal untuk apa kak?” kataku
“bisa aja untuk dia hidup kembali atau bisa jadi untuk dimakan sama tu setan” kata kakak kelas itu dan langsung pergi ke kwlas
“kasian banget ya kakak nya” kata teman teman ku
Aku dan temen ku langsung pergi ke kelas dan duduk sambil melamun,
“apa bener, perpustakaan itu minta tumbal?” tanyaku dalam hati
Treeet.. Treeet.. Treeet, bunyi bel istirahat, semua murid keluar kelas, ada yang kejar kejaran, lompat lompat, sedankan kita bertiga bercerita,
“kalian gak tau, kemarin pas aku ke perpus, aku ngeliat kejadian aneh dan menyeramkan, pas itu aku ngelihat penampakan hantu yang membawa kantong plastik berwarna merah, dan aku yakin pasti dalamnya tulang manusia, dan
Aku waktu itu sempet nangis tersesak sesak, soalnya hantunya serem aku aja baru pernah ngeliat hantu” kataku sambil menutupkan mata
“masa sih?” kata syari
“jelas aja kakak kelas kita pingsan dan langsung di bawa ke uks, ternyata perpustakaannya itu keramat” kata rehan
“suut, lo jangan ngomong sembarangan, nanti di digentayangin tau” kata ku
“maaf, maaf, gak sengaja” kata rehan
“truus lo nggak jadi ngembaliin buku itu?” tanya syari
“ya gak jadi lah orang udah gugup gitu mana sempet ngembaliin” kata ku
“ya udah kalo gitu ke kelas yuk” kata rehan
“yuk” kata syari
“ya udah yuk” kata ku
Saat pulang sekolah di rumah..
“ibu, di sekolah angel ngeliat setan lo bu” kataku
“ya udah kalo ngomongin setan itu masalahnya sama bapak mu jangan sama ibu” kata ibuku
“yaah ibu, orang beneran” kata ku langsung pergi ke kamar
Saat di kamar..
“huuh, masa sih perpustakaannya keramat, nanti aja, tanya bapak” kata ku langsung ganti baju
Setibanya bapak di rumah,
“pak, aku punya berita baru” kata ku
“berita apa?” tanya bapak ku
“kemarin angel ngeliat setan lo pak, dan setan itu hampir bunuh kakak kelas angel, angel jadi takut pak” kata ku
“emang kamu ngelihatnya di mana?” kata bapakku bertanya
“di perpustakaan” kata ku
“jelaslah kamu dicari, bapak pas sekolah di sana juga sempet kaya kamu, setau bapak, dulu perpustakaannya sebenernya gak ada yang bangun, dan dulu murid murid dan guru guru kaget melihat peristiwa itu, ada di sekolah itu, dan di perpustakaan itu banyak orang yang terbunuh, jadi bapak sarankan jangan pernah coba coba masuk ke tempat itu, karena perpustakaan itu peminta tumbal tumbal manusia, supaya penghuni disana bisa makan sepuasnya” kata bapakku menceritakan
“ternyata gitu asal mula perpustakaan itu, jelas banyak kejadian aneh” kata ku
Esok harinya di sekolah aku menceritakan semua yang sebenarnya yang terjadi dengan perpustakaan kita,
“ternyata perpustakaan itu peminta tumbal” kataku
“apaa, ternyata bener yang diceritakan sama kakak kelas itu” kata syari
“aku jadi takut” kata rehan
“mending kita jelasin dengan benar ke bu kepala sekolah agar perpustakaannya dibangun ulang aja, supaya tidak banyak korban yang terbunuh di sana” kata ku
“bener juga” kata rehan
“ya udah buruan ke ruang kepala sekolah” kata syari
Setiba di ruang kepala sekolah, aku dan temen ku menceritakan semua apa penyebab murid murid meninggal atau terluka luka, aku menceritakan panjang lebar ke bu kepala sekolah, dan sejak itu perpustakaan itu dibangun ulang supaya tidak ada korban tumbal lagi, selesai perpustakaannya dibangun, murid murud serta guru guru sangat gembira karena tidak ada kejadian aneh lagi di sekolah itu, dan semestinya guru guru tetap waspada terhadap murid murid nya.
Tamat
Cerpen Karangan: Bulan Intan Aziza Rmadhani
Blog: www.bulan_aziza.blogspot.com
salam manis
BULAN
follow :@RBulanc
Akhir Perjalanan
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Tubuhku terasa sangat ringan, seperti dapat tertiup angin. Seperti melayang di udara. Aku menghampiri kaca mobil yang retak dan bercermin di sana. Aku melihat tubuhku sendiri, tapi ini berbeda! Tidak seperti dulu yang begitu cantik. Wajahku hancur, rambutku kusut, tubuhku hanya tertutup kain putih panjang, koyak, dan lusuh. Tiada lagi pakaian indahku dan harum parfumku dulu, atau sepatu hak tinggi. Bau anyir menyengat. Kakiku tak menginjak tanah! Aku terdiam dan hari semakin malam. Semua orang meninggalkanku di bawah pohon ini…
—
Alunan musik memenuhi ruang mobil mewah ini. Sedan putih mengilat melaju menembus jalan pegunungan. Di kanan kiri jalan disambut pepohonan hijau. Mereka berjajar gagah namun merunduk seakan patuh pada sesuatu yang tak terlihat. Alam memang kuat namun bersahaja. Alam terlalu suci untuk dikotori perbuatan tercela manusia, seperti aku. Sekelebat teringat kebejatan yang ku lakukan selama ini. Kekagumanku pada keindahan alam yang terpampang di balik kaca mobil ini tak seberapa dibanding kekagumanku pada diriku sendiri. Aku cantik, manarik, bersuara merdu, dan pandai merayu lelaki. Aku menikmati kebersamaanku dengan para lelaki yang mampu penuhi semua inginku, nafsuku, dan ambisiku.
Seperti Donny, lelaki yang sedang menyetir di sampingku. Ia membawaku dengan mengendarai sedan putih ke tempat menginap eksklusif di kaki pegunungan ini. Siapa yang tak mengenal daerah ini? Begitu sejuk dan romantis untuk menghabiskan waktu berdua bermalam dengan pasangan. Ya, seperti aku dan Donny. Sore ini kami memulai perjalanan untuk mencari penginapan di daerah ini. Langit yang mulai teduh dan hawa semakin sejuk menyapa perjalanan kami.
“Venna, kita jadi nginep di mana?” tanya Donny. Pria tampan itu tersenyum padaku.
Aku yang sejak tadi menikmati pemandangan, kini beralih menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini. Donny. Siapa wanita yang tak kan terpikat padanya? Ayahnya seorang mantan pejabat tinggi yang juga punya beragam bisnis. Donny mewarisi salah satu bisnis ayahnya. Dengan segala fasilitas nomor wahid ditambah wajah rupawan, ia pun mampu menaklukkan hatiku. Walau ada hal yang tidak aku suka dari dia. Aku terlalu bandel dan tidak peduli dengan statusnya yang telah beristri. Ya, Donny bukan pria lajang…
“Kita cari yang bagus dong.. Masa mau nginep di tempat murahan sih, Sayang” ujarku manja. Donny tertawa renyah. Ia memang mempesona. Aku sangat menyukai segala hal tentangnya, kecuali satu: istrinya. Oh ya, satu lagi.. Dia juga sudah mempunyai seorang anak berumur 2 tahun. Masa bodoh dengan semua itu! Toh, Donny sendiri mau main gila denganku.
Perkenalanku dengan Donny terjadi ketika aku ada job menyanyi di sebuah kafe eksklusif. Profesi utamaku memang penyanyi. Dengan bermodal suara merdu dan wajah cantik, tidak sulit mendapatkan job menyanyi dari kafe ke kafe, atau dari panggung ke panggung. Sayangnya, aku belum berkesempatan menjadi penyanyi rekaman. Sebenarnya penghasilanku lumayan, tapi aku masih selalu merasa kurang. Untuk biaya perawatan tubuh, kostum panggung, perhiasan, assesoris, tas, sepatu, kacamata, kendaraan pribadi, dan lain-lain. Semua barang pendukung harus aku miliki agar penampilan terlihat lebih ‘wah’. Itu salah satu caraku untuk memikat hati orang yang memakai jasaku.
Namun selain menyanyi, aku juga tidak menolak ajakan kencan para pria yang terkagum-kagum dengan pesonaku. Tentunya harus ada imbalan yang setimpal. Bisa dibilang itu layanan ‘plu-plus’. Hingga aku berkenalan dengan Donny dan kali ini ada yang berbeda. Tidak seperti pria-pria lain yang hanya ku butuhkan uangnya, tapi khusus Donny, aku juga butuh ia selalu di sampingku. Entah karena ia yang paling kaya, paling tampan, paling perhatian, atau karena kami memang saling menyayangi. Ya, semua itu benar! Tanpa peduli Donny sudah beristri dan punya anak. Aku merasa ia sungguh mencintaiku dan sebaliknya aku pun sama.
Memandang wajah Donny membuatku semakin bernafsu untuk memilikinya. Aku menggenggam pundak Donny yang sedang menyetir mobil. Perjalanan kita hampir sampai ke tempat penginapan. Tiba-tiba ponsel Donny yang diletakkan di dashbor berbunyi tanda ada panggilan masuk. Aku segera mengambilnya. Aku baca nama yang tertera di layar ponsel: “My Lovely Wife”.
“Dari siapa, Venna?” tanya Donny sambil tetap fokus menyetir.
“Istrimu! Kenapa masih telepon? Kamu udah pamit dengan alasan urusan bisnis kan?” tanyaku mulai curiga.
“Iya… Tapi kalau telepon begitu biasanya penting.”
“Penting apa?” aku me-reject panggilan dari istri Donny.
“Venna, Sayang… Jangan di-reject!” Donny mulai memprotesku.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan singkat masuk. Dari “My Lovely Wife”, isinya: “Mas Donny, Reyhan lagi sakit demam. Dia rewel panggil Papa terus. Tolong, bisa pulang sekarang!” Aku memicingkan mata membaca SMS itu. Kenapa bukan aku yang jadi istrinya? Aku cemburu. Anaknya sakit, lalu haruskah Donny pulang?
“Venna, mana handphone-nya sini!” Donny meminta ponselnya. Aku tidak memberikannya. Beberapa saat suasana hening. Aku sedang kesal, mungkin Donny juga. Maaf Donny, aku harus berulah begini. Aku tak ingin diganggu istrimu! Tapi kemudian panggilan masuk lagi. Dari “My Lovely Wife”.
“Istriku lagi yang telepon? Sini, kasihkan HP-nya! Venna!” nada suara Donny mulai meninggi.
“Aku udah bilang, aku gak mau acara kita ini terganggu sama istrimu! Termasuk dengan telepon ini!” bentakku.
“Venna, acara kita tetap lanjut kok! Tapi biarin ku angkat telepon istriku!” Donny masih menyetir tapi dengan satu tangan berusaha meraih ponsel dari tanganku.
Tanpa pikir panjang, aku membuka jendela mobil lalu melempar ponsel itu ke jalan! Aku menggenggam tangan Donny dan berkata tegas, “Kamu milikku, Don!”
“Venna!! Hey!! Apa-apaan kamu?!” Donny berteriak sambil berupaya melepas tangannya dari genggamanku. Ia menoleh ke belakang, melihat jalan di mana ponselnya aku buang. Konsentrasi Donny sudah buyar. Ia tak memperhatikan lagi jalan di depannya. Padahal tempat penginapan yang kami tuju sudah dekat.
Aku yang melihat jalan itu tersentak. Beberapa meter di depan mobil ini ada sosok nenek menyeberang jalan. Kondisi jalan pegunungan yang berupa tikungan tajam sangat curam. Ditambah langit yang gelap karena matahari baru terbenam. Rasanya mobil ini tak mampu menghindari nenek yang tepat di depan kami.
“DONNY!!! AWAASSS!!!” jeritku.
Donny tersentak lalu membanting setirnya ke kiri.
BRRAAKKK…!!! Mobil menabrak pohon besar di tepi jalan. Aku merasakan sakit di sekujur tubuh. Pandanganku gelap. Hening.
—
Mataku terbuka. Aku berada di samping mobil yang hancur menabrak pohon. Aku melihat seorang pria berlumuran darah dibopong oleh orang-orang yang berkerumun menyelamatkannya. Aku memandang wajahnya. Aku ingat, itu Donny! Oh, Donny-ku… Malangnya nasibmu. Masih hidupkah kau? Lalu diriku sendiri? Masih hidupkah aku??
Tubuhku terasa sangat ringan, seperti dapat tertiup angin. Seperti melayang di udara. Aku menghampiri kaca mobil yang retak dan bercermin di sana. Aku melihat tubuhku sendiri, tapi ini berbeda! Tidak seperti dulu yang begitu cantik. Wajahku hancur, rambutku kusut, tubuhku hanya tertutup kain putih panjang, koyak, dan lusuh. Tiada lagi pakaian indahku dan harum parfumku dulu, atau sepatu hak tinggi. Bau anyir menyengat. Kakiku tak menginjak tanah!
Aku mulai menangis, merintih, meratapi diriku. Semakin kencang menangis, namun tak ada sorang pun yang peduli. Aku berteriak keras-keras tapi yang terdengar hanya desahan tak jelas. Ingin pergi dari sini. Aku ingin pulang ke rumahku, tapi tubuh ini seperti terpaku di sini. Aku terdiam dan hari semakin malam. Semua orang meninggalkanku di bawah pohon ini…
(Orang-orang yang melewati jalan itu atau berhenti di bawah pohon besar itu, terutama pada malam hari mengaku sering mendengar suara tangisan perempuan. Para warga sekitar mempercayai itu adalah makhluk penghuni pohon besar yang merupakan arwah korban kecelakaan. Wallahu’alam… Hanya Allah Yang Maha Mengetahui tentang roh yang terbatas oleh penglihatan manusia. Mari kita jadikan pelajaran hidup. Sebagai hamba-Nya, kita semestinya selalu berbuat kebaikan pada siapapun agar selamat di manapun kita berada.)
Cerpen Karangan: Riski Diannita
Blog: riskidiannita.blogspot.com
Facebook: Diannita Riski
Namaku Riski Diannita. Aku lahir di Mojokerto, 5 April 1991. Kunjungi blog aku yaa di riskidiannita.blogspot.com atau Facebook Diannita Riski dan Twitter @RiskiDianNita saLam kenaL..
—
Alunan musik memenuhi ruang mobil mewah ini. Sedan putih mengilat melaju menembus jalan pegunungan. Di kanan kiri jalan disambut pepohonan hijau. Mereka berjajar gagah namun merunduk seakan patuh pada sesuatu yang tak terlihat. Alam memang kuat namun bersahaja. Alam terlalu suci untuk dikotori perbuatan tercela manusia, seperti aku. Sekelebat teringat kebejatan yang ku lakukan selama ini. Kekagumanku pada keindahan alam yang terpampang di balik kaca mobil ini tak seberapa dibanding kekagumanku pada diriku sendiri. Aku cantik, manarik, bersuara merdu, dan pandai merayu lelaki. Aku menikmati kebersamaanku dengan para lelaki yang mampu penuhi semua inginku, nafsuku, dan ambisiku.
Seperti Donny, lelaki yang sedang menyetir di sampingku. Ia membawaku dengan mengendarai sedan putih ke tempat menginap eksklusif di kaki pegunungan ini. Siapa yang tak mengenal daerah ini? Begitu sejuk dan romantis untuk menghabiskan waktu berdua bermalam dengan pasangan. Ya, seperti aku dan Donny. Sore ini kami memulai perjalanan untuk mencari penginapan di daerah ini. Langit yang mulai teduh dan hawa semakin sejuk menyapa perjalanan kami.
“Venna, kita jadi nginep di mana?” tanya Donny. Pria tampan itu tersenyum padaku.
Aku yang sejak tadi menikmati pemandangan, kini beralih menikmati ciptaan Tuhan yang satu ini. Donny. Siapa wanita yang tak kan terpikat padanya? Ayahnya seorang mantan pejabat tinggi yang juga punya beragam bisnis. Donny mewarisi salah satu bisnis ayahnya. Dengan segala fasilitas nomor wahid ditambah wajah rupawan, ia pun mampu menaklukkan hatiku. Walau ada hal yang tidak aku suka dari dia. Aku terlalu bandel dan tidak peduli dengan statusnya yang telah beristri. Ya, Donny bukan pria lajang…
“Kita cari yang bagus dong.. Masa mau nginep di tempat murahan sih, Sayang” ujarku manja. Donny tertawa renyah. Ia memang mempesona. Aku sangat menyukai segala hal tentangnya, kecuali satu: istrinya. Oh ya, satu lagi.. Dia juga sudah mempunyai seorang anak berumur 2 tahun. Masa bodoh dengan semua itu! Toh, Donny sendiri mau main gila denganku.
Perkenalanku dengan Donny terjadi ketika aku ada job menyanyi di sebuah kafe eksklusif. Profesi utamaku memang penyanyi. Dengan bermodal suara merdu dan wajah cantik, tidak sulit mendapatkan job menyanyi dari kafe ke kafe, atau dari panggung ke panggung. Sayangnya, aku belum berkesempatan menjadi penyanyi rekaman. Sebenarnya penghasilanku lumayan, tapi aku masih selalu merasa kurang. Untuk biaya perawatan tubuh, kostum panggung, perhiasan, assesoris, tas, sepatu, kacamata, kendaraan pribadi, dan lain-lain. Semua barang pendukung harus aku miliki agar penampilan terlihat lebih ‘wah’. Itu salah satu caraku untuk memikat hati orang yang memakai jasaku.
Namun selain menyanyi, aku juga tidak menolak ajakan kencan para pria yang terkagum-kagum dengan pesonaku. Tentunya harus ada imbalan yang setimpal. Bisa dibilang itu layanan ‘plu-plus’. Hingga aku berkenalan dengan Donny dan kali ini ada yang berbeda. Tidak seperti pria-pria lain yang hanya ku butuhkan uangnya, tapi khusus Donny, aku juga butuh ia selalu di sampingku. Entah karena ia yang paling kaya, paling tampan, paling perhatian, atau karena kami memang saling menyayangi. Ya, semua itu benar! Tanpa peduli Donny sudah beristri dan punya anak. Aku merasa ia sungguh mencintaiku dan sebaliknya aku pun sama.
Memandang wajah Donny membuatku semakin bernafsu untuk memilikinya. Aku menggenggam pundak Donny yang sedang menyetir mobil. Perjalanan kita hampir sampai ke tempat penginapan. Tiba-tiba ponsel Donny yang diletakkan di dashbor berbunyi tanda ada panggilan masuk. Aku segera mengambilnya. Aku baca nama yang tertera di layar ponsel: “My Lovely Wife”.
“Dari siapa, Venna?” tanya Donny sambil tetap fokus menyetir.
“Istrimu! Kenapa masih telepon? Kamu udah pamit dengan alasan urusan bisnis kan?” tanyaku mulai curiga.
“Iya… Tapi kalau telepon begitu biasanya penting.”
“Penting apa?” aku me-reject panggilan dari istri Donny.
“Venna, Sayang… Jangan di-reject!” Donny mulai memprotesku.
Beberapa saat kemudian, sebuah pesan singkat masuk. Dari “My Lovely Wife”, isinya: “Mas Donny, Reyhan lagi sakit demam. Dia rewel panggil Papa terus. Tolong, bisa pulang sekarang!” Aku memicingkan mata membaca SMS itu. Kenapa bukan aku yang jadi istrinya? Aku cemburu. Anaknya sakit, lalu haruskah Donny pulang?
“Venna, mana handphone-nya sini!” Donny meminta ponselnya. Aku tidak memberikannya. Beberapa saat suasana hening. Aku sedang kesal, mungkin Donny juga. Maaf Donny, aku harus berulah begini. Aku tak ingin diganggu istrimu! Tapi kemudian panggilan masuk lagi. Dari “My Lovely Wife”.
“Istriku lagi yang telepon? Sini, kasihkan HP-nya! Venna!” nada suara Donny mulai meninggi.
“Aku udah bilang, aku gak mau acara kita ini terganggu sama istrimu! Termasuk dengan telepon ini!” bentakku.
“Venna, acara kita tetap lanjut kok! Tapi biarin ku angkat telepon istriku!” Donny masih menyetir tapi dengan satu tangan berusaha meraih ponsel dari tanganku.
Tanpa pikir panjang, aku membuka jendela mobil lalu melempar ponsel itu ke jalan! Aku menggenggam tangan Donny dan berkata tegas, “Kamu milikku, Don!”
“Venna!! Hey!! Apa-apaan kamu?!” Donny berteriak sambil berupaya melepas tangannya dari genggamanku. Ia menoleh ke belakang, melihat jalan di mana ponselnya aku buang. Konsentrasi Donny sudah buyar. Ia tak memperhatikan lagi jalan di depannya. Padahal tempat penginapan yang kami tuju sudah dekat.
Aku yang melihat jalan itu tersentak. Beberapa meter di depan mobil ini ada sosok nenek menyeberang jalan. Kondisi jalan pegunungan yang berupa tikungan tajam sangat curam. Ditambah langit yang gelap karena matahari baru terbenam. Rasanya mobil ini tak mampu menghindari nenek yang tepat di depan kami.
“DONNY!!! AWAASSS!!!” jeritku.
Donny tersentak lalu membanting setirnya ke kiri.
BRRAAKKK…!!! Mobil menabrak pohon besar di tepi jalan. Aku merasakan sakit di sekujur tubuh. Pandanganku gelap. Hening.
—
Mataku terbuka. Aku berada di samping mobil yang hancur menabrak pohon. Aku melihat seorang pria berlumuran darah dibopong oleh orang-orang yang berkerumun menyelamatkannya. Aku memandang wajahnya. Aku ingat, itu Donny! Oh, Donny-ku… Malangnya nasibmu. Masih hidupkah kau? Lalu diriku sendiri? Masih hidupkah aku??
Tubuhku terasa sangat ringan, seperti dapat tertiup angin. Seperti melayang di udara. Aku menghampiri kaca mobil yang retak dan bercermin di sana. Aku melihat tubuhku sendiri, tapi ini berbeda! Tidak seperti dulu yang begitu cantik. Wajahku hancur, rambutku kusut, tubuhku hanya tertutup kain putih panjang, koyak, dan lusuh. Tiada lagi pakaian indahku dan harum parfumku dulu, atau sepatu hak tinggi. Bau anyir menyengat. Kakiku tak menginjak tanah!
Aku mulai menangis, merintih, meratapi diriku. Semakin kencang menangis, namun tak ada sorang pun yang peduli. Aku berteriak keras-keras tapi yang terdengar hanya desahan tak jelas. Ingin pergi dari sini. Aku ingin pulang ke rumahku, tapi tubuh ini seperti terpaku di sini. Aku terdiam dan hari semakin malam. Semua orang meninggalkanku di bawah pohon ini…
(Orang-orang yang melewati jalan itu atau berhenti di bawah pohon besar itu, terutama pada malam hari mengaku sering mendengar suara tangisan perempuan. Para warga sekitar mempercayai itu adalah makhluk penghuni pohon besar yang merupakan arwah korban kecelakaan. Wallahu’alam… Hanya Allah Yang Maha Mengetahui tentang roh yang terbatas oleh penglihatan manusia. Mari kita jadikan pelajaran hidup. Sebagai hamba-Nya, kita semestinya selalu berbuat kebaikan pada siapapun agar selamat di manapun kita berada.)
Cerpen Karangan: Riski Diannita
Blog: riskidiannita.blogspot.com
Facebook: Diannita Riski
Namaku Riski Diannita. Aku lahir di Mojokerto, 5 April 1991. Kunjungi blog aku yaa di riskidiannita.blogspot.com atau Facebook Diannita Riski dan Twitter @RiskiDianNita saLam kenaL..
About Dream And Sheila’s Story
Alam Semesta
Juni 02, 2015
“Ran.. gue pengen lanjut kuliah di UI”. “emang kenapa harus di UI, entar kalau lo masuk UI gue gak bisa nyusul dong. Gue kan gak sepinter lo”. Jawabku agak pesimis. “duh rani, gue pengen banget nikmatin perpustakaannya, disana kan udah lengkap perpustakaannya. Kalo soal lo masuk sana sih gampang, entar gue bantu ajarin deh” jawabnya.
Tret.. tret.. tret
Kulihat jam wekerku yang dari tadi berbunyi, ternyata pukul 02.00 dini hari. Rupanya aku salah menyetelnya sebelum tidur tadi. Sudah beberapa hari ini aku selalu bermimpi tentang sahabatku Sheila yang tak tahu dimana, dia dikabarkan menghilang dan sampai sekarang belum ada yang menemukannya. keluarganya sudah menganggapnya meninggal sejak empat tahun yang lalu, dia memang tinggal dengan ibu kandungnnya bersama ayah tirinya. Semua mimpi-mimpiku berisi kenangan-kenangan yang pernah kulalui bersamanya sewaktu SMA, beruntung aku hanya punya kenangan indah bersamanya.
Perpustakaan UI, ini adalah tempat impian Sheila. Sekarang aku sudah kuliah di UI fakultas Hukum. Aku mencoba untuk melanjutkan impian sahabatku itu. “Mba.. novel yang judulnya Diatas Awan ada yang minjem gak?”. “entar ya saya cek dulu.. em.. belum ada yang minjem kok de”. “oh iya makasih” jawabku putus asa, padahal aku sudah sangat ingin membaca kelanjutan cerita dari novel itu. Saat hendak kembali mengambil buku-buku yang akan kupinjam, gantungan tempat pensilku jatuh. Aku menunduk dan melihat sekitar kolong meja, dan gantungan itu jatuh dekat sebuah buku tebal yang sepertinya familiar. Betapa bahagianya ternyata buku yang kucari-cari itu ada di bawah meja tempatku membaca tadi. Kuputuskan untuk meminjam buku itu.
Keluar dari perpustakaan, aku mengecek hpku. Ada sebuah pesan dari “My Reno: Ran, ak gak bsa jemput. Tp ntar mlam ak k rmah kmu skalian ktmu orangtua kmu. Oke? See u”. Dulunya reno adalah pacar sheila, namun setelah sheila pergi dia mulai menjalin hubungan spesial denganku. Itu pun baru berjalan satu tahun. Sebenarnya aku belum terlalu yakin, dulu sheila pernah bilang padaku jika suatu hari dia pergi, aku harus menggantikannya untuk merawat dan menyayangi reno.
“sheila.. apa sih yang bikin lo bisa pinter” Tanyaku bego. “Cinta mungkin, hahah bercanda”. “Reno lagi ya… ganteng sih, cocok buat lo, si pinter dan si ganteng. Perfect banget”. “apaan sih”. Kami diam sesaat sebelum sheila angkat bicara “Ran, entar kalau gue udah pergi, lo harus sama reno. Dia cowok baik-baik gak sama kaya cowok lo tuh sih Ditan”. “emang kenapa sama ditan?”. “ditan tuh bukan cowok baik-baik, gue bisa lihat kok dari gerak-gerik dia. Sorot mata dia, dan segala yang ada sama dia itu wrong! Percaya deh”. “tau deh..” jawabku tak memperdulikan perkataannya. “lo janji kan bakal sama reno, gue percaya Cuma sama lo. Gue gak bisa bayangin bakalan bahagia di alam baka kalau dia jadi milik orang lain”. “iya-iya, kalau lo mati duluan, gimana kalau yang mati duluan itu gue? Mau gak nikah sama ditan?”. “gak deh, makasih”.
Lagi-lagi mimpi tentang sheila. Kupikir apa yang membuatku terbangun kali ini. Ternyata suara mama yang membangunkanku. “sayang.. reno udah datang tuh. Mandi gih. Tadi kamu ketiduran di sofa, jadi mama pindahin ke sini”.
“Ren udah lama nunggu ya?”. “em.. lumayan sejam kali” jawabnya sambil memperhatikan novel yang kubaca di sofa sampai ketiduran. “Ini novel…”. “iya.. novel kesukaan sheila, kamu masih ingat?”. “ya.. dulu dia sering cerita, kutipannya tentang ‘apa yang kau lihat dengan matamu, belum tentu dapat menjelaskan keadaan’” jawabnya santai. “Eh.. ren gue mau cerita sesuatu sama lo. Udah beberapa hari gue terus mimpiin tentang sheila. Tentang kejadian-kejadian waktu di SMA dulu. Dari pertama ketemu, tentang pesan-pesan dia dulu, tentang mimpi-mimpi dia, dan tentang pikiran-pikiran dia tentang ditan yang sering dia ceritain. Gue gak ngerti kenapa” jelasku panjang lebar. “mungkin lo rindu kali sama dia, biasanya kalau kita udah mulai rindu sama orang-orang yang udah gak ada, kita bakal bawa dia ke dalam mimpi. Gak usah terlalu dipikirin, entar dia sedih loh. lo gak boleh capek, ingat Seminggu lagi acara tunanagan kita”. “ya.. aku ingat”.
Bebarapa hari kemudian masih sama, aku tetap memimpikan tentang sheila. Awalnya aku bahagia bisa mengingat wajahnya kembali tanpa melihat fotonya, namun lama-kelamaan aku merasa ada yang aneh. Apalagi dengan perpustakaan kampus. Aku selalu merasa ada yang mengikutiku, tapi bukan perasaan takut yang kurasakan melainkan perasaan rindu yang teramat dalam.
Tiba di hari pertunanganku dengan reno, aku merasa gugup. Aku memang mencintainya, namun aku belum sepenuhnya yakin dengan keputusanku ini. Acara ini dihadiri keluarga dan kerabat dekat kami. Saat hendak bertukar cincin, aku menarik nafas dan kulihat sosok gadis cantik berdiri di belakang reno. Itu Sheila, sheila menangis. Aku melihat dia menangis dan membuatku tak jadi memasangkan cincin di jari reno. Aku hanya mengatakan maaf dan berlari ke kamar. Sebelum kejadian ini, keponakanku datang bercerita padaku bahwa ada seorang kakak yang bercerita padanya bahwa sahabatnya akan bertunangan sebelum menemukannya dan hidup kekal sambil menangis tersedu-sedu. Kuyakin kakak yang dimaksud keponakanku itu sheila, dan sahabatnya adalah aku.
Pertunanganku bukannya gagal namun ditunda sampai aku benar-benar siap. Reno kecewa begitu pula keluarga kami. Untung reno adalah laki-laki yang benar-benar baik, dia tak juga meninggalkanku.
Saat duduk di perpustakaan aku berpikir tentang segala kejadian yang terjadi padaku, dari mimpi-mimpi itu sampai pesta pertunanganku. “Kenapa kau harus menggangguku?” kataku dalam hati. “Hey…” seseorang menepuk pundakku. “aku disini.. aku selalu ada untukmu”. Aku menahan tangisku, sheila datang menghampiriku. “Kenapa lo pergi?” tanyaku. “gue gak pergi kok, gue cuman istirahat doang”. “trus lo ngapain disini?”. “gue pengen liat lo, gue kangen banget sama lo”. “mba.. mba.. bangun mba…”. ternyata cuman mimpi, tadi aku ketiduran. “maaf ya, maaf”.
Sebuah pesan masuk di hpku membuatku terkejut “My Reno: Ran gw mau crita sesuatu, penting! Ktmuan d yummy skrg”. Ada apaan nih? Kayanya penting banget. “oke” balasku.
“ran.. kemarin gue dari kampung kakek gue, trus gue temenin dia ngambil susu kedelai di rumah tetangga. Gue liat foto sheila di rumah itu. Gue yakin itu emang beneran dia” jelasnya. “trus?”. “gue nanya ke kakek gue, katanya tuh cewek dia temuin di jalan, dengan tubuh yang lemas dan penuh darah, seperti habis diperk*sa. Tetangga kakek gue itu emang gak punya cucu, dan emang kesepian karena ditinggal anaknya. Jadi cewek yang gue yakin sheila itu dia rawat, tapi tragisnya cewek itu gak mau bicara. Dan beberapa hari kemudian bunuh diri”. “gak mungkin.. sheila pasti masih hidup, dia gak mungkin mati” aku mulai meneteskan airmata. “gimana kalau kita ke kampung sekarang? Siapa tau aja nenek tersebut bisa memberikan keterangan”. Aku tak menjawab namun kuikuti semua yang dia katakan.
Saat dalam perjalanan, aku memimpikan sheila. Dia berkata “Rani.. bukankah sudah kukatakan bahwa apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu dapat menjelaskan keadaan? Kau tak juga mengerti? Hati-hati.. aku menyayangimu”.
“Nek.. nenek kenal dengan gadis ini?” tanya reno. “kenal, dia cucu saya yang udah meninggal empat tahun yang lalu”. “dia teman kami nek, apa nenek punya barang-barang yang dia tinggalkan?”. “ada, tunggu sebentar… ini”. Sebuah tas yang sering dia gunakan diberikan nenek itu padaku. “boleh saya bawa nek?” tanyaku. “boleh”. “makasih, sebenarnya kami ingin pergi melihat makamnya, tapi sudah malam. Besok kami akan datang lagi, bolehkan?” kata reno. “terserah kalian, kapan saja kalian bisa mampir”.
Karena sudah tengah malam, kami memutuskan untuk istirahat di rumah keluarga reno. Setelah membersihkan tubuh, aku membuka tas sheila. Ada pakaian yang terakhir kali dia pakai dulu sebelum dia meninggal, entah mengapa, saat mencium baju itu baunya sama seperti bau parfum sheila dulu. Aku lihat beberapa fotoku dan dia, dan foto-fotonya bersama… ditan. Kulihat semuanya, aneh, tak ada satu pun fotonya bersama reno. Dan sepucuk surat,
“Rani, maafkan aku. Sebenarnya aku sudah lama berpacaran dengan ditan. Oleh karena itu aku selalu bilang dia bukan cowok baik-baik. Maaf. Dia selalu melindungiku saat aku dipukuli dan disiksa ayah tiriku. Saat aku sedih, dia selalu meminjamkan pundaknya untukku. Dan tentang reno, kutarik kembali kata-kataku yang mengatakan bahwa dia adalah orang baik. Sebaiknya jangan kau dekati dia, dia berbahaya. Setelah surat ini sampai padamu, jangan pernah berhubungan dengan laki-laki yang bernama reno. Aku telah memutuskan untuk lari dari rumah, aku tak bisa terus hidup dengan ayah tiriku yang sangat kejam. Ingat apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu dapat menjelaskan keadaan. Dengan kata maaf belum tentu bisa menghapus tentang kenangan buruk ini, namun skali lagi aku ingin tetap mengucapkan maaf yang sedalam-dalamnya. Love, Sheila”.
Aku menangis membaca surat itu, ternyata dia punya banyak rahasia dan pergumulan hidup yang dia simpan sendiri. Dan ditan, aku memutuskannya memang karena memergokinya selingkuh dengan adik kelasku, tapi itu terjadi sebelum sheila menghilang. Berarti pandangan sheila tentang ditan juga salah, dia juga tak sebaik apa yang dia pikirkan. Andai waktu dapat terulang ingin menjelaskan banyak kekeliruan di antara kita. Reno.. kenapa sheila bilang dia bukan orang baik? Apa yang salah?.
Tok.. tok.. tok..
“siapa…” tiba-tiba mulutku disekap. “lo udah baca suratnya? Dia menderita sendirian, dan lo dimana? Dia selalu lari ke cowok lo, bukan ke gue? Dia ngehianatin gue sama lo tau gak. Makanya gue paling malas ngeliat lo nangis karena dia. Dan satu hal yang sama dari lo berdua, yaitu mudah gue bohongin. Sama-sama masuk perangkap gue, dasar bego. Dia juga pernah nangis disini sama kaya lo. Bedanya dia nangis karena bokap tirinya dan pengen putus dari gue. Oh ya lo dulu putus sama ditan itu karena gue, gue yang ngatur semua itu, lo gak perlu tahu lah detailnya. Yang gue pengen lo jadi millik gue saat itu. Ditan tuh anak yang baik-baik, saking baiknya dia tuh sama begonya sama lo sama sheila” dia tertawa. Aku kaget mendengar semuanya, aku memberontak, kutendang dia dan sesegera mungkin lari. Untung pintunya belum dikunci. Aku berlari di jalan yang gelap dan becek, dan aku menyadari inilah yang dimaksudkan sheila dalam mimpi.
Aku terus berlari, dan jurang di depan mata. Aku bingung, reno sudah tinggal selangkah lagi akan meraihku. Aku berdoa “ya Tuhan lindungilah aku”. Dan kuputuskan melompat ke jurang. Sakit.. aku tak ingat apakah aku merasakan sakit itu. “Rani.. ini aku sheila. Maaf terlambat, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama skali. Aku selalu mencoba mengatakan rahasia itu saat kau di perpustakaan, namun dunia kita begitu jauh walau kau selalu lewat di depan mataku. Maaf aku selalu menyelinap di dalam mimpimu. Aku sedih tiap kali kau tak memperdulikan kata-kataku. Namun aku bahagia kau bisa melihatku saat hari pertunangan itu. Pulanglah rani, sekarang aku sudah tenang. Masih banyak masalah yang harus kau selesaikan”. Begitu terang, aku tak bisa melihat, tapi kuyakin itu adalah malaikat yang menolongku.
“rani.. kau sudah sadar. Sudah tiga bulan kau koma”. “minum ma…”. “ini sayang”. “reno mana ma?”. “reno? dia dalam pemeriksaan, dia sudah dalam status tersangka. Tinggal menunggu kamu sadar untuk memberikan keterangan. Apakah dia yang mencoba membunuhmu?”. “ma…” kata-kataku tertahan. “gak usah dilanjutin, istrahat aja dulu”.
Akhirnya reno dipenjara, dengan kasus percobaan pembunuhan padaku dan sheila. Aku tak menyangka dialah penyebab semua ini. Dengan rapi empat tahun dia menyembunyikannya dariku dan dialah yang membongkar semuanya. Makam sheila terpaksa dibongkar untuk melakukan pemeriksaan ulang. saat memberitahukan semuanya pada orangtua sheila, ibunya sempat pingsan. Namun akhirnya dia bisa menerima semuanya. Ayah sheila juga dalam pemeriksaan, karena didapat beberapa bukti yang membuktikan bahwa ayahnya melakukan penganiyayaan pada sheila. Ditan, aku bertemu ditan sebulan yang lalu. Dia berada di rumah sakit jiwa, bukan karena menjadi dokter atau perawat namun dia mengalami gangguan mental empat tahun yang lalu. Menurut orangtuanya dia menjadi seperti itu karena ditinggalkan kekasihnya. Yang kuyakin kekasih yang dimaksud orangtuanya itu adalah sheila, karena dia terus memanggil-manggil namanya. Kasihan dia, aku akan mencoba mengembalikan ingatannya.
Sesering aku mengurus urusanku di kantor polisi, sesering itu pula aku bertemu dengan joe kakak tiri sheila. Aku mulai jatuh cinta padanya. Setahun kemudian aku menikah dengannya. Dan sekarang telah mempunyai anak kembar sepasang, ini adalah hadiahku untuk sheila.
“Apa yang kau lihat dengan matamu, belum tentu dapat menjelaskan keadaan”
Cerpen Karangan: Sherly Yulvickhe Sompa
Facebook: Sherly Yulvickhe Sompa
Tret.. tret.. tret
Kulihat jam wekerku yang dari tadi berbunyi, ternyata pukul 02.00 dini hari. Rupanya aku salah menyetelnya sebelum tidur tadi. Sudah beberapa hari ini aku selalu bermimpi tentang sahabatku Sheila yang tak tahu dimana, dia dikabarkan menghilang dan sampai sekarang belum ada yang menemukannya. keluarganya sudah menganggapnya meninggal sejak empat tahun yang lalu, dia memang tinggal dengan ibu kandungnnya bersama ayah tirinya. Semua mimpi-mimpiku berisi kenangan-kenangan yang pernah kulalui bersamanya sewaktu SMA, beruntung aku hanya punya kenangan indah bersamanya.
Perpustakaan UI, ini adalah tempat impian Sheila. Sekarang aku sudah kuliah di UI fakultas Hukum. Aku mencoba untuk melanjutkan impian sahabatku itu. “Mba.. novel yang judulnya Diatas Awan ada yang minjem gak?”. “entar ya saya cek dulu.. em.. belum ada yang minjem kok de”. “oh iya makasih” jawabku putus asa, padahal aku sudah sangat ingin membaca kelanjutan cerita dari novel itu. Saat hendak kembali mengambil buku-buku yang akan kupinjam, gantungan tempat pensilku jatuh. Aku menunduk dan melihat sekitar kolong meja, dan gantungan itu jatuh dekat sebuah buku tebal yang sepertinya familiar. Betapa bahagianya ternyata buku yang kucari-cari itu ada di bawah meja tempatku membaca tadi. Kuputuskan untuk meminjam buku itu.
Keluar dari perpustakaan, aku mengecek hpku. Ada sebuah pesan dari “My Reno: Ran, ak gak bsa jemput. Tp ntar mlam ak k rmah kmu skalian ktmu orangtua kmu. Oke? See u”. Dulunya reno adalah pacar sheila, namun setelah sheila pergi dia mulai menjalin hubungan spesial denganku. Itu pun baru berjalan satu tahun. Sebenarnya aku belum terlalu yakin, dulu sheila pernah bilang padaku jika suatu hari dia pergi, aku harus menggantikannya untuk merawat dan menyayangi reno.
“sheila.. apa sih yang bikin lo bisa pinter” Tanyaku bego. “Cinta mungkin, hahah bercanda”. “Reno lagi ya… ganteng sih, cocok buat lo, si pinter dan si ganteng. Perfect banget”. “apaan sih”. Kami diam sesaat sebelum sheila angkat bicara “Ran, entar kalau gue udah pergi, lo harus sama reno. Dia cowok baik-baik gak sama kaya cowok lo tuh sih Ditan”. “emang kenapa sama ditan?”. “ditan tuh bukan cowok baik-baik, gue bisa lihat kok dari gerak-gerik dia. Sorot mata dia, dan segala yang ada sama dia itu wrong! Percaya deh”. “tau deh..” jawabku tak memperdulikan perkataannya. “lo janji kan bakal sama reno, gue percaya Cuma sama lo. Gue gak bisa bayangin bakalan bahagia di alam baka kalau dia jadi milik orang lain”. “iya-iya, kalau lo mati duluan, gimana kalau yang mati duluan itu gue? Mau gak nikah sama ditan?”. “gak deh, makasih”.
Lagi-lagi mimpi tentang sheila. Kupikir apa yang membuatku terbangun kali ini. Ternyata suara mama yang membangunkanku. “sayang.. reno udah datang tuh. Mandi gih. Tadi kamu ketiduran di sofa, jadi mama pindahin ke sini”.
“Ren udah lama nunggu ya?”. “em.. lumayan sejam kali” jawabnya sambil memperhatikan novel yang kubaca di sofa sampai ketiduran. “Ini novel…”. “iya.. novel kesukaan sheila, kamu masih ingat?”. “ya.. dulu dia sering cerita, kutipannya tentang ‘apa yang kau lihat dengan matamu, belum tentu dapat menjelaskan keadaan’” jawabnya santai. “Eh.. ren gue mau cerita sesuatu sama lo. Udah beberapa hari gue terus mimpiin tentang sheila. Tentang kejadian-kejadian waktu di SMA dulu. Dari pertama ketemu, tentang pesan-pesan dia dulu, tentang mimpi-mimpi dia, dan tentang pikiran-pikiran dia tentang ditan yang sering dia ceritain. Gue gak ngerti kenapa” jelasku panjang lebar. “mungkin lo rindu kali sama dia, biasanya kalau kita udah mulai rindu sama orang-orang yang udah gak ada, kita bakal bawa dia ke dalam mimpi. Gak usah terlalu dipikirin, entar dia sedih loh. lo gak boleh capek, ingat Seminggu lagi acara tunanagan kita”. “ya.. aku ingat”.
Bebarapa hari kemudian masih sama, aku tetap memimpikan tentang sheila. Awalnya aku bahagia bisa mengingat wajahnya kembali tanpa melihat fotonya, namun lama-kelamaan aku merasa ada yang aneh. Apalagi dengan perpustakaan kampus. Aku selalu merasa ada yang mengikutiku, tapi bukan perasaan takut yang kurasakan melainkan perasaan rindu yang teramat dalam.
Tiba di hari pertunanganku dengan reno, aku merasa gugup. Aku memang mencintainya, namun aku belum sepenuhnya yakin dengan keputusanku ini. Acara ini dihadiri keluarga dan kerabat dekat kami. Saat hendak bertukar cincin, aku menarik nafas dan kulihat sosok gadis cantik berdiri di belakang reno. Itu Sheila, sheila menangis. Aku melihat dia menangis dan membuatku tak jadi memasangkan cincin di jari reno. Aku hanya mengatakan maaf dan berlari ke kamar. Sebelum kejadian ini, keponakanku datang bercerita padaku bahwa ada seorang kakak yang bercerita padanya bahwa sahabatnya akan bertunangan sebelum menemukannya dan hidup kekal sambil menangis tersedu-sedu. Kuyakin kakak yang dimaksud keponakanku itu sheila, dan sahabatnya adalah aku.
Pertunanganku bukannya gagal namun ditunda sampai aku benar-benar siap. Reno kecewa begitu pula keluarga kami. Untung reno adalah laki-laki yang benar-benar baik, dia tak juga meninggalkanku.
Saat duduk di perpustakaan aku berpikir tentang segala kejadian yang terjadi padaku, dari mimpi-mimpi itu sampai pesta pertunanganku. “Kenapa kau harus menggangguku?” kataku dalam hati. “Hey…” seseorang menepuk pundakku. “aku disini.. aku selalu ada untukmu”. Aku menahan tangisku, sheila datang menghampiriku. “Kenapa lo pergi?” tanyaku. “gue gak pergi kok, gue cuman istirahat doang”. “trus lo ngapain disini?”. “gue pengen liat lo, gue kangen banget sama lo”. “mba.. mba.. bangun mba…”. ternyata cuman mimpi, tadi aku ketiduran. “maaf ya, maaf”.
Sebuah pesan masuk di hpku membuatku terkejut “My Reno: Ran gw mau crita sesuatu, penting! Ktmuan d yummy skrg”. Ada apaan nih? Kayanya penting banget. “oke” balasku.
“ran.. kemarin gue dari kampung kakek gue, trus gue temenin dia ngambil susu kedelai di rumah tetangga. Gue liat foto sheila di rumah itu. Gue yakin itu emang beneran dia” jelasnya. “trus?”. “gue nanya ke kakek gue, katanya tuh cewek dia temuin di jalan, dengan tubuh yang lemas dan penuh darah, seperti habis diperk*sa. Tetangga kakek gue itu emang gak punya cucu, dan emang kesepian karena ditinggal anaknya. Jadi cewek yang gue yakin sheila itu dia rawat, tapi tragisnya cewek itu gak mau bicara. Dan beberapa hari kemudian bunuh diri”. “gak mungkin.. sheila pasti masih hidup, dia gak mungkin mati” aku mulai meneteskan airmata. “gimana kalau kita ke kampung sekarang? Siapa tau aja nenek tersebut bisa memberikan keterangan”. Aku tak menjawab namun kuikuti semua yang dia katakan.
Saat dalam perjalanan, aku memimpikan sheila. Dia berkata “Rani.. bukankah sudah kukatakan bahwa apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu dapat menjelaskan keadaan? Kau tak juga mengerti? Hati-hati.. aku menyayangimu”.
“Nek.. nenek kenal dengan gadis ini?” tanya reno. “kenal, dia cucu saya yang udah meninggal empat tahun yang lalu”. “dia teman kami nek, apa nenek punya barang-barang yang dia tinggalkan?”. “ada, tunggu sebentar… ini”. Sebuah tas yang sering dia gunakan diberikan nenek itu padaku. “boleh saya bawa nek?” tanyaku. “boleh”. “makasih, sebenarnya kami ingin pergi melihat makamnya, tapi sudah malam. Besok kami akan datang lagi, bolehkan?” kata reno. “terserah kalian, kapan saja kalian bisa mampir”.
Karena sudah tengah malam, kami memutuskan untuk istirahat di rumah keluarga reno. Setelah membersihkan tubuh, aku membuka tas sheila. Ada pakaian yang terakhir kali dia pakai dulu sebelum dia meninggal, entah mengapa, saat mencium baju itu baunya sama seperti bau parfum sheila dulu. Aku lihat beberapa fotoku dan dia, dan foto-fotonya bersama… ditan. Kulihat semuanya, aneh, tak ada satu pun fotonya bersama reno. Dan sepucuk surat,
“Rani, maafkan aku. Sebenarnya aku sudah lama berpacaran dengan ditan. Oleh karena itu aku selalu bilang dia bukan cowok baik-baik. Maaf. Dia selalu melindungiku saat aku dipukuli dan disiksa ayah tiriku. Saat aku sedih, dia selalu meminjamkan pundaknya untukku. Dan tentang reno, kutarik kembali kata-kataku yang mengatakan bahwa dia adalah orang baik. Sebaiknya jangan kau dekati dia, dia berbahaya. Setelah surat ini sampai padamu, jangan pernah berhubungan dengan laki-laki yang bernama reno. Aku telah memutuskan untuk lari dari rumah, aku tak bisa terus hidup dengan ayah tiriku yang sangat kejam. Ingat apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu dapat menjelaskan keadaan. Dengan kata maaf belum tentu bisa menghapus tentang kenangan buruk ini, namun skali lagi aku ingin tetap mengucapkan maaf yang sedalam-dalamnya. Love, Sheila”.
Aku menangis membaca surat itu, ternyata dia punya banyak rahasia dan pergumulan hidup yang dia simpan sendiri. Dan ditan, aku memutuskannya memang karena memergokinya selingkuh dengan adik kelasku, tapi itu terjadi sebelum sheila menghilang. Berarti pandangan sheila tentang ditan juga salah, dia juga tak sebaik apa yang dia pikirkan. Andai waktu dapat terulang ingin menjelaskan banyak kekeliruan di antara kita. Reno.. kenapa sheila bilang dia bukan orang baik? Apa yang salah?.
Tok.. tok.. tok..
“siapa…” tiba-tiba mulutku disekap. “lo udah baca suratnya? Dia menderita sendirian, dan lo dimana? Dia selalu lari ke cowok lo, bukan ke gue? Dia ngehianatin gue sama lo tau gak. Makanya gue paling malas ngeliat lo nangis karena dia. Dan satu hal yang sama dari lo berdua, yaitu mudah gue bohongin. Sama-sama masuk perangkap gue, dasar bego. Dia juga pernah nangis disini sama kaya lo. Bedanya dia nangis karena bokap tirinya dan pengen putus dari gue. Oh ya lo dulu putus sama ditan itu karena gue, gue yang ngatur semua itu, lo gak perlu tahu lah detailnya. Yang gue pengen lo jadi millik gue saat itu. Ditan tuh anak yang baik-baik, saking baiknya dia tuh sama begonya sama lo sama sheila” dia tertawa. Aku kaget mendengar semuanya, aku memberontak, kutendang dia dan sesegera mungkin lari. Untung pintunya belum dikunci. Aku berlari di jalan yang gelap dan becek, dan aku menyadari inilah yang dimaksudkan sheila dalam mimpi.
Aku terus berlari, dan jurang di depan mata. Aku bingung, reno sudah tinggal selangkah lagi akan meraihku. Aku berdoa “ya Tuhan lindungilah aku”. Dan kuputuskan melompat ke jurang. Sakit.. aku tak ingat apakah aku merasakan sakit itu. “Rani.. ini aku sheila. Maaf terlambat, namun lebih baik terlambat daripada tidak sama skali. Aku selalu mencoba mengatakan rahasia itu saat kau di perpustakaan, namun dunia kita begitu jauh walau kau selalu lewat di depan mataku. Maaf aku selalu menyelinap di dalam mimpimu. Aku sedih tiap kali kau tak memperdulikan kata-kataku. Namun aku bahagia kau bisa melihatku saat hari pertunangan itu. Pulanglah rani, sekarang aku sudah tenang. Masih banyak masalah yang harus kau selesaikan”. Begitu terang, aku tak bisa melihat, tapi kuyakin itu adalah malaikat yang menolongku.
“rani.. kau sudah sadar. Sudah tiga bulan kau koma”. “minum ma…”. “ini sayang”. “reno mana ma?”. “reno? dia dalam pemeriksaan, dia sudah dalam status tersangka. Tinggal menunggu kamu sadar untuk memberikan keterangan. Apakah dia yang mencoba membunuhmu?”. “ma…” kata-kataku tertahan. “gak usah dilanjutin, istrahat aja dulu”.
Akhirnya reno dipenjara, dengan kasus percobaan pembunuhan padaku dan sheila. Aku tak menyangka dialah penyebab semua ini. Dengan rapi empat tahun dia menyembunyikannya dariku dan dialah yang membongkar semuanya. Makam sheila terpaksa dibongkar untuk melakukan pemeriksaan ulang. saat memberitahukan semuanya pada orangtua sheila, ibunya sempat pingsan. Namun akhirnya dia bisa menerima semuanya. Ayah sheila juga dalam pemeriksaan, karena didapat beberapa bukti yang membuktikan bahwa ayahnya melakukan penganiyayaan pada sheila. Ditan, aku bertemu ditan sebulan yang lalu. Dia berada di rumah sakit jiwa, bukan karena menjadi dokter atau perawat namun dia mengalami gangguan mental empat tahun yang lalu. Menurut orangtuanya dia menjadi seperti itu karena ditinggalkan kekasihnya. Yang kuyakin kekasih yang dimaksud orangtuanya itu adalah sheila, karena dia terus memanggil-manggil namanya. Kasihan dia, aku akan mencoba mengembalikan ingatannya.
Sesering aku mengurus urusanku di kantor polisi, sesering itu pula aku bertemu dengan joe kakak tiri sheila. Aku mulai jatuh cinta padanya. Setahun kemudian aku menikah dengannya. Dan sekarang telah mempunyai anak kembar sepasang, ini adalah hadiahku untuk sheila.
“Apa yang kau lihat dengan matamu, belum tentu dapat menjelaskan keadaan”
Cerpen Karangan: Sherly Yulvickhe Sompa
Facebook: Sherly Yulvickhe Sompa
Persahabatan Berdarah Di Dunia Lain
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Malam berganti pagi, seperti biasa ibu mengajakku untuk bersih bersih rumah. Setelah itu aku pun segera mandi dan sarapan. Aku pun masuk sekolah jam setengah 7 pagi. Sesampainya aku disana, aku melihat ada seorang anak kelas 1 yang sepertinya belum pernah aku jumpai, entah mengapa kepalanya selalu menunduk.
“de? Ade namanya siapa?” kataku.
“nama saya nia…” kata anak itu.
“looh? Kamu murid baru ya? Habis, aku sudah tahu semua nama anak kelas 1 selain kamu…” kataku lagi. Tetapi, pas aku tanya begitu, dia langsung berlari ke arah ruang kelas yang telah dikosongkan kemarin, aku pun tidak segan segan untuk mengejarnya, tapi saat aku lihat ke dalam kelas kosong tersebut, anak kelas 1 itu sudah tidak ada. Aku pun segera berlari ke kelas karena takut, aku takut anak itu bukan manusia melainkan setan atau jin yang menggangguku.
Aku pun berlari lebih cepat agar tidak ketinggalan baris berbaris. Setelah aku baris berbaris, aku pun masuk ke kelas.
“eh.. Aurell, kok wajahmu tiba tiba pucat?” kata olivia.
“gak kok” kataku singkat. Padahal aku ingin sekali menceritakan apa yang terjadi tadi.
Pagi pun menjelang siang, istirahat pun dimulai, aku penasaran dengan kelas kosong itu, jadi aku pun tergoda untuk masuk ke dalam kelas kosong itu lagi, aku juga mengajak temanku olivia untuk menemaniku di kelas kosong itu, tiba tiba wussss ada bayangan hitam masuk ke dalam mulutku, aku pun tidak dapat mengingat apa apa, aku berteriak, “aku nia, aku sudah mati ahahahahaha!!!” kataku mengelegar. Temanku olivia pun memanggil teman teman yang lainnya, antara lain tanaya, syahra, rifan, salman, riza, kamila, kalisa, sekar, dzaki dan zahra.
Riza dan syahra mengikat tanganku dengan tali rafia, olivia membaca ayat ayat kursi, salman dan kalisa membaca surat surat pendek, rifan melakukan pengusiran, rifan memang ahlinya dalam mengurus hal seperti ini. Yang lainnya menahan tangan, kaki dan memborgol tali rafia tersebut
“aku merasa ada di dunia yang berbeda, semuanya berwarna putih… Tak ada jalan keluar…” kataku lagi, setelah berjam jam berlari, aku pun mmenemukan jalan pintasnya, wuuuusss… Bayangan hitam itu pun keluar dari mulutku, rifan pun menangkapnya dan membakarnya.
Hari pun berlalu… Aku pun segera pulang ke rumah, tapi hal ini belum diselesaikan… Ternyata aku baru tahu bahwa nia itu sahabatku di dunia lain…
Cerpen Karangan: Aurellia Khadeliu Susanto
Facebook: Cerpen Misteri
“de? Ade namanya siapa?” kataku.
“nama saya nia…” kata anak itu.
“looh? Kamu murid baru ya? Habis, aku sudah tahu semua nama anak kelas 1 selain kamu…” kataku lagi. Tetapi, pas aku tanya begitu, dia langsung berlari ke arah ruang kelas yang telah dikosongkan kemarin, aku pun tidak segan segan untuk mengejarnya, tapi saat aku lihat ke dalam kelas kosong tersebut, anak kelas 1 itu sudah tidak ada. Aku pun segera berlari ke kelas karena takut, aku takut anak itu bukan manusia melainkan setan atau jin yang menggangguku.
Aku pun berlari lebih cepat agar tidak ketinggalan baris berbaris. Setelah aku baris berbaris, aku pun masuk ke kelas.
“eh.. Aurell, kok wajahmu tiba tiba pucat?” kata olivia.
“gak kok” kataku singkat. Padahal aku ingin sekali menceritakan apa yang terjadi tadi.
Pagi pun menjelang siang, istirahat pun dimulai, aku penasaran dengan kelas kosong itu, jadi aku pun tergoda untuk masuk ke dalam kelas kosong itu lagi, aku juga mengajak temanku olivia untuk menemaniku di kelas kosong itu, tiba tiba wussss ada bayangan hitam masuk ke dalam mulutku, aku pun tidak dapat mengingat apa apa, aku berteriak, “aku nia, aku sudah mati ahahahahaha!!!” kataku mengelegar. Temanku olivia pun memanggil teman teman yang lainnya, antara lain tanaya, syahra, rifan, salman, riza, kamila, kalisa, sekar, dzaki dan zahra.
Riza dan syahra mengikat tanganku dengan tali rafia, olivia membaca ayat ayat kursi, salman dan kalisa membaca surat surat pendek, rifan melakukan pengusiran, rifan memang ahlinya dalam mengurus hal seperti ini. Yang lainnya menahan tangan, kaki dan memborgol tali rafia tersebut
“aku merasa ada di dunia yang berbeda, semuanya berwarna putih… Tak ada jalan keluar…” kataku lagi, setelah berjam jam berlari, aku pun mmenemukan jalan pintasnya, wuuuusss… Bayangan hitam itu pun keluar dari mulutku, rifan pun menangkapnya dan membakarnya.
Hari pun berlalu… Aku pun segera pulang ke rumah, tapi hal ini belum diselesaikan… Ternyata aku baru tahu bahwa nia itu sahabatku di dunia lain…
Cerpen Karangan: Aurellia Khadeliu Susanto
Facebook: Cerpen Misteri
Misteri Bis Dan Seorang Perempuan
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Ku langkahkan kaki dengan cepat. Segera kutuju halte bis yang terletak di perempatan jalan. Gerimis rintik-rintik yang semakin besar membuatku segera mempercepat langkah. Jalanan kini telah sepi lagang, tidak ada satupun kendaraan lewat. Entahlah apa yang terjadi. Mungkin karena malam yang semakin larut disertai hujan deras. Ku lihat jam yang melingkar di tangan, sudah jam 23.50. Sepuluh menit kemudian, tepat pukul 00.00, sebuah Bis berhenti di depanku. Tanpa rasa curiga, aku segera naik ke dalam bis, karena malam semakin larut dan dingin yang tak tertahankan. Aku ingin segera sampai kos, dan buru-buru istirahat, apalagi besok pagi aku ada jadwal kuliah pagi. Ah, ini baru pertama kalinya aku harus lembur sampai selarut ini.
Ku lihat di dalam bis, tak ada seorang pun. Semua tempat duduk kosong. Eh, tapi, tunggu dulu.. Aku menyipitkan mata, agar bisa jelas melihat dengan jelas. Di bangku pojok paling belakang, ada seorang perempuan dengan kepala tertunduk. Tapi aku tidak merasakan hal aneh, mungkin perempuan itu sedang tidur karena kecapekan. Ku putuskan segera duduk di bangku tengah dan menyandarkan kepalaku ke jendela bis. Tiba-tiba aku merasakan dingin yang sangat, bulu kuduk berdiri. Lampu dalam bis itu mati. Dan.. Wushhh. Aku terperanjat. Apa itu yang barusan lewat? Ku alihkan pandangan ke bangku belakang, ingin melihat perempuan yang tadi duduk dengan menunduk. Namun nihil, aku tak bisa melihatnya. Di luar bis pun terlihat sangat gelap sekali.
Beberapa menit kemudan lampu kembali menyala, dan bis berhenti. “Mbak, sudah sampai.” Kata supir dengan nada dingin. Aku terhenyak, dari mana supir ini tahu kalau aku berhenti disini, seingatku aku tidak bilang apapun tadi. Tapi, aku turun saja. Aku kasihkan uang dua lembar lima ribuan. Supir itu menerimanya tanpa menoleh sedikitpun. Aku tidak bisa melihatnya karena dia memakai topi, ditambah lagi kepalanya menunduk. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Ingin melihat perempuan yang tadi. Namun tidak ada. Sudahlah, aku turun saja, walaupun dalam pikiranku ada beribu-ribu pertanyaan yang membingungkanku.
Sesudah aku turun, dengan iseng aku lihat ke belakang. Kemana bis itu, kenapa tiba-tiba tidak ada. Masak iya bis itu melaju kencang. Tapi kalau pun bisnya melaju kencang, setidaknya masih terlihat jelas, karena jalan raya di depan kosku lurus, tak ada belokan. Aku pun segera masuk ke kos dengan berlari. Bukk. “Aduhh.” “Neng Dina, kenapa neng lari-lari, kaya ketakutan gitu..” Ah, sukurlah, itu Mang Asep. Penjaga kos disini. “Tidak apa-apa kok mang. Ya sudah, aku masuk dulu ya mang.” “Iya neng.”
—
Huh, dasar si bos, masak aku harus lembur lagi. Lagi-lagi aku pulang seperti kemarin. Namun kali ini tidak ada hujan deras. Di jalan pun masih ada kendaraan walau jarang. Tepat pukul 00.00, Bis itu datang lagi. Sebenarnya aku tidak mau naik bis ini lagi, takut kejadian kemarin terulang lagi. Tapi apa daya, malam sudah sangat larut. Aku hanya bisa pasrah. Lagi-lagi lampunya mati, dan ketakutanku terjadi. Wusshh. Aku hanya menutup mata, dan bus itu berhenti. Aku segera turun, dan berlari menuju kos. Segera kurebahkan badan yang sangat lelah ini di kasur kamarku. Baru saja terlelap dalam nikmatnya tidur, tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis di ruang bawah. Seketika juga aku penasaran sekaligus merinding. Jantungku berdegup lebih kencang. Suara siapa itu. Kenapa menggangguku di tengah malam ini. Kulihat jam di dinding kamar. Jam 01.00. Apa aku harus mengeceknya ke ruang bawah itu? Tapi, mang Asep melarangku membuka ruang bawah. Sebenarnya apa yang terjadi.
Ku ketuk pintu Lisa di sebelah kamarku. Karena tak ada jawaban, langsung saja membuka pintunya. Ku bangunkan Lisa yang tertidur pulas dengan menggoncangkan tubuhnya. Lisa bangun dan mengucek-ngucek matanya. “Ada apa sih Din, ngantuk tau!” “Lis, kamu denger suara cewek nangis gak?” Lisa pun terdiam dan menajamkan kupingnya. “Ah, kamu itu berhalusinasi aja.. gak ada gitu.. udah ah, aku mau tidur. Ngantuk!” “Lis, aku tidur disini ya.” Lisa hanya menarik selimutnya dan meneruskan tidur. Aku ikut berbaring di sebelah Lisa. Suara tangisan itu terdengar lagi. Tapi aku tak mempedulikannya. Lebih baik aku pejamkan mata saja.
—
Ini adalah hari ke tujuh aku disuruh lembur lagi sama si bos. Sebenarnya aku enggan, tapi karena kepepet, akhirnya aku iya kan saja. Setelah pulang, aku telepon Lisa. Ku suruh dia menjemputkku. Aku tak mau lagi naik bis aneh itu. Bagiku itu adalah hal misteri yang benar-benar membuatku bisa-bisa mati berdiri. Segera ku telepon Lisa. Tak diangkat. Kucoba beberapa kali. Ah.. kenapa dia tak mengangkatnya, padahal tadi dia berjanji mau menjemputku pulang. Ku telepon Riri, teman se kos juga. Tidak aktif. Kenapa dengan orang-orang ini. Bis itu berhenti lagi di depanku. Apa yang harus kuperbuat? Aku sangat bingung. Tiba-tiba pintu bis terbuka. Di balik pintu itu ada seorang perempuan cantik dan tersenyum padaku. Ia melambaikan tangannya, menyuruhku agar segera masuk. Dan entah kenapa, aku menuruti perintah dia. Aku pun segera naik. Dia duduk di sebelahku. Namun tak lama kemudian, aku merasa hawa sekitar sangat dingin, sampai menusuk tulang. Bulu kudukku ikut berdiri. Merinding. Perempuan di sebelahku tiba-tiba menangis pilu. Aku teringat dengan kejadian aneh di kos, karena suaranya sama persis. Aku menoleh dengan perlahan untuk memastikan apakah perempuan ini benar-benar orang, atau… HAH.. aku terlonjak kaget saat dia melihatku tajam. Dia menangis darah, wajahnya sangat pucat. Aku berlari menuju supir, dan meminta untuk berhenti. Tapi anehnya, supir itu seperti tidak mendengar suaraku. Padahal aku sudah berteriak minta berhenti. Ku goncangkan tubuhnya. Lagi-lagi aku terlonjak kaget saat supir itu menoleh ke arahku. Wajahnya sudah rusak dan agak hitam legam. Matanya berlubang satu. Aku dengan sigap lari menuju pintu bis, untunglah pintunya tidak tertutup, aku meloncat. Tubuhku terguling-guling di atas aspal. Tapi aku tak peduli, aku segera bangkit dan berlari. Tiiiit… tiiiiiit… Ckiiiit.. HAH.. Aku berdiri ketakutan di depan sepeda motor yang hampir saja menabrakku. “Dinaa.. kamu kenapa..” Kulihat orang yang menyebut namaku. Ternyata dia adalah Rizki, teman kuliahku. Aku langsung berhambur padanya, dan duduk di belakang Rizki dengan badan gemetar. Rizki masih terheran-heran melihatku. “To.. tolong an..ta..r.. ak.. u.. pu…lang.” kataku dengan gugup dan nafas yang masih tersengal. Tanpa bertanya lebih lanjut, Rizki mulai menjalankan maticnya.
Setelah sampai kos, Rizki mengantarku ke kamar dan membuatkan aku teh hangat. “Minum dulu biar tenang.” Aku pun segera meminumnya. Dalam hitungan detik, teh itu langsung habis. “Sebenarnya apa yang terjadi Din, kenapa tadi kamu tiba-tiba ada di tengah jalan, tengah malam lagi.” Aku masih terdiam. “Tangan kamu juga kenapa, kok berdarah gini. Kamu jatuh?” Aku menggeleng cepat. “Trus kenapa?” “Rizki, emm…” “Iya?” “Akuu.. takuut.” “Takut kenapa? Ada yang nyakitin kamu?” Aku menggeleng lagi. “Kenapa? Cerita aja. Kita kan udah deket. Ya kalau kamu gak cerita sekarang juga gak apa-apa sih. Besok kamu bisa cerita di kampus.” “Tapi, kamu habis dari mana ki, kok tengah malam gini kelayapan?” “Hahaha.. Dinaa Dina, aku gak kelayapan, tadi habis nganter si Tyo pulang, biasalah, maen di rumahku. Eh ya, aku balik dulu ya. Udah jam berapa ni, gak enak diliat tetangga. Kamu gak apa-apa kan sendiri.” “Iya gak apa-apa. Makasih ya udah mau anter pulang. Lagian udah ada Lisa sama Riri kok.” “iya udah deh.. sukur kalo ada temennya. Aku pulang dulu ya, sampe ketemu di kampus. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumus salam.” Rizki meninggalkanku. Aku segera beranjak ke kamar sebelah. Menemui Lisa. Ku buka pintunya tanpa kuketuk. Namun, tiba-tiba bau amis meggelitik hidungku. Aaaaaaaaa.
Ada yang memegang bahuku. Ku tepis tangan itu, “Din, ada apa, kenapa kamu teriak?” “Rizki, ka.. kamu belum pulang.” “Tadi aku denger kamu teriak, makannya aku balik.” Aku menunjuk telunjukku ke dalam kamar Lisa. Ku lihat wajah Rizki menjadi pucat. “A.. ku telepon polisi. Ka .. kamu tenang ya Din.” Aku hanya bisa menangis pasrah. Tiba-tiba ku teringat Riri. Dimana dia.. aku segera ke kamarnya. Ku buka pintunya. Kulihat Riri sedang tidur pulas. Segera ku goncangkan tubuhnya. “Riii, bangun Ri.. Ririii.. Banguunn.” Ia menggeliat. “ada apa sih?” Tanyanya. Setelah ku menceritakan tentang Lisa, ia terlonjak kaget dan segera berlari ke kamar Lisa. Riri memelukku dan menangis sambil berteriak memanggil Lisa. Tak lama kemudian, polisi dan pihak rumah sakit datang. Mereka segera mengurus kejadian itu. Aku, Rizki dan Riri ikut mereka.
Aku masih terdiam di depan makamnya Lisa. Rizki mencoba menghiburku. Sedangkan Riri, kata mang Asep, pulang ke rumahnya sendiri di Jakarta. Mungkin dia masih shock melihat keadaan Lisa yang terbunuh. Hal ini lah yang membuatku penasaran. Siapa yang tega membunuh temanku. Rizki mengajakku pulang. Kutinggalkan Lisa sendirian di dalam tanah yang menggunduk. Ketika di gerbang, entah ada kekuatan apa tiba-tiba aku ingin menolehkan pandanganku ke dalam makam. Kulihat disana ada Lisa sedang duduk dan tersenyum padaku. Kubalaskan senyumku padanya. Dia pun menghilang. Aku segera pulang diantar Rizki.
Di kos hari ini sangat sepi. Tidak ada lagi suara tawa keras Lisa dan sikap konyol Riri. Segera kuhubungi Riri. Ku ingin bertanya padanya, kapan dia mau balik ke kos. Tidak aktif. Hingga malam itu… Terdengar lagi suara tangis. Ah, cukup! Aku sudah bosan dengan suara tangisan itu. Ku beranikan diri untuk melihat ke ruang bawah, dekat gudang. Meskipun agak merinding, tapi apa boleh buat. Ku buka pintu perlahan-lahan. Tidak dikunci. Kulihat ruangan itu. Bau busuk menyeruak di hidungku. Ya ampun! Perempuan itu, yang ada di bis kemarin. Perempuan itu menoleh padaku. Rasa dingin menyelimutiku, tentu saja dengan bulu kuduk yang berdiri. Glekk. Dengan susah aku menelan ludah. Pahit. Perempuan itu mendekat kepadaku. Aku hanya bisa diam, rasanya kaki ini berat untuk melangkah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Tok tok tok.. Sepertinya ada suara ketukan pintu. Kuturunkan tanganku dan kubuka mataku dengan perlahan-lahan. Perempuan itu sudah tidak ada. Kemudian terdengar suara lirih. “Kamu harus pergi dari sini. Orang itu menuju kesini.” Aku tak mengerti apa maksudnya. Siapa orang itu? Siapa yang mau datang kesini? Tok tok tok.. Terdengar lagi suara ketukan pintu.
Aku segera menuju ke depan. Kubuka pintu. “maaf neng Dina, ada yang ketinggalan.” “Oh, mang Asep. Ketinggalan? Apanya yang ketinggalan?” “Kunci neng. Deket ruang bawah. Bisa tolong diambilin gak?” “Oh ya sudah.” Segera ku kembali ke tempat tadi. Tapi kemudian suara itu terdengar lagi, “Cepat pergi dari sini. Cepat pergi dari sini.” Tiba-tiba mang Asep datang menghampiriku dengan membawa pisau mengkilat di tangannya. Raut wajahnya telah berbeda. Agak menyeramkan dan seolah-olah dia benci melihatku. “Aku sudah bilang! Jangan pernah membuka ruang bawah. Kenapa kamu masih saja membukanya, hah!” Katanya sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang pisau. “Ta.. tapi, aku penasaran mang. Ada suara tangisan.” Kataku sambil melangkah mundur karena ketakutan. Ia tidak menjawab, ayunan pisaunyalah yang menjawab pembicaraanku barusan. Aku segera membalikkan badan dan berlari menuju pintu depan, hendak keluar. Ah, sial. Terkunci. “Mau kemana kamu, hah!” Aku melihat ke belakang, dia tersenyum menakutkan. “Mang.. mang Asep kenapa mau membunuh saya? Apa jangan-jangan mang Asep juga yang telah membunuh Lisa?” “Hahaha.. Dasar bodoh. Tentu saja aku yang telah membunuh Lisa! Kamu kira perampok yang membunuhnya?” katanya dengan garang. “Kenapa mang Asep ngelakuin itu semua? Apa salahku, apa salah Lisa? Kenapa mang Asep tega?” “Ah! Sudah diam! Banyak omong kamu mah!” Mataku melihat ada payung di sebelah pintu. Segera ku ambil dan kupukulkan ke tangan dan kepalanya. Pisau yang dipegangnya terjatuh. “Kurang ajar!” Ini kesempatanku untuk lari, saat dia mengambil pisaunya di bawah kursi. Segera kututup dan mengunci pintu kamarku. Kenapa aku mencium bau aneh? Segera ku putarkan pandanganku melihat sekeliling kamar. Eh, tapi ternyata ini bukan kamarku, ini kamar Riri. Mataku melihat ada darah yang berceceran dari kasur sampai ke lemari. Ku buka pintu lemari. Hah! Ririiii… Aku terduduk dan tergolek lemas di lantai. Tubuh Riri terbujur kaku di dalam lemari dengan pisau yang menancap di perutnya. Tok tok tok.. “Heh, buka pintunya! Dina, cepat buka!” Aku segera bangkit dengan keadaan bingung. Kuraih handphone Riri yang tergeletak di meja. Kunyalakan dan segera kupencet nomor Rizki. “Assalamu’alaikum, halo?” “Ha.. Halo, Riz.. Rizki.. ini aku, Dina.” “Iya, ada apa Din..” “Tolong aku Ki. Aku takut, aku mau dibunuh.” “Apa? Sekarang kamu dimana?” “Aku di kos, di kamar Riri. Tolong aku ki.” “Oke oke, kamu tenang ya, aku segera kesitu sama polisi..” Brakk pintu terbuka. “Hahaha, mau lari kemana kamu Dina?” Sementara di seberang telepon, Rizki masih berbicara. “Halo.. Halo.. Din, Dina..”
Segera ku lempar buku-buku Riri ke arah mang Asep. Mang Asep kelimpungan. Dan tepat saat aku melempar penggaris patah, ujung penggaris itu menusuk matanya. Aaaaaarrrgghhh. Teriaknya. Segera aku berlari lewat jendela yang telah ku pecahkan. Kress.. Aduh, tanganku tergores pecahan kaca dan mengeluarkan darah segar. Aku tak menyangka, mang Asep masih kuat mengejarku. Aku berlari menuju pagar. Ah, ternyata pagarnya juga sudah dikunci. Ku obrak-obrak pagarnya, tiba-tiba aku merasakan ada tubuh yang menyatu dengan tubuhku. Aku merasa lebih kuat dari sebelumnya. Mataku merah menyala. Segera ku hampiri mang Asep dengan dendam. Ku raih kerah bajunya dan ku angkat tubuhnya, lalu kubanting. Mang Asep melemparkan pisaunya ke arahku, namun aku berhasil menghindar. Pisau itu tertancap di pohon dekat pagar.
Rizki dan 4 orang polisi datang. Dua orang polisi meringkus mang Asep, dua polisi dan Rizki menghampiriku.. “Din, kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir banget… Din, kamu kenapa diam saja? Kenapa tanganmu dingin.” Aku menoleh ke arahnya tajam, sambil berkata dengan lantang, “Mang Asep dan temannya telah membunuhkuu. Mereka memperk*saku di bis saat tengah malam, setelah mereka puas, aku dibunuhnya dan dibawa ke ruang bawah di rumah ini. Teman mang Asep membunuh supir bis dan membakar bis itu, tapi untunglah, orang keji itu juga ikut terbakar. Sekarang kamu cek ke dalam dan lihatlah di ruang bawah itu!” Tiba-tiba aku merasa tubuh itu keluar dari tubuhku. Aku tergolek lemas. “Dina.” “Rizki, ayo kita ke dalam. Kuburkan mayat perempuan itu dan Riri.” Kataku dengan suara bergetar. “Apa? Bukannya Riri pulang ke Jakarta?” Aku menggeleng dan mengajaknya ke dalam. Setelah semua diperiksa dan diamankan, mayat-mayat itu dikubur secara layak. Besok aku berniat untuk pindah kos ke tempat yang lebih ramai dari sebelumnya.
Dalam dua hari, aku telah kehilangan dua teman terbaikku sekaligus. Pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Setelah mendo’akan Lisa dan Riri, segera kulangkahkan kaki, ditemani Rizki. Ku lihat kembali ke belakang, Ada Lisa dan Riri tersenyum ke arahku. Semoga kalian tenang disana. Aku kan selalu mendo’akan kalian teman.
Cerpen Karangan: Rosa Lina
Facebook: di_cha3[-at-]hotmail.com
Ku lihat di dalam bis, tak ada seorang pun. Semua tempat duduk kosong. Eh, tapi, tunggu dulu.. Aku menyipitkan mata, agar bisa jelas melihat dengan jelas. Di bangku pojok paling belakang, ada seorang perempuan dengan kepala tertunduk. Tapi aku tidak merasakan hal aneh, mungkin perempuan itu sedang tidur karena kecapekan. Ku putuskan segera duduk di bangku tengah dan menyandarkan kepalaku ke jendela bis. Tiba-tiba aku merasakan dingin yang sangat, bulu kuduk berdiri. Lampu dalam bis itu mati. Dan.. Wushhh. Aku terperanjat. Apa itu yang barusan lewat? Ku alihkan pandangan ke bangku belakang, ingin melihat perempuan yang tadi duduk dengan menunduk. Namun nihil, aku tak bisa melihatnya. Di luar bis pun terlihat sangat gelap sekali.
Beberapa menit kemudan lampu kembali menyala, dan bis berhenti. “Mbak, sudah sampai.” Kata supir dengan nada dingin. Aku terhenyak, dari mana supir ini tahu kalau aku berhenti disini, seingatku aku tidak bilang apapun tadi. Tapi, aku turun saja. Aku kasihkan uang dua lembar lima ribuan. Supir itu menerimanya tanpa menoleh sedikitpun. Aku tidak bisa melihatnya karena dia memakai topi, ditambah lagi kepalanya menunduk. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Ingin melihat perempuan yang tadi. Namun tidak ada. Sudahlah, aku turun saja, walaupun dalam pikiranku ada beribu-ribu pertanyaan yang membingungkanku.
Sesudah aku turun, dengan iseng aku lihat ke belakang. Kemana bis itu, kenapa tiba-tiba tidak ada. Masak iya bis itu melaju kencang. Tapi kalau pun bisnya melaju kencang, setidaknya masih terlihat jelas, karena jalan raya di depan kosku lurus, tak ada belokan. Aku pun segera masuk ke kos dengan berlari. Bukk. “Aduhh.” “Neng Dina, kenapa neng lari-lari, kaya ketakutan gitu..” Ah, sukurlah, itu Mang Asep. Penjaga kos disini. “Tidak apa-apa kok mang. Ya sudah, aku masuk dulu ya mang.” “Iya neng.”
—
Huh, dasar si bos, masak aku harus lembur lagi. Lagi-lagi aku pulang seperti kemarin. Namun kali ini tidak ada hujan deras. Di jalan pun masih ada kendaraan walau jarang. Tepat pukul 00.00, Bis itu datang lagi. Sebenarnya aku tidak mau naik bis ini lagi, takut kejadian kemarin terulang lagi. Tapi apa daya, malam sudah sangat larut. Aku hanya bisa pasrah. Lagi-lagi lampunya mati, dan ketakutanku terjadi. Wusshh. Aku hanya menutup mata, dan bus itu berhenti. Aku segera turun, dan berlari menuju kos. Segera kurebahkan badan yang sangat lelah ini di kasur kamarku. Baru saja terlelap dalam nikmatnya tidur, tiba-tiba terdengar suara perempuan menangis di ruang bawah. Seketika juga aku penasaran sekaligus merinding. Jantungku berdegup lebih kencang. Suara siapa itu. Kenapa menggangguku di tengah malam ini. Kulihat jam di dinding kamar. Jam 01.00. Apa aku harus mengeceknya ke ruang bawah itu? Tapi, mang Asep melarangku membuka ruang bawah. Sebenarnya apa yang terjadi.
Ku ketuk pintu Lisa di sebelah kamarku. Karena tak ada jawaban, langsung saja membuka pintunya. Ku bangunkan Lisa yang tertidur pulas dengan menggoncangkan tubuhnya. Lisa bangun dan mengucek-ngucek matanya. “Ada apa sih Din, ngantuk tau!” “Lis, kamu denger suara cewek nangis gak?” Lisa pun terdiam dan menajamkan kupingnya. “Ah, kamu itu berhalusinasi aja.. gak ada gitu.. udah ah, aku mau tidur. Ngantuk!” “Lis, aku tidur disini ya.” Lisa hanya menarik selimutnya dan meneruskan tidur. Aku ikut berbaring di sebelah Lisa. Suara tangisan itu terdengar lagi. Tapi aku tak mempedulikannya. Lebih baik aku pejamkan mata saja.
—
Ini adalah hari ke tujuh aku disuruh lembur lagi sama si bos. Sebenarnya aku enggan, tapi karena kepepet, akhirnya aku iya kan saja. Setelah pulang, aku telepon Lisa. Ku suruh dia menjemputkku. Aku tak mau lagi naik bis aneh itu. Bagiku itu adalah hal misteri yang benar-benar membuatku bisa-bisa mati berdiri. Segera ku telepon Lisa. Tak diangkat. Kucoba beberapa kali. Ah.. kenapa dia tak mengangkatnya, padahal tadi dia berjanji mau menjemputku pulang. Ku telepon Riri, teman se kos juga. Tidak aktif. Kenapa dengan orang-orang ini. Bis itu berhenti lagi di depanku. Apa yang harus kuperbuat? Aku sangat bingung. Tiba-tiba pintu bis terbuka. Di balik pintu itu ada seorang perempuan cantik dan tersenyum padaku. Ia melambaikan tangannya, menyuruhku agar segera masuk. Dan entah kenapa, aku menuruti perintah dia. Aku pun segera naik. Dia duduk di sebelahku. Namun tak lama kemudian, aku merasa hawa sekitar sangat dingin, sampai menusuk tulang. Bulu kudukku ikut berdiri. Merinding. Perempuan di sebelahku tiba-tiba menangis pilu. Aku teringat dengan kejadian aneh di kos, karena suaranya sama persis. Aku menoleh dengan perlahan untuk memastikan apakah perempuan ini benar-benar orang, atau… HAH.. aku terlonjak kaget saat dia melihatku tajam. Dia menangis darah, wajahnya sangat pucat. Aku berlari menuju supir, dan meminta untuk berhenti. Tapi anehnya, supir itu seperti tidak mendengar suaraku. Padahal aku sudah berteriak minta berhenti. Ku goncangkan tubuhnya. Lagi-lagi aku terlonjak kaget saat supir itu menoleh ke arahku. Wajahnya sudah rusak dan agak hitam legam. Matanya berlubang satu. Aku dengan sigap lari menuju pintu bis, untunglah pintunya tidak tertutup, aku meloncat. Tubuhku terguling-guling di atas aspal. Tapi aku tak peduli, aku segera bangkit dan berlari. Tiiiit… tiiiiiit… Ckiiiit.. HAH.. Aku berdiri ketakutan di depan sepeda motor yang hampir saja menabrakku. “Dinaa.. kamu kenapa..” Kulihat orang yang menyebut namaku. Ternyata dia adalah Rizki, teman kuliahku. Aku langsung berhambur padanya, dan duduk di belakang Rizki dengan badan gemetar. Rizki masih terheran-heran melihatku. “To.. tolong an..ta..r.. ak.. u.. pu…lang.” kataku dengan gugup dan nafas yang masih tersengal. Tanpa bertanya lebih lanjut, Rizki mulai menjalankan maticnya.
Setelah sampai kos, Rizki mengantarku ke kamar dan membuatkan aku teh hangat. “Minum dulu biar tenang.” Aku pun segera meminumnya. Dalam hitungan detik, teh itu langsung habis. “Sebenarnya apa yang terjadi Din, kenapa tadi kamu tiba-tiba ada di tengah jalan, tengah malam lagi.” Aku masih terdiam. “Tangan kamu juga kenapa, kok berdarah gini. Kamu jatuh?” Aku menggeleng cepat. “Trus kenapa?” “Rizki, emm…” “Iya?” “Akuu.. takuut.” “Takut kenapa? Ada yang nyakitin kamu?” Aku menggeleng lagi. “Kenapa? Cerita aja. Kita kan udah deket. Ya kalau kamu gak cerita sekarang juga gak apa-apa sih. Besok kamu bisa cerita di kampus.” “Tapi, kamu habis dari mana ki, kok tengah malam gini kelayapan?” “Hahaha.. Dinaa Dina, aku gak kelayapan, tadi habis nganter si Tyo pulang, biasalah, maen di rumahku. Eh ya, aku balik dulu ya. Udah jam berapa ni, gak enak diliat tetangga. Kamu gak apa-apa kan sendiri.” “Iya gak apa-apa. Makasih ya udah mau anter pulang. Lagian udah ada Lisa sama Riri kok.” “iya udah deh.. sukur kalo ada temennya. Aku pulang dulu ya, sampe ketemu di kampus. Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikumus salam.” Rizki meninggalkanku. Aku segera beranjak ke kamar sebelah. Menemui Lisa. Ku buka pintunya tanpa kuketuk. Namun, tiba-tiba bau amis meggelitik hidungku. Aaaaaaaaa.
Ada yang memegang bahuku. Ku tepis tangan itu, “Din, ada apa, kenapa kamu teriak?” “Rizki, ka.. kamu belum pulang.” “Tadi aku denger kamu teriak, makannya aku balik.” Aku menunjuk telunjukku ke dalam kamar Lisa. Ku lihat wajah Rizki menjadi pucat. “A.. ku telepon polisi. Ka .. kamu tenang ya Din.” Aku hanya bisa menangis pasrah. Tiba-tiba ku teringat Riri. Dimana dia.. aku segera ke kamarnya. Ku buka pintunya. Kulihat Riri sedang tidur pulas. Segera ku goncangkan tubuhnya. “Riii, bangun Ri.. Ririii.. Banguunn.” Ia menggeliat. “ada apa sih?” Tanyanya. Setelah ku menceritakan tentang Lisa, ia terlonjak kaget dan segera berlari ke kamar Lisa. Riri memelukku dan menangis sambil berteriak memanggil Lisa. Tak lama kemudian, polisi dan pihak rumah sakit datang. Mereka segera mengurus kejadian itu. Aku, Rizki dan Riri ikut mereka.
Aku masih terdiam di depan makamnya Lisa. Rizki mencoba menghiburku. Sedangkan Riri, kata mang Asep, pulang ke rumahnya sendiri di Jakarta. Mungkin dia masih shock melihat keadaan Lisa yang terbunuh. Hal ini lah yang membuatku penasaran. Siapa yang tega membunuh temanku. Rizki mengajakku pulang. Kutinggalkan Lisa sendirian di dalam tanah yang menggunduk. Ketika di gerbang, entah ada kekuatan apa tiba-tiba aku ingin menolehkan pandanganku ke dalam makam. Kulihat disana ada Lisa sedang duduk dan tersenyum padaku. Kubalaskan senyumku padanya. Dia pun menghilang. Aku segera pulang diantar Rizki.
Di kos hari ini sangat sepi. Tidak ada lagi suara tawa keras Lisa dan sikap konyol Riri. Segera kuhubungi Riri. Ku ingin bertanya padanya, kapan dia mau balik ke kos. Tidak aktif. Hingga malam itu… Terdengar lagi suara tangis. Ah, cukup! Aku sudah bosan dengan suara tangisan itu. Ku beranikan diri untuk melihat ke ruang bawah, dekat gudang. Meskipun agak merinding, tapi apa boleh buat. Ku buka pintu perlahan-lahan. Tidak dikunci. Kulihat ruangan itu. Bau busuk menyeruak di hidungku. Ya ampun! Perempuan itu, yang ada di bis kemarin. Perempuan itu menoleh padaku. Rasa dingin menyelimutiku, tentu saja dengan bulu kuduk yang berdiri. Glekk. Dengan susah aku menelan ludah. Pahit. Perempuan itu mendekat kepadaku. Aku hanya bisa diam, rasanya kaki ini berat untuk melangkah. Kututup wajahku dengan kedua tanganku. Tok tok tok.. Sepertinya ada suara ketukan pintu. Kuturunkan tanganku dan kubuka mataku dengan perlahan-lahan. Perempuan itu sudah tidak ada. Kemudian terdengar suara lirih. “Kamu harus pergi dari sini. Orang itu menuju kesini.” Aku tak mengerti apa maksudnya. Siapa orang itu? Siapa yang mau datang kesini? Tok tok tok.. Terdengar lagi suara ketukan pintu.
Aku segera menuju ke depan. Kubuka pintu. “maaf neng Dina, ada yang ketinggalan.” “Oh, mang Asep. Ketinggalan? Apanya yang ketinggalan?” “Kunci neng. Deket ruang bawah. Bisa tolong diambilin gak?” “Oh ya sudah.” Segera ku kembali ke tempat tadi. Tapi kemudian suara itu terdengar lagi, “Cepat pergi dari sini. Cepat pergi dari sini.” Tiba-tiba mang Asep datang menghampiriku dengan membawa pisau mengkilat di tangannya. Raut wajahnya telah berbeda. Agak menyeramkan dan seolah-olah dia benci melihatku. “Aku sudah bilang! Jangan pernah membuka ruang bawah. Kenapa kamu masih saja membukanya, hah!” Katanya sambil mengangkat tangannya yang sedang memegang pisau. “Ta.. tapi, aku penasaran mang. Ada suara tangisan.” Kataku sambil melangkah mundur karena ketakutan. Ia tidak menjawab, ayunan pisaunyalah yang menjawab pembicaraanku barusan. Aku segera membalikkan badan dan berlari menuju pintu depan, hendak keluar. Ah, sial. Terkunci. “Mau kemana kamu, hah!” Aku melihat ke belakang, dia tersenyum menakutkan. “Mang.. mang Asep kenapa mau membunuh saya? Apa jangan-jangan mang Asep juga yang telah membunuh Lisa?” “Hahaha.. Dasar bodoh. Tentu saja aku yang telah membunuh Lisa! Kamu kira perampok yang membunuhnya?” katanya dengan garang. “Kenapa mang Asep ngelakuin itu semua? Apa salahku, apa salah Lisa? Kenapa mang Asep tega?” “Ah! Sudah diam! Banyak omong kamu mah!” Mataku melihat ada payung di sebelah pintu. Segera ku ambil dan kupukulkan ke tangan dan kepalanya. Pisau yang dipegangnya terjatuh. “Kurang ajar!” Ini kesempatanku untuk lari, saat dia mengambil pisaunya di bawah kursi. Segera kututup dan mengunci pintu kamarku. Kenapa aku mencium bau aneh? Segera ku putarkan pandanganku melihat sekeliling kamar. Eh, tapi ternyata ini bukan kamarku, ini kamar Riri. Mataku melihat ada darah yang berceceran dari kasur sampai ke lemari. Ku buka pintu lemari. Hah! Ririiii… Aku terduduk dan tergolek lemas di lantai. Tubuh Riri terbujur kaku di dalam lemari dengan pisau yang menancap di perutnya. Tok tok tok.. “Heh, buka pintunya! Dina, cepat buka!” Aku segera bangkit dengan keadaan bingung. Kuraih handphone Riri yang tergeletak di meja. Kunyalakan dan segera kupencet nomor Rizki. “Assalamu’alaikum, halo?” “Ha.. Halo, Riz.. Rizki.. ini aku, Dina.” “Iya, ada apa Din..” “Tolong aku Ki. Aku takut, aku mau dibunuh.” “Apa? Sekarang kamu dimana?” “Aku di kos, di kamar Riri. Tolong aku ki.” “Oke oke, kamu tenang ya, aku segera kesitu sama polisi..” Brakk pintu terbuka. “Hahaha, mau lari kemana kamu Dina?” Sementara di seberang telepon, Rizki masih berbicara. “Halo.. Halo.. Din, Dina..”
Segera ku lempar buku-buku Riri ke arah mang Asep. Mang Asep kelimpungan. Dan tepat saat aku melempar penggaris patah, ujung penggaris itu menusuk matanya. Aaaaaarrrgghhh. Teriaknya. Segera aku berlari lewat jendela yang telah ku pecahkan. Kress.. Aduh, tanganku tergores pecahan kaca dan mengeluarkan darah segar. Aku tak menyangka, mang Asep masih kuat mengejarku. Aku berlari menuju pagar. Ah, ternyata pagarnya juga sudah dikunci. Ku obrak-obrak pagarnya, tiba-tiba aku merasakan ada tubuh yang menyatu dengan tubuhku. Aku merasa lebih kuat dari sebelumnya. Mataku merah menyala. Segera ku hampiri mang Asep dengan dendam. Ku raih kerah bajunya dan ku angkat tubuhnya, lalu kubanting. Mang Asep melemparkan pisaunya ke arahku, namun aku berhasil menghindar. Pisau itu tertancap di pohon dekat pagar.
Rizki dan 4 orang polisi datang. Dua orang polisi meringkus mang Asep, dua polisi dan Rizki menghampiriku.. “Din, kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir banget… Din, kamu kenapa diam saja? Kenapa tanganmu dingin.” Aku menoleh ke arahnya tajam, sambil berkata dengan lantang, “Mang Asep dan temannya telah membunuhkuu. Mereka memperk*saku di bis saat tengah malam, setelah mereka puas, aku dibunuhnya dan dibawa ke ruang bawah di rumah ini. Teman mang Asep membunuh supir bis dan membakar bis itu, tapi untunglah, orang keji itu juga ikut terbakar. Sekarang kamu cek ke dalam dan lihatlah di ruang bawah itu!” Tiba-tiba aku merasa tubuh itu keluar dari tubuhku. Aku tergolek lemas. “Dina.” “Rizki, ayo kita ke dalam. Kuburkan mayat perempuan itu dan Riri.” Kataku dengan suara bergetar. “Apa? Bukannya Riri pulang ke Jakarta?” Aku menggeleng dan mengajaknya ke dalam. Setelah semua diperiksa dan diamankan, mayat-mayat itu dikubur secara layak. Besok aku berniat untuk pindah kos ke tempat yang lebih ramai dari sebelumnya.
Dalam dua hari, aku telah kehilangan dua teman terbaikku sekaligus. Pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Setelah mendo’akan Lisa dan Riri, segera kulangkahkan kaki, ditemani Rizki. Ku lihat kembali ke belakang, Ada Lisa dan Riri tersenyum ke arahku. Semoga kalian tenang disana. Aku kan selalu mendo’akan kalian teman.
Cerpen Karangan: Rosa Lina
Facebook: di_cha3[-at-]hotmail.com
LARI!
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Lari! Lari! Lari! Hanya itu yang ada di pikiranku saat ini, ketakutanku ini semakin menjadi-jadi….
—
Pagi itu adalah pagi yang cerah. Di tengah libur panjang ini, pada hari ini aku berniat untuk menuju ke taman untuk bermain basket dengan teman-temanku seperti biasa.
Oh iya! Perkenalkan namaku Muhammad Murasakibara 13 tahun, wajahku diatas rata-rata alias Tampan Menawan (prettt), ayahku adalah orang jepang jadi namaku adalah nama jepang. Teman-Temanku biasanya memanggilku Muk-kun, Murasakicchi, Bara, Saki dan lain lain tapi biasanya mereka memanggilku Mukk-kun.
Semuanya berjalan seperti hari-hari lainnya kecuali satu hal. Yaitu ketika aku pulang ke rumah dari lapangan, aku melihat ada seorang pria yang berbadan besar-berotot, bertelanjang dada, mengenakan celana tentara panjang dan dia sedang berteriak-teriak tentang sesuatu yang tak dapat ku cerna dengan baik di otakku. tapi ku pikir mungkin itu hanya kuli bangunan yang sedang membangun rumah tersebut karena rumah itu baru saja di beli.
Keesokan harinya aku dan teman-teman ku berencana untuk pergi ke warnet, seperti biasa aku, rizky, rafi, kevin, dan adikku pergi ke warnet naik motor. Sesampainya di warnet seperti biasa kami langsung menduduki tempat favorit kami, yaitu di pojok warnet…
Tidak terasa hari sudah sore, kami berlima memutuskan untuk pulang, di tengah perjalanan kamu membeli empat buah batu yang berbentuk tanduk, kata penjualnya itu adalah tanduk kutukan sehingga hanya aku yang tak membelinya karena ketakutan.
Sesampainya di depan rumah, aku melihat orang yang kemarin masih berdiri di atas genteng tersebut dan masih melakukan hal yang sama dengan kemarin, tapi kali ini aku dapat mendengar dengan baik apa yang ia ucapkan. Ternyata selama ini dia meneriakan kata-kata “MATI LAH KAU” secara berulang-ulang, aku pun merinding dan bergidik dibuatnya. Dan yang lebih menyeramkan lagi dia sempat memelototi aku, dan seakan-akan dia akan membunuh-ku!!! Aku pun masuk ke rumah karena ketakutan setengah mati.
Esok harinya aku bertanya kepada keluarga, pembantu dan teman-teman ku, tetapi saat aku tanyakan apakah mereka pernah melihat ada seseorang yang sedang berteriak-teriak di atas genteng atau tidak, semuanya berkata bahwa tak ada siapapun dan mereka juga tak mendengar teriakan apapun! Itu membuatku semakin merinding, dan aku mulai berfikir kalau itu hanyalah imajinasi ku saja.
Hari-hari ku lewati seperti biasa dan orang itu tetap berada di sana, tetapi ada yang tidak beres pada orang tersebut saat ini. Entah ini perasaanku saja atau memang karena besok adalah malah jum’at kliwon dan bulan purnama, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Pada malam harinya aku mendengar kabar bahwa seorang kuli bangunan mati dengan tragis, yaitu mati terkena gergaji mesin, aku makin ketakutan dan berharap bahwa itu hanyalah imajinasi ku saja, tetapi… tiba tiba handphone ku berdering aku pun meloncat kaget, “eh mamakk!!!, huhhh aku kira ada apa ehh ternyata cuman HP”, ternyata yang membuat HP ku berdering adalah sebuah SMS dari teman ku yang mengatakan bahwa teman ku Rizky meninggal dibunuh secara tragis, badannya terbelah-belah dan memegang sebuah batu. disitu juga disertakan foto mayat tersebut. Aku pun bergidik karena jijik, sekaligus ingin menangis, aku mulai berfikir tentang hal yang tidak-tidak, yaitu dia dibunuh oleh hantu kuli itu karena dia memiliki batu kutukan itu, sesaat kemudian seorang Rafi dikabarkan meninggal dengan cara yang sama seperti Rizky. Dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah ku!!! (jeng jeng jeng jengggg) aku pun membuka pintunya sambil membayangkan apa yang mengetuk pintu ku, Dan ternyata itu kevin!!!, “Huh nakutin aje lu”, kataku, “lah napa lu? Hahah”, balasnya, “oh iya ngomong-ngomong lu mau ngapain ke rumah gue malem-malem gini?”, “yaelah baru juga jam 7″, “iye dah serah loo, ya udah ngapain lu ke rumah gua?”, “gua cuman pengen ngecek elo aja, soalnya lu pasti dapet SMS itu juga kan??”, “oohhh… yang itu, udah jangan diomongin”, “iya-iya, yaudah gua pamit dulu ye!”, “Lohhh gak mau makan ato minum dulu??” tanya ku basa-basi, “gak usah, yaudah gua pamit dulu yaa” sambil menaiki motornya dan berjalan pulang, sekitar beberapa detik kemudian aku mendengar suara tabrakan yang sangat dahsyat, dan saat aku keluar untuk mengecek, kalau-kalau yang tadi itu Kevin, Dan ternyata benar!!! Aku melihar jasad kevin dengan badan terbelah jatuh dari motornya dan masih mengalungi batu kutukan itu!.
Keesokan harinya aku tak masuk sekolah karena masih trauma, tapi tiba-tiba aku teringat dengan orang di atas genteng itu, dan saat ku cek dia telah menghilang, aku lega bahwa orang itu sudah menghilang. Tapi tiba-tiba adikku dikabarkan menghilang dan tidak ada di sekolah aku pikir dia mungkin pergi bolos atau apa. Tapi tiba-tiba aku melihat ada mayat adikku di dalam kloset dan dia masih menggenggam batu kutukan itu, lalu aku pun pingsan.
Gelap… hanya itu yang dapat ku rasakan. tiba-tiba aku terbangun dan aku berada di sebuah ruangan dan ruangan itu ternyata adalah rumah tetanggaku lalu si kuli yang ku duga pembunuh orang-orang tercintaku itu terjun ke bawah. Dan aku melihat dia membawa gergaji dan siap membunuhku! Dia mengarahkan gergajinya ke muka ku lalu dia mengayunkan gergajinya tapi meleset. Aku pun segera berlari keluar rumah dan berlari menuju ke pos satpam. Aku meminta tolong kepada mereka tapi mereka mengira aku bercanda!!! Aku pun akhirnya memutuskan untuk berlari keluar komplek agak jauh lalu aku menengok ke belakang ternyata orang itu sedang membantai para satpam dengan sangat cepat, Tanpa sadar orang itu kini berada di belakang ku dan besiap untuk menusukku tetapi aku berhasil mengelak, dan sekarang yang aku tahu pasti hanya satu hal! Yaitu LARI! LARI! LARI!
Cerpen Karangan: Andii
Facebook: Septiandi Rizqur Rahman
Hai semua! Ini adalah cerpen pertamaku yang kubuat berdasarkan mimpi burukku
Namaku Andii, 13 tahun!
Twitter: @septiandirizqur
Facebook: Septiandi Rizqur Rahman
Pin BB: 24DA188E
—
Pagi itu adalah pagi yang cerah. Di tengah libur panjang ini, pada hari ini aku berniat untuk menuju ke taman untuk bermain basket dengan teman-temanku seperti biasa.
Oh iya! Perkenalkan namaku Muhammad Murasakibara 13 tahun, wajahku diatas rata-rata alias Tampan Menawan (prettt), ayahku adalah orang jepang jadi namaku adalah nama jepang. Teman-Temanku biasanya memanggilku Muk-kun, Murasakicchi, Bara, Saki dan lain lain tapi biasanya mereka memanggilku Mukk-kun.
Semuanya berjalan seperti hari-hari lainnya kecuali satu hal. Yaitu ketika aku pulang ke rumah dari lapangan, aku melihat ada seorang pria yang berbadan besar-berotot, bertelanjang dada, mengenakan celana tentara panjang dan dia sedang berteriak-teriak tentang sesuatu yang tak dapat ku cerna dengan baik di otakku. tapi ku pikir mungkin itu hanya kuli bangunan yang sedang membangun rumah tersebut karena rumah itu baru saja di beli.
Keesokan harinya aku dan teman-teman ku berencana untuk pergi ke warnet, seperti biasa aku, rizky, rafi, kevin, dan adikku pergi ke warnet naik motor. Sesampainya di warnet seperti biasa kami langsung menduduki tempat favorit kami, yaitu di pojok warnet…
Tidak terasa hari sudah sore, kami berlima memutuskan untuk pulang, di tengah perjalanan kamu membeli empat buah batu yang berbentuk tanduk, kata penjualnya itu adalah tanduk kutukan sehingga hanya aku yang tak membelinya karena ketakutan.
Sesampainya di depan rumah, aku melihat orang yang kemarin masih berdiri di atas genteng tersebut dan masih melakukan hal yang sama dengan kemarin, tapi kali ini aku dapat mendengar dengan baik apa yang ia ucapkan. Ternyata selama ini dia meneriakan kata-kata “MATI LAH KAU” secara berulang-ulang, aku pun merinding dan bergidik dibuatnya. Dan yang lebih menyeramkan lagi dia sempat memelototi aku, dan seakan-akan dia akan membunuh-ku!!! Aku pun masuk ke rumah karena ketakutan setengah mati.
Esok harinya aku bertanya kepada keluarga, pembantu dan teman-teman ku, tetapi saat aku tanyakan apakah mereka pernah melihat ada seseorang yang sedang berteriak-teriak di atas genteng atau tidak, semuanya berkata bahwa tak ada siapapun dan mereka juga tak mendengar teriakan apapun! Itu membuatku semakin merinding, dan aku mulai berfikir kalau itu hanyalah imajinasi ku saja.
Hari-hari ku lewati seperti biasa dan orang itu tetap berada di sana, tetapi ada yang tidak beres pada orang tersebut saat ini. Entah ini perasaanku saja atau memang karena besok adalah malah jum’at kliwon dan bulan purnama, tapi mungkin itu hanya perasaanku saja. Pada malam harinya aku mendengar kabar bahwa seorang kuli bangunan mati dengan tragis, yaitu mati terkena gergaji mesin, aku makin ketakutan dan berharap bahwa itu hanyalah imajinasi ku saja, tetapi… tiba tiba handphone ku berdering aku pun meloncat kaget, “eh mamakk!!!, huhhh aku kira ada apa ehh ternyata cuman HP”, ternyata yang membuat HP ku berdering adalah sebuah SMS dari teman ku yang mengatakan bahwa teman ku Rizky meninggal dibunuh secara tragis, badannya terbelah-belah dan memegang sebuah batu. disitu juga disertakan foto mayat tersebut. Aku pun bergidik karena jijik, sekaligus ingin menangis, aku mulai berfikir tentang hal yang tidak-tidak, yaitu dia dibunuh oleh hantu kuli itu karena dia memiliki batu kutukan itu, sesaat kemudian seorang Rafi dikabarkan meninggal dengan cara yang sama seperti Rizky. Dan tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah ku!!! (jeng jeng jeng jengggg) aku pun membuka pintunya sambil membayangkan apa yang mengetuk pintu ku, Dan ternyata itu kevin!!!, “Huh nakutin aje lu”, kataku, “lah napa lu? Hahah”, balasnya, “oh iya ngomong-ngomong lu mau ngapain ke rumah gue malem-malem gini?”, “yaelah baru juga jam 7″, “iye dah serah loo, ya udah ngapain lu ke rumah gua?”, “gua cuman pengen ngecek elo aja, soalnya lu pasti dapet SMS itu juga kan??”, “oohhh… yang itu, udah jangan diomongin”, “iya-iya, yaudah gua pamit dulu ye!”, “Lohhh gak mau makan ato minum dulu??” tanya ku basa-basi, “gak usah, yaudah gua pamit dulu yaa” sambil menaiki motornya dan berjalan pulang, sekitar beberapa detik kemudian aku mendengar suara tabrakan yang sangat dahsyat, dan saat aku keluar untuk mengecek, kalau-kalau yang tadi itu Kevin, Dan ternyata benar!!! Aku melihar jasad kevin dengan badan terbelah jatuh dari motornya dan masih mengalungi batu kutukan itu!.
Keesokan harinya aku tak masuk sekolah karena masih trauma, tapi tiba-tiba aku teringat dengan orang di atas genteng itu, dan saat ku cek dia telah menghilang, aku lega bahwa orang itu sudah menghilang. Tapi tiba-tiba adikku dikabarkan menghilang dan tidak ada di sekolah aku pikir dia mungkin pergi bolos atau apa. Tapi tiba-tiba aku melihat ada mayat adikku di dalam kloset dan dia masih menggenggam batu kutukan itu, lalu aku pun pingsan.
Gelap… hanya itu yang dapat ku rasakan. tiba-tiba aku terbangun dan aku berada di sebuah ruangan dan ruangan itu ternyata adalah rumah tetanggaku lalu si kuli yang ku duga pembunuh orang-orang tercintaku itu terjun ke bawah. Dan aku melihat dia membawa gergaji dan siap membunuhku! Dia mengarahkan gergajinya ke muka ku lalu dia mengayunkan gergajinya tapi meleset. Aku pun segera berlari keluar rumah dan berlari menuju ke pos satpam. Aku meminta tolong kepada mereka tapi mereka mengira aku bercanda!!! Aku pun akhirnya memutuskan untuk berlari keluar komplek agak jauh lalu aku menengok ke belakang ternyata orang itu sedang membantai para satpam dengan sangat cepat, Tanpa sadar orang itu kini berada di belakang ku dan besiap untuk menusukku tetapi aku berhasil mengelak, dan sekarang yang aku tahu pasti hanya satu hal! Yaitu LARI! LARI! LARI!
Cerpen Karangan: Andii
Facebook: Septiandi Rizqur Rahman
Hai semua! Ini adalah cerpen pertamaku yang kubuat berdasarkan mimpi burukku
Namaku Andii, 13 tahun!
Twitter: @septiandirizqur
Facebook: Septiandi Rizqur Rahman
Pin BB: 24DA188E
My Horror Story
Alam Semesta
Juni 02, 2015
2 february, tahun 2011. Dimulainya liburan musim panas, saat itu, aurell, olivia, athalla, randi, hima, syara dan reyhana akan liburan musim panas, kami akan menentukan tempat berlibur yang paling nyaman untuk dipakai menjadi tempat berkemah.
“kira kira nanti kita liiburan kemana yes?” kata aurell.
“eh gimana kalau ke mall!” kata olivia.
“wah oliv ngaco nieh! Mana ada berkemah di mall..” kata randy.
Semua tertawa terbahak bahak.
“ya udah! Gimana kalo ke bukit angker yang katanya ada penghuninya!” kata reyhana.
“ihhh sereeem gak mau ah! Kita kan masih sd kelas 3! Kok diajak ke situ sih!!!” kata hima dan olivia.
“namanya sih memang bukit angker, tapi tempatnya gak angker…” kata aurellia.
“iya… Bener tuh, jadi kalian gak boleh takut gitu, kaya pecundang tau gak” kata athalla.
“ta… Tapi kalau ada apa apa jangan nyalahin kami!” kata hima.
Kami semua pun hendak pergi, pergi naik mobil syahra. Mobil syahra menabrak sesuatu, kami langsung saja rela mengeceknya, mobil syahra menabrak anak kucing! Semua terkejut, “wah anak kucing!!! Kenapa ia bisa tertabrak! Padahal tadi tidak ada kucing!” kata olivia.
“kalau ada kucing tertabrak, itu pasti pertanda buruk!” kata aurell ketakutan.
“lalu kenapa setiap liburan musim panas kita harus terus menjalani ini!” kata syahra.
“apa mungkin kita dikutuk untuk ini ya?” kata athalla.
“eh athalla! Jangan asal asalan ngomong!” kata aurellia.
Kami pun meneruskan perjalanan, siang berganti malam, saat aurell tidur, ia meliat ada bayangan hitam berbaju putih, aurell berteriak sampai teman temannya bangun. “aurell! Ada apa sih! Beriik banget ih what are you doing?” kata reyhana.
“tadi.. Tadi itu..”.
“tadi apa? Udah deh! Buruan tidur rel! Kamu nanti terlambat bangun loh!” kata olivia menyela obrolan aurell. Aurell pun kembali tidur, tiba tiba! Bug!!! Tenda seperti ditendang tendang, semua berteriak “aaaaakkkhhh”.
“i… Itu apa ya tadi uuuhhuuuhhh” kata olivia terengah engah ketakutan.
“kan kata aku juga apa! Pertanda buruk…” kata aurell menghembus nafas.
“lalu kita harus apa?” kata randy dan reyhana.
“udah lah gak usah dipikirin, besok juga paling paling kita pulang kan” kata athalla.
“iya, tapi kita udah terlalu takut kamu tuh yaaa…” kata aurell.
“ya mau gimana lagi? Kalian kan anak perempuan penakut” kata athalla dan randi.
“bukan gitu, ini kejadian sungguhan!” kata hima.
Mereka pun mengikuti nasehat anak laki laki, mereka kembali tidur menahan rasa takut, malam menjelang subuh, aurell melihat teman temanya masih tertidur, aurell hendak ingin membangunkannya, tapi dia tak tega, jadi ia mandi ke sungai sendiri saja, cuuur air dituangkannya ke ember, dia pun segera mandi, setelah ia mandi, ia melihat ada sosok putih di kaca, aurel berteriak lagi, “aaaaaa!!! Toooloooog!!!!” kata aurell membangunkan rey yang sedang enak enakan tidur
Rey khawatir, rey lalu menghampiri aurel, rey melihat aurell tercekik oleh sosok nenek tua yang mukanya seperti mayat, “aaah?” kata reyhana sambil membaca al qur’an terus menerus, 8 menit, nenek itu pun menghilang. Aurell menangis sambil memeluk rey, “rey tolong aku, hiks hiks ua hua hua ua hua ua…” kata aurell sambil menangis.
“baiklah, aku percaya padamu, sudah tak apa apa ya…” kata reyhana.
“tapi… Tapi kan aku, takut!!” kata aurell lagi.
Semua terbangun, setelah selesai semua, baru mereka pulang ke rumah masing masing.
Cerpen Karangan: Aurellia Khadeliu Susanto
Facebook: Heri Susanto
“kira kira nanti kita liiburan kemana yes?” kata aurell.
“eh gimana kalau ke mall!” kata olivia.
“wah oliv ngaco nieh! Mana ada berkemah di mall..” kata randy.
Semua tertawa terbahak bahak.
“ya udah! Gimana kalo ke bukit angker yang katanya ada penghuninya!” kata reyhana.
“ihhh sereeem gak mau ah! Kita kan masih sd kelas 3! Kok diajak ke situ sih!!!” kata hima dan olivia.
“namanya sih memang bukit angker, tapi tempatnya gak angker…” kata aurellia.
“iya… Bener tuh, jadi kalian gak boleh takut gitu, kaya pecundang tau gak” kata athalla.
“ta… Tapi kalau ada apa apa jangan nyalahin kami!” kata hima.
Kami semua pun hendak pergi, pergi naik mobil syahra. Mobil syahra menabrak sesuatu, kami langsung saja rela mengeceknya, mobil syahra menabrak anak kucing! Semua terkejut, “wah anak kucing!!! Kenapa ia bisa tertabrak! Padahal tadi tidak ada kucing!” kata olivia.
“kalau ada kucing tertabrak, itu pasti pertanda buruk!” kata aurell ketakutan.
“lalu kenapa setiap liburan musim panas kita harus terus menjalani ini!” kata syahra.
“apa mungkin kita dikutuk untuk ini ya?” kata athalla.
“eh athalla! Jangan asal asalan ngomong!” kata aurellia.
Kami pun meneruskan perjalanan, siang berganti malam, saat aurell tidur, ia meliat ada bayangan hitam berbaju putih, aurell berteriak sampai teman temannya bangun. “aurell! Ada apa sih! Beriik banget ih what are you doing?” kata reyhana.
“tadi.. Tadi itu..”.
“tadi apa? Udah deh! Buruan tidur rel! Kamu nanti terlambat bangun loh!” kata olivia menyela obrolan aurell. Aurell pun kembali tidur, tiba tiba! Bug!!! Tenda seperti ditendang tendang, semua berteriak “aaaaakkkhhh”.
“i… Itu apa ya tadi uuuhhuuuhhh” kata olivia terengah engah ketakutan.
“kan kata aku juga apa! Pertanda buruk…” kata aurell menghembus nafas.
“lalu kita harus apa?” kata randy dan reyhana.
“udah lah gak usah dipikirin, besok juga paling paling kita pulang kan” kata athalla.
“iya, tapi kita udah terlalu takut kamu tuh yaaa…” kata aurell.
“ya mau gimana lagi? Kalian kan anak perempuan penakut” kata athalla dan randi.
“bukan gitu, ini kejadian sungguhan!” kata hima.
Mereka pun mengikuti nasehat anak laki laki, mereka kembali tidur menahan rasa takut, malam menjelang subuh, aurell melihat teman temanya masih tertidur, aurell hendak ingin membangunkannya, tapi dia tak tega, jadi ia mandi ke sungai sendiri saja, cuuur air dituangkannya ke ember, dia pun segera mandi, setelah ia mandi, ia melihat ada sosok putih di kaca, aurel berteriak lagi, “aaaaaa!!! Toooloooog!!!!” kata aurell membangunkan rey yang sedang enak enakan tidur
Rey khawatir, rey lalu menghampiri aurel, rey melihat aurell tercekik oleh sosok nenek tua yang mukanya seperti mayat, “aaah?” kata reyhana sambil membaca al qur’an terus menerus, 8 menit, nenek itu pun menghilang. Aurell menangis sambil memeluk rey, “rey tolong aku, hiks hiks ua hua hua ua hua ua…” kata aurell sambil menangis.
“baiklah, aku percaya padamu, sudah tak apa apa ya…” kata reyhana.
“tapi… Tapi kan aku, takut!!” kata aurell lagi.
Semua terbangun, setelah selesai semua, baru mereka pulang ke rumah masing masing.
Cerpen Karangan: Aurellia Khadeliu Susanto
Facebook: Heri Susanto
Pertemuan Singkat
Alam Semesta
Juni 02, 2015
Kukuruyukkk
Suara ayam membangunkan tidurku. Sebenarnya itu bukan suara ayam sungguhan, melainkan suara alarmku. Kubuka jendela, kutatap langit biru berselimutkan awan putih yang lembut, kuhirup dalam-dalam udara segar, pelan-pelan semilir angin meniup rambutku dan korden jendela kamar yang terletak di lantai 2 ini.
Ini hari pertama aku berada di villa milik ayahku. Sepertinya, aku akan menghabiskan liburan kelulusan SMAku di sini. Aku di sini bersama Ayah, Ibu dan adikku. Kurasa di sini aku akan tenang karena aku bebas dari polusi udara dan keramaian kota. Ya! Tentu saja di sini aku juga tidak bertemu dengan kakakku Noni yang cerewet dan selalu sok tahu soal cinta karena dia sibuk kuliah. Dia selalu menasehatiku soal cinta karena memang aku sering salah memilih dalam cinta dan akhirnya patah hati.
“Rayya… Sarapan dulu!!” Panggil ibuku dari lantai bawah
“Iya ibu sebentar ya” jawabku sambil bercermin merapikan rambutku dan membersihkan wajahku. Aku segera membuka pintu kamar dan menuruni tangga. Kami pun makan bersama. Selesai makan aku kembali ke kamar untuk mengambil dan memakai jaket.
“Yah, Bu. Rayya boleh jalan-jalan di sekitar sini kan?” izinku pada ayah dan ibu
“Iya boleh..”
“Tapi hati-hati ya” kata ayah dan ibu bersamaan
“Aldo boleh ikut nggak, kak?” sahut adikku
“Nggak boleh ya, dik. Kapan-kapan aja ikutnya hehehehe” kataku sambil meringis
Aku pun keluar dari villa yang menghadap ke arah utara ini. Jalan di villa ini belum diaspal dan masih banyak batu kecil bertebaran di jalan. Tapi di sini sangat sejuk karena banyak pepohonan. Sebelumnya aku belum pernah jalan-jalan di sekitar sini. Jadi, aku sedikit bingung.
“Hmm.. Jalan ke arah barat apa timur ya?” tanyaku dalam hati
“Timur aja deh kalau barat malah menuju jalan raya” jawabku sendiri
Pelan-pelan aku berjalan ke arah timur. Kulihat kanan kiri sepanjang jalan kawasan villa ini. Sepi.. Sangat sepi, yang ada hanya mobil yang parkir di depan beberapa villa. Mungkin pemilik villanya sibuk di dalam rumah.
Aku terus berjalan menyusuri kawasan ini. Akhirnya, aku berhenti karena aku sudah berada di villa yang terletak di paling ujung.
“Hei!”
Aku menoleh terkejut karena ada yang menepuk pundak kananku dan memanggilku, seketika leherku merinding.
“Ka.. kamu siapa?” tanyaku gugup
“Kenalin aku Reihan, panggil aja Rei. Kamu pasti lagi liburan di sini ya? Namamu siapa?” jawabnya
“I, iya. Aku Rayya. Kamu tinggil di villa sini?” tanyaku lagi
“Iya. Itu villaku” ucapnya sambil menunjuk villa bercat putih yang terdapat mobil merah di depannya yang terletak di selatan jalan.
Aku hanya mengangguk dan membulatkan mulutku membentuk huruf O.
“Jalan-jalan bareng yuk?” ajaknya
“Hmm boleh. Ke mana?” tanyaku
“Ke situ lurus aja terus, di sana ada taman sama danau kok” jawabnya sambil menunjuk jalan setapak di sebelah villa paling ujung.
Aku dan Rei langsung berjalan bersama, mengobrol, dan bercanda. Tapi entah mengapa aku masih merasa merinding, mungkin karena udara di sini memang dingin. Benar saja, di sini ada taman dan danau. Rei memetik salah satu bunga dan meletakkannya di atas telinga kananku.
“Aaaa Rei kamu kok romantis sih berasa di negeri dongeng nih jadinya” candaku
“Hehehe biasa aja kok” ucap Rei sambil tersenyum
Aku mengorek saku celanaku untuk mengambil handphoneku. Ternyata, handphoneku tidak kubawa.
“Cari apa sih?” tanya Rei penasaran
“Handphone Rei. Aku pengen foto-foto di sini pemandangannya indah banget sih. Sayangnya handphoneku ketinggalan” jawabku dengan muka kecewa
“Ya udah gak apa-apa kali, besok kan masih bisa ke sini. Besok kita jalan-jalan ke sini lagi deh”
“Beneran Rei??”
“Iya bener Rayya”
Karena hampir 30 menit aku berjalan-jalan, aku memutuskan untuk kembali ke villa. Ketika sampai di jalan depan villa Rei, Rei berjalan meninggalkanku dan tersenyum padaku.
Sesampainya di villa, aku langsung masuk kamar, aku mengambil buku diary kecil yang selalu aku bawa ke mana-mana di tasku. Aku menulis curahan hatiku tentang pagi hari ini bersama Rei
Isinya
“Dear diary…
Hari ini sangat indah.
Aku benar-benar menemukan sosok yg berbeda. Entah mengapa walaupun baru sekali aku bertemu Rei aku merasa sangat nyaman dengannya. Dia sosok yang baik dan polos. Aku berharap bisa mengenalnya lebih dekat”
Aku baru teringat. Ternyata bunga yang diberikan Rei di telingaku belum aku ambil. Aku pun mengambil bunga itu dan meletakkannya di atas kertas diary yang bertuliskan curahan hatiku hari ini. Aku merebahkan badanku di kasur dan memeluk buku diaryku sambil tersenyum menatap langit-langit kamarku, aku mengingat kembali wajah dan senyum Rei. Ohh.. Benar-benar tampan seperti pangeran.
Hari berikutnya. Setelah bangun tidur aku langsung mandi, supaya aku bisa jalan-jalan lebih lama. Aku keluar dari villa, alangkah terkejutnya aku melihat Rei sudah berada di depan villaku.
“Rei kamu kok tau villaku sih?”
“Tau dong. Hebat kan?”
“Iya hebat banget deh”
“Handphonenya nggak ketinggalan lagi kan?”
“Enggak dong Rei”
Aku langsung berjalan bersama Rei, kami saling berbagi tentang cerita kami masing-masing. Dia benar-benar membuatku sangat nyaman. Sampai di taman, aku dan Rei berfoto-foto ria, sekitar 20 foto yang aku dapatkan bersama Rei. Di taman, aku dan Rei juga bercanda dan berkejar-kejaran. Tiba-tiba saja Rei menyuruhku untuk memajamkan mata, aku penasaran apa yang akan dilakukan Rei, ketika Rei menyuruhku untuk membuka mataku ternyata ia memasangkan kalung yang terbuat dari rangkaian bunga di leherku. Aku tidak tahu dari mana Rei mendapatkan kalung itu, yang pasti aku sangat senang dengan pemberian Rei. Setelah itu, aku berfoto dengan memakai kalung rangkaian bunga yang diberi Rei itu.
“Rayya ke situ yuk!” ajak Rei sambil menunjuk tepi danau
“Ayo ayo” sahutku sambil mengangguk-angguk
Di tepi danau, Rei duduk di sebelah kananku. Rei melempar batu kecil ke danau dan terdiam tidak mengucapkan sepatah kata pun di sini. Tanpa sengaja, tangan kananku menyentuh tangan kiri Rei.
“Rei tanganmu kok dingin banget? Kamu sakit ya?” tanyaku cemas
“Mmm.. enggak kok” jawabnya sambil tersenyum
Sesekali aku menengok jam di handphoneku, tanpa kusadari ternyata sudah 1 jam lebih aku meninggalkan villa. Aku memutuskan untuk pulang, tetapi Rei tidak ingin pulang dan masih ingin di tepi danau. Rei mengajakku untuk berjalan-jalan lagi nanti sore, aku menyetujui ajakan Rei. Di perjalanan pulang aku baru tersadar kalung rangkaian bunga yang dipakaikan Rei tidak ada, mungkin saja putus di jalan.
Sampai di villa, aku duduk di ruang tamu villaku ini. Aku membuka galeri foto handphoneku, kulihat foto-fotoku bersama Rei, itu membuatku tersenyum-senyum sendiri. Ada pose yang paling kusukai saat foto bersama Rei, yaitu pose saat Rei mengacak-acak rambutku, aku pun menjadikan foto itu sebagai wallpaper handphone.
“Hayoo senyum-senyum sendiri!” canda ibuku yang tiba-tiba duduk di sampingku
“Ciye kak Rayya lagi jatuh cinta ya?” sahut adikku
“Ih ibu sama aldo apaan sih” ucapku dengan tersipu malu
“Jujur dong kak. Kan kakak orangnya tukang jatuh cinta tuh” ejek adikku
“Aldo apaan sih anak SD aja sok tahu banget” ujarku sambil mencubit gemas pipi adikku
“Ngomong sama ibu dong Rayya jatuh cinta sama siapa” kata ibuku dengan tersenyum
“Enggak bu, Rayya enggak lagi jatuh cinta kok. Ini lhooo Rayya baca cerita temen Rayya di sms lucu banget jadinya Rayya senyum-senyum sendiri deh” jelasku dengan terpaksa berbohong
Seiring berjalannya waktu, sore pun tiba. Aku bergegas merapikan penampilanku dan keluar dari villa. Lagi lagi, Rei sudah berada di depan villaku. Aku jadi heran dengannya mengapa dia selalu datang tepat waktu, dia bilang dia tidak ingin membuatku menunggu.
Langit terlihat mendung dan dipenuhi awan hitam. Sepertinya, sebentar lagi hujan akan turun. Rei pun mengajakku ke villanya. Saat aku masuk ke ruang tamu villanya, kutatap sekeliling ruang tamu yang sangat rapi dan bersih itu. Aku mendekati meja kecil yang berada di sudut ruang tamu itu dan mengambil salah satu foto 4 orang memakai batik yang bingkainya paling besar di meja itu.
“Rei ini foto siapa aja?”
“Itu foto keluargaku. Itu ayah, ibu, aku dan kakakku. Oh iya aku bikinin minum dulu ya”
“Oke Rei”
Saat Rei di dapur, aku sendirian di ruang tamu, entah mengapa aku menggigil kedinginan di sini. Beberapa saat kemudian, Rei datang dengan membawa 2 gelas teh hangat, dia pun memberikan 1 gelasnya untukku.
“Rei rumahmu kok dingin banget ya” kataku sambil melipat tanganku karena kedinginan
“Tuh ACnya aja nyala” ujarnya sambil menunjuk AC yang berada di dinding atasku
“Oh iya” sahutku singkat
Dalam hati aku bergumam, ketika tadi aku masuk villa ini tidak ada AC yang kulihat di ruang tamu ini. Tapi mungkin memang aku kurang teliti atau tidak sadar jika ada AC. Aku pun meminum teh yang diberi oleh Rei.
“Rei, kamu udah kuliah atau masih sekolah sih?”
“Aku udah kuliah baru semester 3, jurusannya ilmu komputer di Universitas X. Kalo kamu?”
“Aku baru aja lulus SMA nih rencananya mau ngelanjutin di Universitas Y jurusannya ilmu gizi. Jadi harusnya aku panggil kamu Kak Rei dong?”
“Wah bagus dong semoga diterima ya. Ah enggak, panggil Rei aja gak apa-apa kali”
“Iya deh Kak Rei, eh maksudnya Rei. Ini kok kayaknya nggak jadi hujan ya aku pulang dulu ya?”
“Mau aku anter Rayya?”
“Enggak usah makasih hehe”
—
“Ciye Rayya kok sekarang hobi banget jalan-jalan ya” kata ayah yang sedang membaca koran di teras villa
“Kan biar sehat yah” sahutku dengan tersenyum lebar dan duduk mendekati ayah
“Kok senyumnya seneng banget gitu ada apa sih?” tanya ayahku
“Emm.. ehh.. kan abis jalan-jalan jadinya seger terus jadinya seneng deh. Yah, aku masuk dulu ya” jawabku dengan alasan sedikit tidak nyambung dan langsung masuk ke dalam villa.
Aku menghampiri adikku yang sedang menonton tv dan mengemil keripik singkong. Aku ikut mengemil singkong yang dibawa adikku. Belum selesai aku menguyah makanan, kata-kata adikku sangat mengejutkanku.
“Kak Noni mau ke sini loh, Kak”
“Apa Do? Tolong ulangi sekali lagi”
“Kak Noni mau ke sini, tapi nggak tau kapan Kak”
Aku batuk tersendak. Rasanya aku kejatuhan bulan dan disambar petir mendengar kata-kata itu. Jika Kak Noni ke sini pasti dia cerewet dan sok tahu, aku tidak dibolehkan ini itu ini itu.
Malam pun tiba. Kulihat jam di kamarku menunjukkan pukul 20:00. Aku mengambil buku diaryku dan membuka satu per satu lembarannya. Ketika aku membuka sampai pada lembaran curahan hatiku saat bersama Rei, semerbak wangi bunga menyengat di hidungku, seketika korden jendela tertiup angin yang cukup kencang. Walaupun bunga yang diberikan Rei kemarin sudah hampir layu, entah mengapa wanginya masih begitu menyengat. Aku kembali menulis curahan hatiku
Isinya
“Dear diary..
Jika kuingat sosok Rei, terasa begitu bahagia hati ini. Dia sudah berhasil menyelip di ruang kecil hatiku dan menjadi sosok baru yang berhasil mewarnai kehidupanku. Terlalu cepatkah jika aku menyebut ini cinta? Tapi… kenapa ya dia tidak meminta nomer handphoneku?”
Selesai menulis, aku menyimpan buku diaryku di bawah bantalku. Aku membaringkan tubuhku untuk segera tidur. Sebelum tidur aku mengambil handphoneku, membuka galeri fotoku dan melihat kembali fotoku bersama Rei saat di taman. Perlahan aku mulai terlelap tidur. Baru saja aku terlelap tidur, aku terbangun karena aku memimpikan Rei. Aku bermimpi aku dan Rei berada di ruangan putih yang sangat luas, awalnya Rei menggenggam tanganku dan mengucapkan terimakasih padaku karena aku sudah menemani dirinya, perlahan Rei melepaskan genggaman tangannya mulai menjauh dan menghilang. Aku pun mencoba untuk tidur kembali.
Kring.. Kring.. Kring
Kini jam bekerku membangunkanku, bukan alarm handphoneku lagi. Kubuka korden jendela kamarku, tampak di luar rintik hujan menetes. Sebenarnya aku ingin jalan-jalan pagi ini, namun aku mengurungkan niatku untuk berjalan-jalan karena hujan. Sesekali aku menengok ke bawah dari jendela, aku melihat Rei berada di bawah sana. Aku tak percaya, aku pun mengucek mataku, kulihat lagi di bawah sudah tidak ada Rei. Mungkin tadi hanya imajinasiku saja.
1 jam kemudian, hujan mulai reda. Aku berpamitan pada ayah dan ibuku untuk berjalan-jalan. Aku pun keluar dari villa ini.
“Rei mana ya? Tumben nggak ada” gumamku dalam hati sambil menengok kanan kiri halaman villa
Aku mulai berjalan pelan meninggalkan villa dengan sedikit kecewa karena tidak ada Rei yang biasanya menungguku.
Tiba-tiba
“Hayoo nyariin aku ya” Rei menepuk pundakku dari belakang
“Ih bikin kaget aja deh kamu. Iya nih” kataku dengan sedikit kesal
“Jangan marah maaf deh maaf” ucap Rei merasa bersalah
“Oh iya ke danau yuk?” lanjut Rei
“Boleh boleh” jawabku mengangguk-angguk
Sampai di danau, kami duduk di tepi danau sambil memainkan kaki di air. Terjadi obrolan antara kami
“Rei kamu di villa ini sama siapa sih?”
“Sendirian”
“Nggak takut? Ortumu ke mana?”
“Enggak dong kan udah gede. Ahh apa.. mm.. ortuku sibuk kerja”
“Gitu… ngomong-ngomong aku kok gak pernah liat kamu pegang handphone ya”
“Handphoneku rusak”
“Rei??? Kok mukamu pucet gitu sih?”
“Iya nih tapi aku nggak apa-apa kok”
“Oh iya Rei. Tadi malem aku mimpi kamu bilang makasih dan ninggalin aku. Aku jadi takut nih Rei”
“Ahh aku nggak akan ninggalin kamu kok, Ray. Kamu nggak berdoa kali sebelum tidur jadinya mimpi buruk gitu”
“Hehe iya bener banget Rei aku lupa berdoa”
Kuhabiskan waktuku di danau untuk berfoto-foto bersama Rei, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
“Inget ya Rayya, yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Yang jauh bukan berarti tidak bisa menyatu” kata Rei dengan tersenyum dan memegang pundakku
“Maksudnya?” tanyaku kebingungan
“Entahlah kamu bakal tau sendiri” sahutnya singkat dan melepaskan tangannya dari pundakku
Saat aku pulang dari danau aku melewati villa Rei. Aku berhenti sejenak dan tersenyum melihat villa itu.
Sesampainya di teras villaku, kulihat adikku sedang asik membaca komik. Aku pun menghampirinya.
“Aldo, kok sepi? Ayah ibu ke mana?” Tanyaku pada adikku
“Ayah jemput kak Noni, kak. Kalo ibu lagi masak di dapur” jawabnya dengan tetap melihat komik
“What??? Kak Noni??? Tidaaaak!” teriakku sambil berkali-kali menepuk jidatku
“Rayya.. Aldo.. Makan dulu ayo. Udah ibu masakin nasi goreng nih” panggil ibu dari dalam villa, aku dan adikku pun bergegas menghampiri ibu.
“Rayya, 3 hari ini kamu kok rajin jalan-jalan ada apa sih? Padahal biasanya kamu males jalan loh” kata ibu sambil mengambilkan nasi ke piring adikku
“Kan mumpung di sini bu. Kalo di kota kan nggak bisa jalan-jalan” sahutku dengan terpaksa berbohong lagi
Sebenarnya aku tidak ingin bohong pada ibuku. Tapi aku takut jika aku bilang aku berjalan-jalan bersama Rei aku akan dimarahi karena Rei belum dikenal keluargaku.
Langit semakin lama semakin larut. Malam pun tiba. Aku tertidur. Saat aku bangun aku langsung bangkit dari tempat tidur karena terkejut di lantai kamarku banyak ransel berceceran. Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu kamarku.
“Halooo Rayyap kayu cewek kok bangunnya siang.. Aku kangen banget sama kamu. Ih lama nggak ketemu kamu tetep aja bau yaa” Kak Noni memelukku erat-erat
“Ih Kak Noni apaan sih baru dateng main rusuh aja” ucapku dengan mata yang belum bisa sepenuhnya terbuka karena masih ngantuk
“Kan aku kangen sama kamu. Ciye naksir cowok namanya Rei ya?” Kata kak Noni sambil mengeluarkan buku diary dari sakunya
“Ssttt… Nanti ibu denger. Ngambil buku diaryku dari mana?” Ujarku dengan mata yang seketika terbelalak dan tanganku langsung menutup mulut Kak Noni
“Dari situ” kak Noni melepaskan tanganku dan menunjuk arah bantal
“Kamu hati-hati ya kalo jatuh cinta. Ntar galau lagi, curhat lagi, nangis lagi, pura-pura janji nggak mau jatuh cinta lagi” lanjut kak Noni mengejekku
“Denger ya Kak Noniku cantik tersayang, Si Rei itu orangnya beda dari yang lain.. istimewa banget deh!” ucapku dengan nada dibuat-buat
“Gaya amat kamu. Liat aja ntar!! Biasanya kalo lagi jatuh cinta kamu puji-puji tuh cowok, kalo udah patah hati kamu jelek-jelekin deh tuh cowok” ledek Kak Noni
“Ah laper ngomong sama kamu Kak, makan dulu ah” aku berdiri dari tempat tidur dan meninggalkan Kak Noni.
Di ruang makan, berbagai makanan dihidangkan di sana. Kami berlima berkumpul dan makan bersama. Di tengah-tengah keheningan kami sibuk mengunyah makanan tiba-tiba Kak Noni memecah keheningan
“Yah, bu.. Rayya su… su… su..ka sssss.. sam..ma…” kata Kak Noni sambil menatap ayah dan ibu
“Ya!! Rayya suka banget sama masakan ibu loh, apalagi ayam bakar ini hmmm enak banget” ucapku memutus kata-kata Kak Noni sambil tersenyum dan di bawah meja kakiku menginjak kaki Kak Noni
Ayah dan Ibu hanya keheranan melihat kelakuanku dan Kak Noni.
Tililililittt
Terdengar suara handphoneku yang kutinggal di kamar, aku pun bergegas menghabiskan di piringku yang tinggal sedikit dan menuju ke kamar. Di layarnya tampak ada panggilan masuk namun nomernya diprivasi, kuangkat telpon itu.
“Halooo siapa ini?”
“Rayya ini aku Rei”
“Handphonemu bukannya rusak? Terus kamu dapet nomerku dari mana? Rei aku kangen sama kamu. Pagi ini kita nggak jalan-jalan ya”
“Iya. Jarak itu bukan jadi penghalang kan?”
“Maksudmu apa Rei?”
“Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Pertemuan boleh berakhir dengan perpisahan, tapi cinta ini biarlah menjadi seperti bumi yang tiada ujungnya. Di dunia tidak ada yang abadi”
Tut tut tut tuttt
Seketika telepon terputus. Karena merasa jengkel, aku melemparkan handphoneku ke kasur.
“Ehm ditelpon si Rei ya? Hati-hati loh cowok itu banyak yang cuma gombal sana sini doang” kata Kak Noni yang tiba-tiba masuk ke kamarku
“Tapi Rei enggak kayak gitu kok. Dia ganteng, baik, romantis juga” sahutku sambil tersenyum dan mengambil kembali handphoneku yang kulempar di kasur
“Nih… Aku liatin fo…” belum selesai aku meneruskan kata-kataku aku terkejut, sangat terkejut.
Sebenarnya aku ingin melihatkan fotoku bersama Rei yang kujadikan wallpaper pada Kak Noni. Namun di wallpaper handphoneku aku hanya foto sendirian. Pose ketika rambutku diacak-acak oleh Rei, kini menjadi foto diriku sendiri yang seakan-akan rambutku hanya berantakan tertiup angin. Aku langsung membuka galeri fotoku bersama Rei saat di taman, tapi sama saja, aku terlihat foto sendirian. Saat aku foto memakai kalung rangkaian bunga, kalung bunganya pun tidak ada. Aku pun menutup mulutku rapat-rapat, perlahan air mataku menetes, aku tidak ingin tangisanku meledak di villa ini.
“Rayya? Kamu nggak apa-apa kan?” ujar Kak Noni dengan mata berkaca-kaca menatapku
“Kak, Rei kak… Kemarin aku foto-foto sama Rei selama 3 hari jalan-jalan bareng dia. Tapi, kenapa sekarang fotonya jadi aku sendirian?” kataku sambil menangis
“Ya udah gini aja. Gimana kalo kita sekarang ke villa Rei?” ajak Kak Noni
“Iya kak” jawabku sambil mengusap air mataku dengan tanganku
Sampai di depan villa Rei, ini lebih membuatku terkejut. Tidak ada lagi villa bercat putih yang di depannya terdapat mobil merah. Yang ada hanya sisa-sisa villa bercat putih yang hangus karena terbakar.
“Rayya, kamu yakin ini villa Rei?” tanya Kak Noni dengan nada lembut
“Iya kak yakin” jawabku menangis tersedu-tersedu
Aku menghampiri villa itu, berdiri di antara sisa-sisa villa yang hangus itu. Di depanku, ada foto yang seperti pertama kali aku lihat di villa Rei, foto keluarga Rei. Hanya saja kaca bingkainya sedikit berdebu. Seketika aku terduduk lemas sambil mengusap kaca foto itu.
“Rei.. Kamu di mana? Kamu sebenernya siapa? Kenapa kamu misterius? Kenapa kamu pergi gitu aja? Kenapa kamu tega? Kamu pernah bilang gak bakal ninggalin aku. Aku sayang kamu Rei, aku ngerasa nyaman kalo sama kamu. Aku kangen kamu.” tangisanku meledak dan air mataku menetes membasahi foto itu
“Udah udah jangan nangis Rayya, kita pulang yuk kita bahas di rumah” Kak Noni memelukku dan menarik tanganku agar aku berdiri
Di villa, aku bercerita pada Ayah dan Ibu tentang ceritaku dari awal bertemu Rei hingga Rei tiba-tiba menghilang. Memang banyak kejanggalan saat aku bersama Rei. Mulai dari dia yang selalu tiba-tiba muncul, tangannya yang dingin, AC aneh, dan lain lain. Aku teringat Rei pernah bilang padaku bahwa dia kuliah ilmu komputer di Universitas X.
“Ayah. Reihan itu kuliah jurusan ilmu komputer di Universitas X” kataku pada Ayah
“Ya udah sekarang kita ke sana aja. Kita cari kepastiannya” sahut Ibu
“Ibu serius?” tanya Kak Noni
“Iya ibu serius” jawab ibu
Kami pun segera bersiap-siap menuju Universitas X. Ayah juga menyuruh kami untuk mengemasi barang-barang dan meninggalkan villa ini untuk kembali ke kota agar aku tidak semakin berlarut dalam kesedihan.
Sampai di Universitas X, Ayah bertanya pada pegawai yang bertugas mengolah data mahasiswa.
“Mbak. Apa ada mahasiswa di jurusan ilmu komputer yang bernama Reihan?” tanya ayahku
“Sebentar ya pak, saya carikan dulu” jawab pegawai itu sambil mengetik dan memandang monitor komputer
“Ada pak. Tapi mohon maaf, dia sudah meninggal” lanjut pegawai itu
“Meninggalnya karena apa ya mbak? Tanggal berapa?” sambungku
“Menurut data sepertinya karena villanya mengalami kebakaran, anggota keluarganya meninggal semua. Tanggal sekian sekian sekian” sahut pegawai itu
“Oh ya sudah terimakasih” kami pun meninggalkan Universitas X
Sepanjang perjalanan, di mobil aku hanya melamun dan sedikit demi sedikit meneteskan air mata karena mengingat Rei. Dan jika kuhitung mundur tanggal hari ini hingga tanggal Rei meninggal, ternyata 40 hari. Sekarang aku jadi paham, aku takkan melupakan Rei dan kenanganku bersamanya.
Rei, kau ada walaupun tak nyata.
Cerpen Karangan: Sarah Afanin Luthfa
Blog: sarahafaninlthf.blogspot.com
Facebook: Sarah Afanin Luthfa
Siswi Kelas X di SMA N 2 Ungaran
Suara ayam membangunkan tidurku. Sebenarnya itu bukan suara ayam sungguhan, melainkan suara alarmku. Kubuka jendela, kutatap langit biru berselimutkan awan putih yang lembut, kuhirup dalam-dalam udara segar, pelan-pelan semilir angin meniup rambutku dan korden jendela kamar yang terletak di lantai 2 ini.
Ini hari pertama aku berada di villa milik ayahku. Sepertinya, aku akan menghabiskan liburan kelulusan SMAku di sini. Aku di sini bersama Ayah, Ibu dan adikku. Kurasa di sini aku akan tenang karena aku bebas dari polusi udara dan keramaian kota. Ya! Tentu saja di sini aku juga tidak bertemu dengan kakakku Noni yang cerewet dan selalu sok tahu soal cinta karena dia sibuk kuliah. Dia selalu menasehatiku soal cinta karena memang aku sering salah memilih dalam cinta dan akhirnya patah hati.
“Rayya… Sarapan dulu!!” Panggil ibuku dari lantai bawah
“Iya ibu sebentar ya” jawabku sambil bercermin merapikan rambutku dan membersihkan wajahku. Aku segera membuka pintu kamar dan menuruni tangga. Kami pun makan bersama. Selesai makan aku kembali ke kamar untuk mengambil dan memakai jaket.
“Yah, Bu. Rayya boleh jalan-jalan di sekitar sini kan?” izinku pada ayah dan ibu
“Iya boleh..”
“Tapi hati-hati ya” kata ayah dan ibu bersamaan
“Aldo boleh ikut nggak, kak?” sahut adikku
“Nggak boleh ya, dik. Kapan-kapan aja ikutnya hehehehe” kataku sambil meringis
Aku pun keluar dari villa yang menghadap ke arah utara ini. Jalan di villa ini belum diaspal dan masih banyak batu kecil bertebaran di jalan. Tapi di sini sangat sejuk karena banyak pepohonan. Sebelumnya aku belum pernah jalan-jalan di sekitar sini. Jadi, aku sedikit bingung.
“Hmm.. Jalan ke arah barat apa timur ya?” tanyaku dalam hati
“Timur aja deh kalau barat malah menuju jalan raya” jawabku sendiri
Pelan-pelan aku berjalan ke arah timur. Kulihat kanan kiri sepanjang jalan kawasan villa ini. Sepi.. Sangat sepi, yang ada hanya mobil yang parkir di depan beberapa villa. Mungkin pemilik villanya sibuk di dalam rumah.
Aku terus berjalan menyusuri kawasan ini. Akhirnya, aku berhenti karena aku sudah berada di villa yang terletak di paling ujung.
“Hei!”
Aku menoleh terkejut karena ada yang menepuk pundak kananku dan memanggilku, seketika leherku merinding.
“Ka.. kamu siapa?” tanyaku gugup
“Kenalin aku Reihan, panggil aja Rei. Kamu pasti lagi liburan di sini ya? Namamu siapa?” jawabnya
“I, iya. Aku Rayya. Kamu tinggil di villa sini?” tanyaku lagi
“Iya. Itu villaku” ucapnya sambil menunjuk villa bercat putih yang terdapat mobil merah di depannya yang terletak di selatan jalan.
Aku hanya mengangguk dan membulatkan mulutku membentuk huruf O.
“Jalan-jalan bareng yuk?” ajaknya
“Hmm boleh. Ke mana?” tanyaku
“Ke situ lurus aja terus, di sana ada taman sama danau kok” jawabnya sambil menunjuk jalan setapak di sebelah villa paling ujung.
Aku dan Rei langsung berjalan bersama, mengobrol, dan bercanda. Tapi entah mengapa aku masih merasa merinding, mungkin karena udara di sini memang dingin. Benar saja, di sini ada taman dan danau. Rei memetik salah satu bunga dan meletakkannya di atas telinga kananku.
“Aaaa Rei kamu kok romantis sih berasa di negeri dongeng nih jadinya” candaku
“Hehehe biasa aja kok” ucap Rei sambil tersenyum
Aku mengorek saku celanaku untuk mengambil handphoneku. Ternyata, handphoneku tidak kubawa.
“Cari apa sih?” tanya Rei penasaran
“Handphone Rei. Aku pengen foto-foto di sini pemandangannya indah banget sih. Sayangnya handphoneku ketinggalan” jawabku dengan muka kecewa
“Ya udah gak apa-apa kali, besok kan masih bisa ke sini. Besok kita jalan-jalan ke sini lagi deh”
“Beneran Rei??”
“Iya bener Rayya”
Karena hampir 30 menit aku berjalan-jalan, aku memutuskan untuk kembali ke villa. Ketika sampai di jalan depan villa Rei, Rei berjalan meninggalkanku dan tersenyum padaku.
Sesampainya di villa, aku langsung masuk kamar, aku mengambil buku diary kecil yang selalu aku bawa ke mana-mana di tasku. Aku menulis curahan hatiku tentang pagi hari ini bersama Rei
Isinya
“Dear diary…
Hari ini sangat indah.
Aku benar-benar menemukan sosok yg berbeda. Entah mengapa walaupun baru sekali aku bertemu Rei aku merasa sangat nyaman dengannya. Dia sosok yang baik dan polos. Aku berharap bisa mengenalnya lebih dekat”
Aku baru teringat. Ternyata bunga yang diberikan Rei di telingaku belum aku ambil. Aku pun mengambil bunga itu dan meletakkannya di atas kertas diary yang bertuliskan curahan hatiku hari ini. Aku merebahkan badanku di kasur dan memeluk buku diaryku sambil tersenyum menatap langit-langit kamarku, aku mengingat kembali wajah dan senyum Rei. Ohh.. Benar-benar tampan seperti pangeran.
Hari berikutnya. Setelah bangun tidur aku langsung mandi, supaya aku bisa jalan-jalan lebih lama. Aku keluar dari villa, alangkah terkejutnya aku melihat Rei sudah berada di depan villaku.
“Rei kamu kok tau villaku sih?”
“Tau dong. Hebat kan?”
“Iya hebat banget deh”
“Handphonenya nggak ketinggalan lagi kan?”
“Enggak dong Rei”
Aku langsung berjalan bersama Rei, kami saling berbagi tentang cerita kami masing-masing. Dia benar-benar membuatku sangat nyaman. Sampai di taman, aku dan Rei berfoto-foto ria, sekitar 20 foto yang aku dapatkan bersama Rei. Di taman, aku dan Rei juga bercanda dan berkejar-kejaran. Tiba-tiba saja Rei menyuruhku untuk memajamkan mata, aku penasaran apa yang akan dilakukan Rei, ketika Rei menyuruhku untuk membuka mataku ternyata ia memasangkan kalung yang terbuat dari rangkaian bunga di leherku. Aku tidak tahu dari mana Rei mendapatkan kalung itu, yang pasti aku sangat senang dengan pemberian Rei. Setelah itu, aku berfoto dengan memakai kalung rangkaian bunga yang diberi Rei itu.
“Rayya ke situ yuk!” ajak Rei sambil menunjuk tepi danau
“Ayo ayo” sahutku sambil mengangguk-angguk
Di tepi danau, Rei duduk di sebelah kananku. Rei melempar batu kecil ke danau dan terdiam tidak mengucapkan sepatah kata pun di sini. Tanpa sengaja, tangan kananku menyentuh tangan kiri Rei.
“Rei tanganmu kok dingin banget? Kamu sakit ya?” tanyaku cemas
“Mmm.. enggak kok” jawabnya sambil tersenyum
Sesekali aku menengok jam di handphoneku, tanpa kusadari ternyata sudah 1 jam lebih aku meninggalkan villa. Aku memutuskan untuk pulang, tetapi Rei tidak ingin pulang dan masih ingin di tepi danau. Rei mengajakku untuk berjalan-jalan lagi nanti sore, aku menyetujui ajakan Rei. Di perjalanan pulang aku baru tersadar kalung rangkaian bunga yang dipakaikan Rei tidak ada, mungkin saja putus di jalan.
Sampai di villa, aku duduk di ruang tamu villaku ini. Aku membuka galeri foto handphoneku, kulihat foto-fotoku bersama Rei, itu membuatku tersenyum-senyum sendiri. Ada pose yang paling kusukai saat foto bersama Rei, yaitu pose saat Rei mengacak-acak rambutku, aku pun menjadikan foto itu sebagai wallpaper handphone.
“Hayoo senyum-senyum sendiri!” canda ibuku yang tiba-tiba duduk di sampingku
“Ciye kak Rayya lagi jatuh cinta ya?” sahut adikku
“Ih ibu sama aldo apaan sih” ucapku dengan tersipu malu
“Jujur dong kak. Kan kakak orangnya tukang jatuh cinta tuh” ejek adikku
“Aldo apaan sih anak SD aja sok tahu banget” ujarku sambil mencubit gemas pipi adikku
“Ngomong sama ibu dong Rayya jatuh cinta sama siapa” kata ibuku dengan tersenyum
“Enggak bu, Rayya enggak lagi jatuh cinta kok. Ini lhooo Rayya baca cerita temen Rayya di sms lucu banget jadinya Rayya senyum-senyum sendiri deh” jelasku dengan terpaksa berbohong
Seiring berjalannya waktu, sore pun tiba. Aku bergegas merapikan penampilanku dan keluar dari villa. Lagi lagi, Rei sudah berada di depan villaku. Aku jadi heran dengannya mengapa dia selalu datang tepat waktu, dia bilang dia tidak ingin membuatku menunggu.
Langit terlihat mendung dan dipenuhi awan hitam. Sepertinya, sebentar lagi hujan akan turun. Rei pun mengajakku ke villanya. Saat aku masuk ke ruang tamu villanya, kutatap sekeliling ruang tamu yang sangat rapi dan bersih itu. Aku mendekati meja kecil yang berada di sudut ruang tamu itu dan mengambil salah satu foto 4 orang memakai batik yang bingkainya paling besar di meja itu.
“Rei ini foto siapa aja?”
“Itu foto keluargaku. Itu ayah, ibu, aku dan kakakku. Oh iya aku bikinin minum dulu ya”
“Oke Rei”
Saat Rei di dapur, aku sendirian di ruang tamu, entah mengapa aku menggigil kedinginan di sini. Beberapa saat kemudian, Rei datang dengan membawa 2 gelas teh hangat, dia pun memberikan 1 gelasnya untukku.
“Rei rumahmu kok dingin banget ya” kataku sambil melipat tanganku karena kedinginan
“Tuh ACnya aja nyala” ujarnya sambil menunjuk AC yang berada di dinding atasku
“Oh iya” sahutku singkat
Dalam hati aku bergumam, ketika tadi aku masuk villa ini tidak ada AC yang kulihat di ruang tamu ini. Tapi mungkin memang aku kurang teliti atau tidak sadar jika ada AC. Aku pun meminum teh yang diberi oleh Rei.
“Rei, kamu udah kuliah atau masih sekolah sih?”
“Aku udah kuliah baru semester 3, jurusannya ilmu komputer di Universitas X. Kalo kamu?”
“Aku baru aja lulus SMA nih rencananya mau ngelanjutin di Universitas Y jurusannya ilmu gizi. Jadi harusnya aku panggil kamu Kak Rei dong?”
“Wah bagus dong semoga diterima ya. Ah enggak, panggil Rei aja gak apa-apa kali”
“Iya deh Kak Rei, eh maksudnya Rei. Ini kok kayaknya nggak jadi hujan ya aku pulang dulu ya?”
“Mau aku anter Rayya?”
“Enggak usah makasih hehe”
—
“Ciye Rayya kok sekarang hobi banget jalan-jalan ya” kata ayah yang sedang membaca koran di teras villa
“Kan biar sehat yah” sahutku dengan tersenyum lebar dan duduk mendekati ayah
“Kok senyumnya seneng banget gitu ada apa sih?” tanya ayahku
“Emm.. ehh.. kan abis jalan-jalan jadinya seger terus jadinya seneng deh. Yah, aku masuk dulu ya” jawabku dengan alasan sedikit tidak nyambung dan langsung masuk ke dalam villa.
Aku menghampiri adikku yang sedang menonton tv dan mengemil keripik singkong. Aku ikut mengemil singkong yang dibawa adikku. Belum selesai aku menguyah makanan, kata-kata adikku sangat mengejutkanku.
“Kak Noni mau ke sini loh, Kak”
“Apa Do? Tolong ulangi sekali lagi”
“Kak Noni mau ke sini, tapi nggak tau kapan Kak”
Aku batuk tersendak. Rasanya aku kejatuhan bulan dan disambar petir mendengar kata-kata itu. Jika Kak Noni ke sini pasti dia cerewet dan sok tahu, aku tidak dibolehkan ini itu ini itu.
Malam pun tiba. Kulihat jam di kamarku menunjukkan pukul 20:00. Aku mengambil buku diaryku dan membuka satu per satu lembarannya. Ketika aku membuka sampai pada lembaran curahan hatiku saat bersama Rei, semerbak wangi bunga menyengat di hidungku, seketika korden jendela tertiup angin yang cukup kencang. Walaupun bunga yang diberikan Rei kemarin sudah hampir layu, entah mengapa wanginya masih begitu menyengat. Aku kembali menulis curahan hatiku
Isinya
“Dear diary..
Jika kuingat sosok Rei, terasa begitu bahagia hati ini. Dia sudah berhasil menyelip di ruang kecil hatiku dan menjadi sosok baru yang berhasil mewarnai kehidupanku. Terlalu cepatkah jika aku menyebut ini cinta? Tapi… kenapa ya dia tidak meminta nomer handphoneku?”
Selesai menulis, aku menyimpan buku diaryku di bawah bantalku. Aku membaringkan tubuhku untuk segera tidur. Sebelum tidur aku mengambil handphoneku, membuka galeri fotoku dan melihat kembali fotoku bersama Rei saat di taman. Perlahan aku mulai terlelap tidur. Baru saja aku terlelap tidur, aku terbangun karena aku memimpikan Rei. Aku bermimpi aku dan Rei berada di ruangan putih yang sangat luas, awalnya Rei menggenggam tanganku dan mengucapkan terimakasih padaku karena aku sudah menemani dirinya, perlahan Rei melepaskan genggaman tangannya mulai menjauh dan menghilang. Aku pun mencoba untuk tidur kembali.
Kring.. Kring.. Kring
Kini jam bekerku membangunkanku, bukan alarm handphoneku lagi. Kubuka korden jendela kamarku, tampak di luar rintik hujan menetes. Sebenarnya aku ingin jalan-jalan pagi ini, namun aku mengurungkan niatku untuk berjalan-jalan karena hujan. Sesekali aku menengok ke bawah dari jendela, aku melihat Rei berada di bawah sana. Aku tak percaya, aku pun mengucek mataku, kulihat lagi di bawah sudah tidak ada Rei. Mungkin tadi hanya imajinasiku saja.
1 jam kemudian, hujan mulai reda. Aku berpamitan pada ayah dan ibuku untuk berjalan-jalan. Aku pun keluar dari villa ini.
“Rei mana ya? Tumben nggak ada” gumamku dalam hati sambil menengok kanan kiri halaman villa
Aku mulai berjalan pelan meninggalkan villa dengan sedikit kecewa karena tidak ada Rei yang biasanya menungguku.
Tiba-tiba
“Hayoo nyariin aku ya” Rei menepuk pundakku dari belakang
“Ih bikin kaget aja deh kamu. Iya nih” kataku dengan sedikit kesal
“Jangan marah maaf deh maaf” ucap Rei merasa bersalah
“Oh iya ke danau yuk?” lanjut Rei
“Boleh boleh” jawabku mengangguk-angguk
Sampai di danau, kami duduk di tepi danau sambil memainkan kaki di air. Terjadi obrolan antara kami
“Rei kamu di villa ini sama siapa sih?”
“Sendirian”
“Nggak takut? Ortumu ke mana?”
“Enggak dong kan udah gede. Ahh apa.. mm.. ortuku sibuk kerja”
“Gitu… ngomong-ngomong aku kok gak pernah liat kamu pegang handphone ya”
“Handphoneku rusak”
“Rei??? Kok mukamu pucet gitu sih?”
“Iya nih tapi aku nggak apa-apa kok”
“Oh iya Rei. Tadi malem aku mimpi kamu bilang makasih dan ninggalin aku. Aku jadi takut nih Rei”
“Ahh aku nggak akan ninggalin kamu kok, Ray. Kamu nggak berdoa kali sebelum tidur jadinya mimpi buruk gitu”
“Hehe iya bener banget Rei aku lupa berdoa”
Kuhabiskan waktuku di danau untuk berfoto-foto bersama Rei, hingga akhirnya aku memutuskan untuk pulang.
“Inget ya Rayya, yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Yang jauh bukan berarti tidak bisa menyatu” kata Rei dengan tersenyum dan memegang pundakku
“Maksudnya?” tanyaku kebingungan
“Entahlah kamu bakal tau sendiri” sahutnya singkat dan melepaskan tangannya dari pundakku
Saat aku pulang dari danau aku melewati villa Rei. Aku berhenti sejenak dan tersenyum melihat villa itu.
Sesampainya di teras villaku, kulihat adikku sedang asik membaca komik. Aku pun menghampirinya.
“Aldo, kok sepi? Ayah ibu ke mana?” Tanyaku pada adikku
“Ayah jemput kak Noni, kak. Kalo ibu lagi masak di dapur” jawabnya dengan tetap melihat komik
“What??? Kak Noni??? Tidaaaak!” teriakku sambil berkali-kali menepuk jidatku
“Rayya.. Aldo.. Makan dulu ayo. Udah ibu masakin nasi goreng nih” panggil ibu dari dalam villa, aku dan adikku pun bergegas menghampiri ibu.
“Rayya, 3 hari ini kamu kok rajin jalan-jalan ada apa sih? Padahal biasanya kamu males jalan loh” kata ibu sambil mengambilkan nasi ke piring adikku
“Kan mumpung di sini bu. Kalo di kota kan nggak bisa jalan-jalan” sahutku dengan terpaksa berbohong lagi
Sebenarnya aku tidak ingin bohong pada ibuku. Tapi aku takut jika aku bilang aku berjalan-jalan bersama Rei aku akan dimarahi karena Rei belum dikenal keluargaku.
Langit semakin lama semakin larut. Malam pun tiba. Aku tertidur. Saat aku bangun aku langsung bangkit dari tempat tidur karena terkejut di lantai kamarku banyak ransel berceceran. Tiba-tiba saja ada yang membuka pintu kamarku.
“Halooo Rayyap kayu cewek kok bangunnya siang.. Aku kangen banget sama kamu. Ih lama nggak ketemu kamu tetep aja bau yaa” Kak Noni memelukku erat-erat
“Ih Kak Noni apaan sih baru dateng main rusuh aja” ucapku dengan mata yang belum bisa sepenuhnya terbuka karena masih ngantuk
“Kan aku kangen sama kamu. Ciye naksir cowok namanya Rei ya?” Kata kak Noni sambil mengeluarkan buku diary dari sakunya
“Ssttt… Nanti ibu denger. Ngambil buku diaryku dari mana?” Ujarku dengan mata yang seketika terbelalak dan tanganku langsung menutup mulut Kak Noni
“Dari situ” kak Noni melepaskan tanganku dan menunjuk arah bantal
“Kamu hati-hati ya kalo jatuh cinta. Ntar galau lagi, curhat lagi, nangis lagi, pura-pura janji nggak mau jatuh cinta lagi” lanjut kak Noni mengejekku
“Denger ya Kak Noniku cantik tersayang, Si Rei itu orangnya beda dari yang lain.. istimewa banget deh!” ucapku dengan nada dibuat-buat
“Gaya amat kamu. Liat aja ntar!! Biasanya kalo lagi jatuh cinta kamu puji-puji tuh cowok, kalo udah patah hati kamu jelek-jelekin deh tuh cowok” ledek Kak Noni
“Ah laper ngomong sama kamu Kak, makan dulu ah” aku berdiri dari tempat tidur dan meninggalkan Kak Noni.
Di ruang makan, berbagai makanan dihidangkan di sana. Kami berlima berkumpul dan makan bersama. Di tengah-tengah keheningan kami sibuk mengunyah makanan tiba-tiba Kak Noni memecah keheningan
“Yah, bu.. Rayya su… su… su..ka sssss.. sam..ma…” kata Kak Noni sambil menatap ayah dan ibu
“Ya!! Rayya suka banget sama masakan ibu loh, apalagi ayam bakar ini hmmm enak banget” ucapku memutus kata-kata Kak Noni sambil tersenyum dan di bawah meja kakiku menginjak kaki Kak Noni
Ayah dan Ibu hanya keheranan melihat kelakuanku dan Kak Noni.
Tililililittt
Terdengar suara handphoneku yang kutinggal di kamar, aku pun bergegas menghabiskan di piringku yang tinggal sedikit dan menuju ke kamar. Di layarnya tampak ada panggilan masuk namun nomernya diprivasi, kuangkat telpon itu.
“Halooo siapa ini?”
“Rayya ini aku Rei”
“Handphonemu bukannya rusak? Terus kamu dapet nomerku dari mana? Rei aku kangen sama kamu. Pagi ini kita nggak jalan-jalan ya”
“Iya. Jarak itu bukan jadi penghalang kan?”
“Maksudmu apa Rei?”
“Perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Pertemuan boleh berakhir dengan perpisahan, tapi cinta ini biarlah menjadi seperti bumi yang tiada ujungnya. Di dunia tidak ada yang abadi”
Tut tut tut tuttt
Seketika telepon terputus. Karena merasa jengkel, aku melemparkan handphoneku ke kasur.
“Ehm ditelpon si Rei ya? Hati-hati loh cowok itu banyak yang cuma gombal sana sini doang” kata Kak Noni yang tiba-tiba masuk ke kamarku
“Tapi Rei enggak kayak gitu kok. Dia ganteng, baik, romantis juga” sahutku sambil tersenyum dan mengambil kembali handphoneku yang kulempar di kasur
“Nih… Aku liatin fo…” belum selesai aku meneruskan kata-kataku aku terkejut, sangat terkejut.
Sebenarnya aku ingin melihatkan fotoku bersama Rei yang kujadikan wallpaper pada Kak Noni. Namun di wallpaper handphoneku aku hanya foto sendirian. Pose ketika rambutku diacak-acak oleh Rei, kini menjadi foto diriku sendiri yang seakan-akan rambutku hanya berantakan tertiup angin. Aku langsung membuka galeri fotoku bersama Rei saat di taman, tapi sama saja, aku terlihat foto sendirian. Saat aku foto memakai kalung rangkaian bunga, kalung bunganya pun tidak ada. Aku pun menutup mulutku rapat-rapat, perlahan air mataku menetes, aku tidak ingin tangisanku meledak di villa ini.
“Rayya? Kamu nggak apa-apa kan?” ujar Kak Noni dengan mata berkaca-kaca menatapku
“Kak, Rei kak… Kemarin aku foto-foto sama Rei selama 3 hari jalan-jalan bareng dia. Tapi, kenapa sekarang fotonya jadi aku sendirian?” kataku sambil menangis
“Ya udah gini aja. Gimana kalo kita sekarang ke villa Rei?” ajak Kak Noni
“Iya kak” jawabku sambil mengusap air mataku dengan tanganku
Sampai di depan villa Rei, ini lebih membuatku terkejut. Tidak ada lagi villa bercat putih yang di depannya terdapat mobil merah. Yang ada hanya sisa-sisa villa bercat putih yang hangus karena terbakar.
“Rayya, kamu yakin ini villa Rei?” tanya Kak Noni dengan nada lembut
“Iya kak yakin” jawabku menangis tersedu-tersedu
Aku menghampiri villa itu, berdiri di antara sisa-sisa villa yang hangus itu. Di depanku, ada foto yang seperti pertama kali aku lihat di villa Rei, foto keluarga Rei. Hanya saja kaca bingkainya sedikit berdebu. Seketika aku terduduk lemas sambil mengusap kaca foto itu.
“Rei.. Kamu di mana? Kamu sebenernya siapa? Kenapa kamu misterius? Kenapa kamu pergi gitu aja? Kenapa kamu tega? Kamu pernah bilang gak bakal ninggalin aku. Aku sayang kamu Rei, aku ngerasa nyaman kalo sama kamu. Aku kangen kamu.” tangisanku meledak dan air mataku menetes membasahi foto itu
“Udah udah jangan nangis Rayya, kita pulang yuk kita bahas di rumah” Kak Noni memelukku dan menarik tanganku agar aku berdiri
Di villa, aku bercerita pada Ayah dan Ibu tentang ceritaku dari awal bertemu Rei hingga Rei tiba-tiba menghilang. Memang banyak kejanggalan saat aku bersama Rei. Mulai dari dia yang selalu tiba-tiba muncul, tangannya yang dingin, AC aneh, dan lain lain. Aku teringat Rei pernah bilang padaku bahwa dia kuliah ilmu komputer di Universitas X.
“Ayah. Reihan itu kuliah jurusan ilmu komputer di Universitas X” kataku pada Ayah
“Ya udah sekarang kita ke sana aja. Kita cari kepastiannya” sahut Ibu
“Ibu serius?” tanya Kak Noni
“Iya ibu serius” jawab ibu
Kami pun segera bersiap-siap menuju Universitas X. Ayah juga menyuruh kami untuk mengemasi barang-barang dan meninggalkan villa ini untuk kembali ke kota agar aku tidak semakin berlarut dalam kesedihan.
Sampai di Universitas X, Ayah bertanya pada pegawai yang bertugas mengolah data mahasiswa.
“Mbak. Apa ada mahasiswa di jurusan ilmu komputer yang bernama Reihan?” tanya ayahku
“Sebentar ya pak, saya carikan dulu” jawab pegawai itu sambil mengetik dan memandang monitor komputer
“Ada pak. Tapi mohon maaf, dia sudah meninggal” lanjut pegawai itu
“Meninggalnya karena apa ya mbak? Tanggal berapa?” sambungku
“Menurut data sepertinya karena villanya mengalami kebakaran, anggota keluarganya meninggal semua. Tanggal sekian sekian sekian” sahut pegawai itu
“Oh ya sudah terimakasih” kami pun meninggalkan Universitas X
Sepanjang perjalanan, di mobil aku hanya melamun dan sedikit demi sedikit meneteskan air mata karena mengingat Rei. Dan jika kuhitung mundur tanggal hari ini hingga tanggal Rei meninggal, ternyata 40 hari. Sekarang aku jadi paham, aku takkan melupakan Rei dan kenanganku bersamanya.
Rei, kau ada walaupun tak nyata.
Cerpen Karangan: Sarah Afanin Luthfa
Blog: sarahafaninlthf.blogspot.com
Facebook: Sarah Afanin Luthfa
Siswi Kelas X di SMA N 2 Ungaran
Tidak ada komentar :
Posting Komentar
Leave A Comment...