Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Restoran Tak Berpenghuni

Aku dan sekeluarga saat ini sedang liburan. Kami berkeliling di sebuah Desa. Di sana kami berfoto di sebuah sawah yang asri dan indah. Karena kepanasan, kami mencoba untuk beristirahat dulu di sebuah Restoran.

Tibanya di sana, kami menginjakkan kaki. Kami pun membuka pintu restoran itu. Di dalam terlihat kursi dan meja yang kotor. Terdapat pepohonan yang tumbuh di sana. Aku berpikir kalau restoran ini tak berpenghuni.

Adikku nampaknya asyik dengan mainan yang dibawanya, sedangkan orangtuaku terlihat cemberut.
Tokk.. tok… tok…suara ketukan terdengar dari jendela. Aku segera menoleh ke arah tersebut. Dengan cepat, aku melihat kalau ada sebuah sosok yang menyeramkan di balik jendela itu. “Ma! Pa! Ayo pergi dari sini!! Aku merasa takut di sini!!” sahutku sambil bercucuran air mata. Karena saking takutnya melihat sosok tersebut, kami pum memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Di dalam mobil, kami berbincang-bincang dengan kejadian tadi. “Aku takut Ma! Aku takut.” Ucapku lirih, “Sudah tidak apa-apa, asalkan kamu tidak menganggu mereka! Tuhan pasti selalu melindungimu Nak!” Sahut Mama sambil mengelus rambutnya. Aku mengangguk pelan.

Hari ini memang hari yang tidak menyenangkan bagiku. Aku takut kalau aku dihantui olehnya. Aku pun mulai rajin memuja Tuhan Yang Maha Kuasa. Aku percaya kalau Tuhan selalu melindungi kita asalkan kita berbuat baik.

Cerpen Karangan: Adsha Nandayi

Nama: Adsha Nandayi
Umur: 12 tahun
Kelas: 6 SD
Thanks for read ^_^

Jejak Kematian Di Lorong Sepi

Di lorong gelap, sepi dan dingin, tubuh kaku menelungkup itu menyeruakkan bau amis darah yang mengalir dari pangkal lehernya. Luka terkuak lebar hingga hampir memisahkan kepala dengan tubuh. Cairan kental berwarna merah tergenang di sekitarnya. Burung gagak hitam, memandang awas dari puncak pohon meranggas di luar lorong. Menjeritkan kicau parau mengabarkan kematian.



Musim hujan makin menggila di akhir tahun begini. Bisa-bisa hujan turun seharian penuh tanpa jeda. Berdiam di rumah adalah pilihan yang tepat untuk menghabiskan hari. Namun tidak bagiku, tepatnya tidak mungkin bagiku. Sebagai wartawan lepas untuk sebuah media massa on line, keluar rumah merupakan pilihan satu-satunya untuk mendapatkan berita terbaru dan terhangat langsung dari tempat kejadian. Semua bisa jadi berita bagiku sebab tidak ada berita, artinya tidak ada makanan.

Hujan yang turun sejak malam tadi mengakibatkan pagi ini menjadi dingin sekali. Sulit untuk menyentuh air tanpa merinding, cuci muka keputusan terbaik dari pada tidak sama sekali. Secangkir teh yang kubuat sebelum membasuh wajah di kamar mandi, masih mengepulkan asapnya. Cepat-cepat kusesap hingga rasa panas memeluk dada. Wuaahh, hangat sekali. Kutuntaskan teh pagiku dengan jantan, lalu cekatan tanganku menggamit jas hujan di atas rak. Mengenakannya dan membuka pintu rumah petak yang kusewa dari setahun yang lalu ini.

Saat pintu membuka, angin hujan menebas wajahku. Tak mau kalah, tubuhku pun lalu menghentak keluar menebas hujan berirama teratur ini, sebuah tanda bahwa hujan ini akan berlangsung lama. Jas hujan menutupi tubuh dan ranselku yang menggunung di punggung. Aku mungkin tampak seperti alien dari galaksi gulaguli. Bulir-bulir air hujan sudah sukses menggerayangi seluruh permukaan jas hujan milikku.

Mega, seorang kolegaku yang cantik jelita subuh tadi menelponku, kupikir ia ingin menyatakan cintanya padaku, karena malam itu aku baru saja bermimpi tentangnya, namun angan picisanku itu segera dipagut suaranya yang meninggi dan penuh antusias mengabarkan ada mayat pria ditemukan berdarah-darah di lorong yang menembus perut bukit, bekas rel kereta api jaman Belanda di sudut kota. Tempat itu sudah mati sejak lama, jarang dilalui orang-orang. Pengunjungnya hanyalah segelintir anak muda yang mencari tempat untuk menghisap s*bu-s*bu atau mabuk-mabukan. Sangat cocok untuk membuang mayat atau bahkan melakukan pembunuhan tanpa diketahui orang lain.

Aku sudah melihat Mega dari jauh, dia berdiri berbalut mantel hitam dan bernaung payung lebar merah marun. Matanya yang sendu dan penuh binar indah segera mendapati aku yang sedang tergopoh ke arahnya.

“Kau terlambat lagi, Amor…,” aku suka sekali dan sungguh bersyukur orangtuaku memberikan nama Amorgio Dunand, sehingga Mega bisa dengan leluasa memanggilku Amor yang berarti ‘cinta’ sepuasnya tanpa harus merasa malu. Dan juga, oke…, sayang sekali, tanpa harus merasakan cinta itu sendiri.

“Maaf, hujan menyenyakkan tidurku hingga berpuluh kali lipat!”

“Kebakaran keliling rumahmu pun tak akan mampu membangunkanmu, dasar tukang tidur. Ayo ke lokasi! Jalan saja lebih baik, hujan begini angkutan umum jarang lewat.”

Sepatu-sepatu kami berkecipak memijak genangan air hujan di sepanjang jalan. Benar, sudah hampir sampai di lokasi begini, belum ada satu pun angkutan umum yang berlalu. Prediksi yang hebat dari Mega. Di lokasi, sudah ada mobil polisi dan ambulan. Aku segera berlari sambil membuka separuh jas hujanku dan membiarkan separuhnya lagi menggantung di sebelah tubuhku. Aku meminta Mega menutupi tasku yang berisi kameraku agar tak kena hujan. Sambil berlari aku berhasil mengeluarkan kameraku, lalu bergegas mendekati lokasi kejadian. Mega ikut berlari memayungiku dari belakang.

Aku berhasil mendapatkan gambar mayat pria itu sebelum akhirnya petugas ambulan mengangkatnya ke dalam ambulan dan membawa jenazah malang itu pergi. Mega menginterview polisi dan beberapa saksi yang pertama kali menemukan mayat pria itu. Seperti biasa, dalam setiap peliputan setelah mendapatkan gambar-gambar yang penting, aku biasanya mencari-cari objek lain di sekitar TKP, mudah-mudahan ada yang unik yang bisa kujadikan koleksi foto.

Aku mengitari lorong menyapu pandanganku ke seluruh lorong beserta langit-langitnya. Lumut dan lukisan graviti usang menghias langit-langit lorong. Menjepret-jepret semua yang kuanggap menarik. Saat aku berjalan lebih jauh ke dalam, melampaui tempat mayat ditemukan, di dinding lorong sebelah kiri agak ke atas, aku menemukan noda merah berukuran lumayan besar.

Aku mendekat, membidikkan lensa kameraku dan menekan tombol zoom. Apa aku tidak salah lihat? Itu adalah jejak kaki darah. Jejak darah berbentuk kaki kanan manusia yang di sisi bawahnya mengakar aliran darah meleleh itu terlihat samar di antara lukisan graviti di dinding lorong. Tampaknya kaki itu tadi menginjak darah dan lalu menginjak dinding ini. Aku menyipitkan mata, dan membidik dengan cermat, menetapkan fokus pada kameraku dan menjepretnya beberapa kali dari berbagai sudut. Aku mencermatinya sekali lagi, ini darah baru, belum kering betul. Kalau pun benar ini jejak manusia, manusia apa yang bisa berjalan dengan cara vertikal seperti ini? Lalu jika memang dia mampu berjalan secara vertikal mengapa jejaknya hanya satu? Mana kaki kirinya? Apakah ia siluman berkaki satu? Lalu apa hubungannya dengan jasad pria itu? Kalau memang saling terhubung mengapa jejak kakinya tidak dimulai dari dimana tubuh pria itu tergolek? Ah…

Aku keluar, menemui Mega yang baru saja mewawancari seorang warga yang mengaku mendengar sebuah jeritan di malam itu dari lorong ini. Aku masih terdiam, memikirkan tentang sebuah jejak kaki darah di dinding lorong. Aku masih menimbang-nimbang apakah ini kulaporkan pada pihak kepolisian, atau kudiamkan saja dan kuselidiki sendiri. Namun, entah bagaimana, sebuah suara dari hatiku mendesakku untuk menyelidiki ini sendiri, lalu nanti kalau sudah berhasil akan menerbitkannya menjadi sebuah berita yang bombastis. Pasti bonus akan mengalir lancar ke kantong keringku ini. Dan sebuah dinner mewah akan kupersembahkan khusus untuk Mega.

“Kau kenapa Amor? Kok diam saja?”

“Tidak apa-apa… Ayo ke café biasa, aku belum sarapan. Kita sarapan dan sekalian kita tulis berita ini. Mungkin hari ini akan ada banyak berita menarik lainnya yang menunggu untuk kita liput.”

“Wuah, bersemangat sekali hari ini, Bung! Santailah sedikit, kita sudah menang dengan berita ini, kau lihat tadi? Tidak ada kan wartawan lain yang meliput? Mereka semua terlambat!! Hahaha…,” Mega melirik pada beberapa wartawan yang baru sampai di lokasi kejadian.

“Wuah, iya aku baru sadar… ayolah, aku sudah lapar!!”

Sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi sampai di mejaku, menerbitkan liur. Segera kugamit sendok dan garpu lalu melahapnya ganas. Sementara Mega masih terus saja mengaduk-aduk bubur ayam pesanannya.

“Kenapa Ga?”

“Gak selera…,”

“Kenapa?”

“Hanya orang aneh yang tetap punya selera makan tinggi saat baru saja sedetik yang lalu menyaksikan orang yang hampir putus kepalanya…,” erangnya.

Aku terdiam, tak jadi menelan nasi goreng yang sudah kumamah. Melotot padanya. Dia tergelak dan aku melanjutkan proses penelanan nasi goreng dengan tuntas.

“Maksudmu?”

“Hahahaha… aku bercanda. Ada baiknya aku menulis dulu,” Mega mengeluarkan notebooknya, siap untuk menulis berita pembunuhan penuh misteri itu.



Malam itu hujan mulai mereda, hanya gerimis ringan. Aku merapatkan jaketku, kurasa sebuah jaket sudah cukup untuk gerimis tipis begini. Niatku malam ini adalah kembali ke lorong itu. Menemukan bukti-bukti lain, yang mungkin bisa menguak misteri pembunuhan ini. Sebuah garis polisi melintang di mulut lorong, aku merunduk melampaui pita berwarna kuning itu. Bekas-bekas darah masih dibiarkan utuh, mungkin guna keperluan proses penyelidikan. Seram sekali berada di lorong malam-malam begini, apa lagi tadi, di sini, terbaring mayat korban pembunuhan. Tapi kutepis semua itu, demi menggemukkan rekeningku. Dengan bantuan semburat cahaya tipis dari lampu jalan di luar lorong aku berjalan masuk. Burung gagak tak henti meraung. Menambah nuansa mistis yang mampu menaikkan bulu roma siapa saja.

Aku sudah sampai di sisi dinding di mana jejak itu tadi pagi kutemukan. Aku menggamit senter dari kantong yang memang sudah kupersiapkan sejak tadi. Kusorotkan lampu senter ke sisi dinding. Benar, jejak itu masih ada di sana. Aku menebar sinar senter ke segala arah, berharap menemukan pertanda lain yang bisa membantu investigasiku ini. Tidak ada apa-apa lagi selain lumut dan lukisan graviti pudar. Aku kembali memfokuskan cahaya senter pada jejak darah. Setelah lamatku perhatikan, sepertinya ada yang berubah dari bentuk jejak itu, tumitnya sudah mulai menghilang. Sepertinya ada seseorang yang berusaha menghapusnya dengan sesuatu. Wuah ini menarik!! Siluman, monster atau apa pun itu sadar, bahwa dia telah meninggalkan jejak yang bisa membongkar kejahatannya. Tapi siluman yang bagaimana pula yang takut akan kejahatannya terbongkar? Ini semakin misterius namun semakin menarik. Aku mengeluarkan kameraku dan kembali menjepret jejak itu sebagai dokumentasi dan bukti.

Tring!!! Tiba-tiba otakku menemukan suatu rencana. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Monster pembunuh ini belum selesai dengan pekerjaannya di sini karena suatu hal, pasti ia akan kembali untuk menghapus jejak ini hingga hilang seluruhnya. Dan aku harus bersembunyi di suatu tempat dan siap dengan kamera di tangan. Siap untuk menjepret mahkluk apa pun yang datang untuk menghapus jejak darah itu. Ya, ya… yaa…, kadang-kadang aku cerdas juga.

Setengah berlari aku berlari menuju ujung lorong, di sana ada bekas dinding yang hampir roboh yang bisa dipergunakan untuk bersembunyi dan bisa memandang bebas ke dalam lorong. Aku jongkok di sebalik dinding, menggenggam kameraku dan memasang telinga dengan baik. Berusaha menangkap suara apa pun yang hadir di kesunyian ini. Hujan yang sudah reda, sungguh membantu aku mendengarkan suara yang ingin kudengar.

Sepuluh menit berlalu, hanya lolongan anjing dan deru kendaraan dari kejauhan yang terdengar. Belum ada tanda-tanda mencurigakan dari dalam lorong. Aku sudah mulai bosan. Perutku sudah berderik-derik kelaparan, aku baru ingat belum makan malam, ah sebegini parahnya kah pekerjaan sebagai detektif itu? Aku bersumpah tak akan mau jadi detektif. Tak sampai semenit kemudian, jantungku menegang, ada suara langkah berderap pelan dari dalam lorong. Itu dia!!!! Ya Tuhaaan… lindungilah hambamu ini. Aku tak tahu kapan harus menjepretkan kameraku ke arah lorong. Tapi instingku berujar nanti saja. Suara derap langkah berhenti, disusul kemudian suara dinding digosok-gosok oleh sesuatu.

Yap!! Ini saatnya kameraku bertugas.

“Jepreeett!!! Jepreett! Jepreett!” lampu blitz menyala-nyala ke dalam lorong. Aku hanya menjulurkan lenganku ke luar tembok ke arah lorong. Tanpa sebilah nyali pun untuk menyaksikan mahkluk apa nun di dalam lorong sana. Setelahnya, aku lintang pukang berlari ke rumah.

Dengan dada berdegup super kencang, aku mendentumkan pintu rumahku. Dan bersandar di daun pintu yang telah terkatup, aku merosotkan tubuhku ke lantai dan memandang kameraku. Aku merasakan bibirku bergetar keras. Lalu aku merutuki diri betapa pengecutnya aku. Takut-takut kutekan tombol pada kamera yang berfungsi untuk menampilkan foto-foto yang sudah diambil. Sesosok manusia siluman mengerikan yang bertengger dan menempel ringan secara vertikal di dinding lorong tampil di foto. Membelalakkan mataku dan hampir memberhentikan jantungku.

Aku menekan tombol off dengan susah payah karena tanganku bergetar hebat sekali. Aku menarik napas terus-menerus berusaha mendatangkan keberanian pada diriku. Takut sudah merajaiku. Mahkluk apa itu? Kalau dia adalah sejenis makhluk yang tak suka dirinya diabadikan dalam foto lalu dia marah dan mengejarku bagaimana? Siaal! Belum sempat aku menetralisir rasa takutku. Suara ketukan pintu melonjakkan tubuhku.

“Si… si… apaa?” tanyaku terbata. Sang pengetuk tak menjawab. Dia hanya mengetuk pintu rumahku itu tiga kali lagi.

Jangan-jangan ini mahkluk tadi. Kacau! Mati akuuu! Bisa-bisa besok aku yang jadi berita. Tidaaakkk!!!

“Si… si… siapa…? Kalau tidak menjawab tidak akan kubukakan pintu…”

“Ini aku, Megaa… Buka, Amoorr!”

Aku menarik napas lega, ah ternyata cuma Mega. Aku berdiri, menarik napas dalam dan mengeluarkannya melalui mulut. Merapikan rambut dengan sepuluh jariku dan menata-nata bajuku yang sedikit berantakan. Perlahan aku membuka pintu.

“Oh, kau Mega, ada apa malam-malam begini?”

“Boleh aku masuk dulu? Biar kuceritakan di dalam?”

Aku mengangguk keras, “Oh tentu saja!” untuk kau bidadariku apa yang tidak kuberi.

Mega duduk dengan santai di satu-satunya sofa, di ruang depan rumahku. Dia sungguh seksi malam ini. Ah andai saja… Upsss… buyarkan pikiran kotor, Amorrr!!!

“Aku boleh lihat kameramu itu tidak?”

“Ini?” aku mengangkat kamera yang sejak tadi kugenggam. “Untuk apa?”

“Tidak ada apa-apa, cuma mau lihat saja, boleh kan??”

“Boleh saja, tapi tidak ada yang penting, cuma foto mayat yang tadi pagi. Ah sudahlah tidak usah nanti kau jadi tidak selera makan. Kubuatkan kopi yaa??”

Aku berbalik, Mega berdiri dan menyentuh pundakku dari belakang. Sentuhannya dingin sekali, sedingin es yang menusuk hingga ke kulit, padahal aku sedang memakai jaket tebal. Aku berbalik, betapa tercekat saat mendapati wajahnya yang pucat dan tersenyum aneh. Dan senyum itu bukan senyuman Mega yang manis seperti biasa. Senyum itu mengerikan.

“Benarkah tidak ada foto yang penting?” suaranya lembut, namun mampu membangkitkan bulu kuduk.

“Ten… tentu saja benar…,” jawabku terbata. Mega membebat langkahku, ia sudah di depanku kini.

“Foto yang baru kauambil beberapa menit yang lalu itu bagaimana?”

Jepp!! Jantungku seolah terhenti, bagaimana Mega bisa tahu?? Sudah kuyakinkan tidak ada siapa pun di sana tadi.

“Maksudmu??”

Mega tak menjawab pertanyaanku, ia lalu menarik paksa kamera di tanganku. Menekan tombol on dan menunjukkan foto seram itu tadi padaku.

“Ini!!” suara Mega meninggi dan berubah serak.

“Bagaimana kau bisa tahu??” Rasa takut dan khawatir kembali memelukku.

“Karena yang kau foto ini adalah AKUUU!!!” tubuh Mega serta merta membiru, matanya merah menyala, dua bilah taring menyilau dari sela bibirnya. Kuku-kukunya hitam memanjang.

“Mee… mee… gaaa?”

Aku beringsut mundur, mataku tidak mempercayai ini dan berharap ini hanya mimpi aneh tentang Mega yang selama ini kualami tiap malam karena aku terlalu mencintainya diam-diam. Aku menggelengkan kepala, menutupnya sebentar dan membuka lagi. Sosok menyeramkan itu masih ada di sana. Kuku tajamnya melayang di udara seinci di depan leherku.

“Kauuu… haruuus matiiii…,” suara Mega sudah berbeda, serak dan dalam.

“Megaaa… ini akuuu… aku mencintaimu sayang… bahkan jika kau adalah seorang silumaann!!”

Ah, apa tadi itu? Aku menyatakan cinta dalam keadaan seperti ini? Bodoh!

“Tidaaakk… tidaakk ada yang boleh mengetahui keberadaan kamii… itu berbahaya!”

“Kamii? Masih ada yang sepertimu di luar sana?”

“Yaaa… Maafkan aku Amooorrr… ini adalah balasan sepadan untuk orang yang selalu ingin tahuuu…”

Mega menebaskan kuku tajamnya ke leherku. Aku roboh dengan kepala nyaris putus. Darahku muncrat kemana-mana, lalu darah mengalir deras dari robekan leherku. Mataku membelalak dengan mulut menganga. Sungguh mengerikan, persis seperti kondisi mayat pria yang kufoto tadi pagi.



Mega menerobos masuk ke deretan polisi yang sudah berkerumun di rumahku. Mengambil gambarku yang tewas mengenaskan dan mewawancarai beberapa polisi. Ia tersenyum di atas mayatku sebelum berlalu pergi untuk menulis berita kematianku. Dan lagi-lagi dialah wartawan pertama yang berada di lokasi kejadian untuk meliput berita. Dasar siluman keji.

Medan, 2013

Cerpen Karangan: Yunita R Saragi
Facebook: Yunita Ramadayantie Saragi

Tragedi Bunuh Diri

Di bawah langit yang mulai redup, ketika senja hampir saja beranjak, seseorang dengan keputusasaannya berdiri di atas pagar pendek pembatas jembatan, ia berdiri mematung berpijak pada lempengan besi yang nyaris berkarat. Pakaiannya lusuh dan lembab, matanya mengatup, kulitnya pucat. Mulutnya berdesis, namun tak begitu jelas. Kedua tangannya membentang membentuk garis lurus. Dari gelagatnya, sejurus terlihat kepahitan hidup yang ia alami.
Tampaknya pemuda itu mulai menyerah, putus asa dan tak kuat hidup lebih lama lagi. Dia membuat sedikit gerakan, hendak melompat ke dalam lembah kecil yang riuh rendah oleh pepohonan. Namun tampak jelas di wajahnya masih tersirat sedikit keraguan.
Tiba-tiba seorang gadis muncul di keheningan, dengan perlahan gadis berpakaian hitam legam dan berambut terurai panjang itu mendekati pemuda yang hendak mengakhiri hidupnya, hingga mereka berjarak kira-kira semeter.
“Apa yang kamu lakukan di tempat ini?” gadis itu mulai mengeluarkan kata dari mulutnya, hingga membuatnya tersentak kaget.
“Siapa kamu?” ia balik bertanya.
“Apa yang ingin kamu lakukan di tempat ini?” Gadis itu kembali menegaskan pertanyaannya, terlihat wajah gadis itu lebih pucat dari sebelumnya.
“Bukan urusan kamu,” ucapnya gemetar.
“Aku tau ini bukan urusanku, tapi aku hanya berusaha. Apapun masalahmu, jangan kamu lakukan hal bodoh itu. Ini bukan cara yang baik untukmu,” ucap gadis itu dengan ekspresi wajahnya yang tetap datar.
“Aku nggak peduli kamu mau ngomong apa, tapi aku mohon menjauhlah dariku, biarkan aku pergi dari dunia ini, biarkan aku meninggalkan kekejaman hidup yang membekas dan tiada akhir ini.” Si pemuda gempar dan mulai menitikkan tetes-tetes air mata.
“Kamu pikir dunia setelah kamu mati, akan lebih baik apa?” Si gadis bertanya setengah berteriak, “dan kamu pikir Tuhan menyukai perbuatanmu itu, heh?”
“Justru dengan aku mati, aku bisa bertemu dengan Tuhan dan menjelaskan bahwa aku tidak bersalah, serta Tuhan akan menempatkan aku di tempat yang lebih layak, lebih indah daripada dunia ini yang begitu mencekam.” Si pemuda masih menangis, bahkan lebih deras dari yang sebelumnya.
Mata si gadis melotot padanya, “Sungguh ironis perkataanmu itu, Tuhan tidak pernah menjanjikan seperti apa yang kamu katakan tadi.” Gadis itu semakin geram padanya.
“Cukup!” pemuda itu mulai naik darah pada si gadis karena telah menghalang-halangi niatnya, “aku nggak tau siapa kamu, kamu pun nggak tau siapa aku. Jadi kamu nggak berhak melarang-larang aku. Asal kamu tau ya…! Aku itu nggak lebih dari seorang yang teraniaya.”
“Aku nggak ngelarang kamu, aku cuma mengingatkan, asal kamu tau juga ya! Kalau kamu sampai mati di tangan kamu sendiri, kamu akan lebih menderita, lebih dari apa yang kamu rasakan sekarang,” papar si gadis dengan nafas yang sedikit tersengal.
“Tau apa kamu tentang dunia setelah kematian, heh?” tanyanya sambil menghentikan air mata yang bercucuran. Namun gadis itu hanya membisu, diam seribu bahasa atas pertanyaan itu.
Lalu saat pemuda itu mengambil ancang-ancang untuk memulai aksinya, si gadis menjerit histeris. Seakan-akan ia tak rela si pemuda merenggut nyawa.
“Jangan lakukan itu…! Sungguh bukan aku yang melarangmu, karena sesungguhnya Tuhan yang melarang perbuatan itu. Bunuh diri adalah perbuatan tercela, Tuhan akan sangat membenci pada orang yang berputus asa, kamu akan sangat menyesal.” Kali ini gadis itu yang mulai menangis tersedu-sedu.
Ia menatap gadis itu yang mulai tersungkur, berlutut, dan terisak-isak. Sejenak, pemuda itu hanya diam dan keheranan. Lalu entah apa yang ada di pikirannya, pemuda itu mulai mengurungi niatnya, perlahan kakinya menginjak lempengan besi yang lebih redah, dan tak lama pemuda itu turun dari pagar dengan sempurna, namun lagi-lagi pemuda itu hanya diam, dan menatap si gadis kaku.
Dengan perasaan gamang, pemuda itu perlahan menghampiri gadis yang masih terisak dan wajah yang tertutup oleh rambut panjangnya.
“Siapa kamu?” pemuda itu bertanya lirih, “kenapa kamu begitu peduli terhadapku…? Kenapa kamu menangis…?” Namun hingga beberapa detik kemudian, gadis itu tetap bergeming.
Karena ia penasaran, akhirnya tangannya tergerak, hendak menyentuh tubuh pucat gadis itu. Ia sangat menyesal dan ingin berterima kasih. Namun saat pemuda itu mencoba memegang bahu si gadis, ia hanya merasakan adanya hawa dingin, ia hanya menerka angin, tak bisa menggapai tubuh si gadis lalu tak lama tubuh itu mulai memudar, dan semakin memudar, serta isakan tangis itu ikut lenyap, meninggalkan tanya. Pemuda itu tercengang, karena sekarang di jembatan itu tak ada siapapun selain dirinya.
Kemudian, cakrawala semakin gelap, diiringi nyanyian burung hantu yang menyeramkan.



Suasana di jembatan tua itu masih seperti biasa, sunyi, sepi, kelam dan mencekam. Dari arah timur terpendar sinar mentari yang tertutup oleh rerimbunan pohon. Sesekali burung melintas dengan sedikit enggan.
Tiba-tiba terdengar jeritan seorang anak perempuan yang semakin lama suara itu semakin jelas, membuat keheningan pecah seketika. Kemudian anak itu muncul dari kabut yang mulai menipis, sambil mengacak-acak rambutnya, ia menjerit semakin menjadi-jadi.
Anak itu hendak melakukan hal yang serupa seperti yang dilakukan oleh seorang pemuda tempo hari. Tanpa berpikir panjang dan bertele-tele anak perempuan itu langsung menaiki pagar pembatas dengan lincahnya. Lalu dengan cepat ia menghempaskan tubuhnya.
Namun gagal, anak itu tersangkut menggantung di tepi jembatan, tangan anak perempuan itu ditangkap sesuatu, oleh tangan sesosok makhluk, yang tak lain adalah gadis tempo hari, gadis misterius yang menggagalkan niat buruk seorang pemuda. Gadis itu kembali datang dengan penuh kemisteriusan.
“Lepaskan tanganku…” teriak anak perempuan itu, “lepaskan …”
“Kamu nggak boleh mati Dik, ayo naik…” ia mulai membujuk anak itu supaya lekas naik.
“Aku nggak mau hidup, aku mau mati, lepaskan tanganku…” anak itu menerjal-nerjal bahkan memukuli tangannya, supaya anak itu cepat meluncur dan menjemput kematiannya.
“Aku mohon Dik, naiklah!, kamu nggak boleh melakukan itu!” ia membujuk tanpa lelah.
“Lepaskan aku, lepaskan aku…,” anak itu mulai berteriak, namun tangan pucatnya semakin erat memeganginya, sampai-sampai urat di tangannya timbul, seumpama akar serabut. Lalu dengan sekuat tenaga si gadis itu mengangkat tubuh anak itu yang semakin gencar meronta-ronta.
Dan entah mengapa anak perempuan itu berhasil diselamatkan dan keduanya hanya mematung, gadis itu menatapnya dalam.
“Kenapa kamu lakukan itu…?” Ia membentak pada anak perempuan yang tengah menangis itu.
“Terserah aku mau ngapain,” anak itu balas membentak sembari masih sesenggukan, “kenapa kamu menghalangi aku?”
“Kamu nggak boleh mengubah takdir Tuhan. Kamu masih kecil, masih ada peluang untuk hidup lebih lama lagi. Jangan sia-siakan waktu. Biarkan dirimu lebih memaknai hidup ini.” Kata gadis itu dengan muka yang semakin menyeramkan.
“Aku udah nggak kuat lagi hidup, percuma aku hidup lebih lama lagi. Penyakitku semakin kronis, aku nggak pernah menemukan ujung, tak pernah sembuh tapi susah untuk mati.” Anak perempuan itu sedikt mencurahkan isi hatinya, dengan ratapan yang semakin deras.
“Aku ngerti, berdoalah dan bersabarlah, bukan bunuh diri seperti yang mau kamu lakukan tadi. Tuhan tidak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Jangan kamu lakukan hal itu lagi ya …!”
Anak itu lama terdiam sampai akhirnya beranjak, berlari. Ketika anak itu pergi menjauh, gadis itu mulai memudar dan lenyap, menyatu dengan semilir angin. Dan kesunyian pun mulai menyergap lagi.
Lagi-lagi gadis misterius itu menyelamatkan nyawa.



Jembatan itu sering disebut Jembatan Kawung, karena banyak ditemui pohon enau. Merupakan penghubung antara Desa Sekar Alit dengan kampung Cibarihol, yang digunakan penduduk untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Tapi sejak kebakaran besar di Desa Sekar Alit, hampir semua penduduk tewas dan tak ada lagi yang mau singgah di tempat itu. Sampai akhirnya jembatan itu mulai diabaikan.
Jembatan Kawung terletak tak jauh dari rumah sakit kecil yang digunakan penduduk Kampung Cibarihol. Itu sebabnya kerap kali ada saja orang, juga merupakan pasien Rumah Sakit, yang mencoba bunuh diri, berputus asa karena penyakitnya.

Suasana di Jembatan Kawung selalu sepi karena hawa anker selalu menyengat. Pada pagi itu, atmosfer masih berselimut embun. Tak sedikit pun terlihat tanda-tanda adanya orang berputus asa (syukurlah). Tiba-tiba sesosok makhluk muncul, entah dari mana asalnya. Kemudian melayang rendah tanpa pijakan, semakin lama wajah sosok itu semakin jelas terlihat, ya, dia adalah gadis tempo hari.
Matanya menatap kekosongan, bibirnya putih nyaris menyatu dengan warna kulit wajahnya yang pucat pasi. Gadis itu cantik, tapi menyeramkan, namun dirinya berjiwa patriot. Telah menyelamatkan dua nyawa yang hendak bunuh diri, bahkan mungkin lebih banyak nyawa lagi.
Dia berhenti di tengah-tengah jembatan dan berhenti di tepi pagar pembatas, masih tanpa pijakan. Hatiku ingin sekali mengenalinya. Dan aku tergerak menghampirinya dari belakang. Karena diriku didera penasaran yang begitu mendalam padanya.
“Mau apa kamu kesini…?” Dia menyadari kehadiranku, namun tanpa menoleh, padahal aku datang nyaris tak menimbulkan bunyi.
“Aku bukan untuk bunuh diri…” ucapku lirih.
“Aku tahu itu, auramu beda, siapa kamu?”
“Aku Ardi, lantas siapa namamu?” kucoba agar tetap lembut padanya, karena aku rasa dia makhluk yang sensitif.
“Itu nggak penting buat kamu.” Dia masih menanggapiku dengan sombong, picik sekali dia tak mau beritahu namanya.
“Aku cuma ingin jadi temanmu Nona.”
“Namaku bukan Nona.” Setengah berteriak, lalu akhirnya dia berbalik badan ke arahku, kulihat wajahnya penuh luka.
“Maaf aku nggak bermaksud…”
“Sudahlah, aku memang makhluk sial, aku menyesal…” gadis tanpa nama itu menjerit lalu melompat ke bawah. Sontak kupegangi tangannya. Namun, tangannya serta tubuhnya hampa, mulai memudar dan lenyap.



Aku mencium bau bangkai, bau anyir darah yang membusuk, yaa… aku yakin ini bangkai manusia. Tiba-tiba kulihat beberapa orang bergegas naik dari jurang rendah bawah jembatan, mereka membawa sesosok mayat kaku berlumuran darah yang telah membeku, tampak di beberapa bagian tubuhnya bermunculan belatung. Dan itu membuat hidungku tidak bersahabat dengan hawa, karena bau busuk semakin menyengat.
Kulihat wajahnya hancur sekali, tetapi aku tetap dapat mengenalinya, ya… dia adalah gadis tanpa nama itu, aku menatapnya gemetar.
“Aku bunuh diri, aku melakukannya karena aku merasa aku tidak pantas lagi untuk hidup, kehidapnku terlalu hancur semenjak orangtuaku bercerai dan aku mengidap lupus menahun, tapi aku menyesalinya sekarang.” terdengar suara seseorang tepat di belakangku yang tak lain adalah gadis penuh misteri itu.
“Apa…?” aku terkaget-kaget mendengar ucapannya, kulihat dia hanya sesosok bayangan yang nyaris semu, tatapannya masih terlihat kosong.
“Aku tidak ingin orang lain merasakan hal yang serupa seperti aku,” dia menitikan air mata yang juga hanya bayang semu.
“Aku harap Tuhan memaafkanmu.” Kucoba memberinya semangat, aku tak tega melihatnya menangis.
“Nggak… nggak ada lagi maaf untukku. Tuhan akan memaafkanku jika aku masih hidup. Tetapi sekarang sudah terlambat.” kurasakan tangisannya semakin menyeruak.
“Aku akan tetap mendoakanmu supaya Tuhan bisa memaafkanmu.”
Dia tersenyum kecut. Seperti biasa dia mulai memudar, memudar hingga akhirnya menyatu dengan udara.



Jembatan Kawung, kau seakan-akan adalah pengaduan, tempat curahan hati, seorang psikiater. Seakan-akan kau adalah jalan menuju Tuhan.
Aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh gadis itu. Betapa menyesalnya dia.
Kini jembatan Kawung masih sepi, dan akan menjadi sejarah untuk masa depan, aku harap kau tak menyedot korban lebih banyak lagi. Maafkan aku karena aku tak bisa melakukan apapun untukmu, sungguh aku akan merindukanmu.
Ini mungkin waktunya, saatnya aku pergi. Kurasakan tubuhku mulai memudar. Aku tidak akan bunuh diri, karena buat apa…? Toh sekarang aku hanya bayang semu seperti gadis itu. Namun tubuhku kutinggalakan bersama kebakaran tragis Desa Sekar Alit.
Bukan Menjadi Korban Tragedi Bunuh Diri.

Cerpen Karangan: Iqbal Tawakal
Facebook: facebook.com/iqtaw

Hanya Dunia Lain

Di sore hari, saat gue sedang berjalan ke pelosok desa terpencil di sebuah hutan jauh dari keramaian, gue lihat ada sebuah rumah tua yang menurut gue sudah gak layak huni, gak tau kenapa ada rasa yang mndorong gue buat ngelihat ke dalam, akhirnya gue gerakan kaki dengan melangkah perlahan, setelah di muka rumah, gue ketuk pintu dan memberi salam, 3 kali udah gue lakuin, tetapi gak ada jawaban, jadi gue pikir mungkin gak ada orang sepertinya di dalam.

Lalu gue coba buat ngeberaniin diri untuk melihat ke dalam, gue buka pintu tua itu dengan agak sedikit takut, KREKOOOTTT!!!, begitu kira kira suara pintu yang dengan perlahan gue buka, gue lihat sekitar ruangan, begitu sepi, berantakan dan sedikit sarang laba laba di sudut sudut ruangan, juga Gue lihat ada 1 lukisan usang, yang bergambarkan seorang nenek yang sedang menenun kain, karena penasaran gue lanjutin melangkah lebih ke depan.

Gue jelajahi kamar satu persatu, tiba tiba kresss!!! Fuhhh, hanya bekas pecahan gelas kaca di lantai yang gue injak, bikin gue sedikit kaget, dan begitu gue masuk kekamar yang tengah, alangkah kagetnya gue ngelihat seorang perempuan memakai piama putih, berambut panjang dengan tatapan kosong ke arah gue, tapi kenapa gue cuma bisa diam saat itu, bulu kuduk pun merinding, dan kemudian gue baru sadar dan gue kaget, gue pun langsung lari terpingkal pingkal, bahkan sesekali sampai jatuh.

Gak terasa gue sudah jauh dari tempat itu, dengan nafas setengah mati, gue duduk di dekat pohon, gue sandarin badan gue ke pohon, gue tarik nafas dalam, gue tenangkan sejenak. karena gue lihat matahari sudah mulai tenggelam, gue lanjutin untuk berjalan pulang, Tapi tiba tiba, saat gue mulai melangkahkan kaki, gue ngelihat sebuah rumah itu lagi ada di depan gue, “HAHH!!!” Gue tercengang dan kaget lagi, alhasil gue berlari lagi, lari lebih jauh lagi, dan lagi lagi gue bertemu dengan rumah tua itu lagi, sepertinya gue hanya berlari di tempat itu itu saja.

Dengan bermandikan keringat yamg terus mengucur, gue ketakutan, gue kacau, gue kecapean, “arrrggghhh”. tubuh gue rasanya sudah kehabisan stamina, gue mulai lemas, dan gue juga mulai lapar.

Lagi tiba-tiba, sesosok nenek nenek muncul dari arah belakang gue, dengan wajah yang menyeramkan, sepintas gue lihat wajahnya mirip sama yang ada di lukisan. “UWAAA!!!” Kaget bukan kepalang, gue pun berlari lagi, tapi kali ini rasanya begitu berat, gue lihat ada sebuah sepeda ontel tua tahun 70an, ‘mungkin lebih baik gue ngdrive itu aja’ pikirku dalam hati.

Dengan kencang gue kayuh sepeda itu, na’as, saat itu ada turunan tajam, karena gak ada remnya, gue pun terjatuh tersungkur, karena gue menjatuhkan diri gue sendiri ke arah lain, dan sepedanya!, Sepedanya menabrak pohon besar, dan gak bisa lagi digunain, gue merintih kesakitan, tapi itu lebih baik menurut gue, yang penting gue sudah jauh dari rumah itu.

Hari udah mulai gelap, lagi, gue pun bergegas bangun dan berjalan… Berjalan dan terus berjalan sampai akhirnya gue berada di tepian jurang, ternyata gue tersesat, hanya menelan ludah dan dengan rasa lelah, lagi lagi, sepertinya ingin membuat diri gue menangis sesak…

Tiba tiba gue lihat di sekeliling, begitu banyak sekelompok buaya, yang perlahan mulai mendekati gue, gak tau harus kemana lagi dan berbuat apa, sedikit demi sedikit gue mundur, mundur dan mundur, bagai telur di ujung tanduk, ya begitulah kata pribahasa yang mewakili keadaan gue saat itu, gue bingung, akhirnya gue tergelincir, gue pun terjatuh… “Aaaaaaa”

BLEGG!!! Hmmmm lalu gue terbangun dan sadar, kalau ternyata gue jatuh dari tempat tidur,
Huhff miris…
Gerah, pengap, wajah dan rambut kusut… Gue pun langsung beristighfar, lalu mengambil segelas air putih dan meminumnya, gue lihat jam di dinding, ternyata waktu sudah hampir magrib, gue baru terbangun dari tidur.

Jadi buat para pembaca , jangan tidur berlebihan apa lagi sampai mendekati waktu magrib, selain bisa menyebabkan mimpi buruk juga tidak baik. Dan Jangan lupa juga baca doa.

Wassalam…

Cerpen Karangan: Ze Arrosyid
Facebook: Zeze Arrosyid

Sihir Hitam

Belum sempat Mia menaruh tas yang dijinjingnya, terdengar suara teriakan dari rumah sebelah. Rumah yang ditinggalkan pemiliknya sebulan lalu.

“Tolong, tolong, tolong…!!!”

Mendengar suara itu dia lantas bergegas menuju asal suara. Mia melihat rumah itu dengan pintu yang terbuka. Ketika hendak masuk, Mia dikejutkan dengan seonggok tubuh manusia yang tergeletak di ruang tamu dengan darah segar yang mengalir. Terlihat jelas dari posisi Mia yang terpaku tepat di tengah pintu. Refleks dia menjerit sejadi-jadinya.

“Aaaaaaaa…!!!”

Darah masih mengalir dari lehernya, sehingga lantai putih itu menjadi merah bersimbah darah. Mengalir di sela-sela ruang dan menggenang di sudut tembok. Ada sebuah pisau dapur mengkilap tepat di muka mayat. Barangkali pisau itu yang telah digunakan untuk menghabisi nyawanya. Mia sangat takut dengan kejadian ini apalagi orangtuanya baru saja dia antar hendak pergi ke luar kota. Dia panik, lantas dia ke rumah Pak RT berharap secepatnya kasus ini terselesaikan.

“Pak tolong, ada mayat di rumah nomer 13”, bibirnya yang masih bergetar, dengan nafas yang tidak teratur.

“Benarkah?”

“Iya Pak, benar”

“Ayo kalau begitu kita bergegas ke tempat kejadian”

Pak RT lekas menghidupkan mesin motornya. Mereka buru-buru menuju tempat kejadian. Motor Pak RT sudah tua ngambek, sehingga kami terpaksa jalan kaki dengan langkah sangat cepat. Selama ini Mia belum kenal dengan pemilik rumah itu. Pemilik rumah yang sangat tertutup. Tapi sebenarnya warga komplek ini telah hafal dengan tabiatnya. Pemilik rumah itu datang dan pergi begitu saja. Wajar jika tidak ada yang mengenalnya. Aku memperkirakan pembunuhan ini berlatar belakang perampokan.

Mereka sudah sampai di depan rumah. Tapi Mia heran dengan pintu yang sekarang tertutup, tadi dia yakin pintu itu terbuka. Ketika Pak RT membukanya, sontak mereka dikejutkan dengan sesosok wanita yang tengah duduk di sofa dengan buku di tanganya. Kontras dengan pemandangan yang Mia lihat tadi. Kontras dengan apa yang Mia katakan pada Pak RT. Dia tampak terkejut melihat kedatangan Mia dan Pak RT. Bukan wanita itu yang membuat Mia tercengang, terlebih karena di samping sofa itulah tadi Mia melihat sesosok mayat terbaring bersimbah darah.

“Oh ada tamu ya ternyata, silahkan masuk!”, wanita itu menyapa sambil berdiri membenarkan rok lebarnya. Suara wanita itu aneh, terdengar menakutkan meski dengan suara yang lembut.

“Mmm… Maaf, tadi ada pembunuhan di rumah ini, apa Ibu sudah tahu?”

“Saya dari tadi duduk di sini, jangan mengada-ada dong”

“Saya tidak mengada-ada Bu, benar tadi ada. Mayatnya tadi ada di lantai tepat di samping sofa itu…” , Mia menunjuk tempat yang dia yakin di sanalah mayatnya tergeletak.

“Kenyataanya tidak ada. Tidak ada apa-apa di sini!”, wanita itu mulai meresa terusik dengan kelancangan Mia.

“Sudah! biar saya periksa dulu”, ujar Pak RT menengahi pembicaraan.

Mia berfikir sejenak hendak membenarkan apa yang wanita itu katakan. Tapi dia belum pikun, dan dia benar-benar masih ingat mayat itu mati di samping kursi tempat wanita itu duduk. Pak RT masuk ke dalam rumah. Memeriksa semua ruang yang ada di rumah itu. Ruang yang sangat lebar. Dia lihat semua sisi dari ruangan itu. Dan Mia masih terpaku di tempatnya dia takut masuk ke dalam, hanya terpaku di pintu masuk. Beberapa saat kemudian Pak RT kembali.

“Tidak ada apa-apa”, Pak RT berbicara pada Mia, tapi dengan mimik muka yang berbeda dengan tadi sebelum dia memeriksa rumah. Mia merasa ada yang aneh dengan sikap Pak RT.

“Yakin Pak tidak ada?”

“Iya. Tidak ada”

Lalu Mia dan Pak RT hendak pergi dari rumah itu. Setelah meminta maaf pada wanitu itu. Tapi sebenarnya bukan karena mereka telah yakin tidak apa-apa di sana. Bukan itu, tapi seperti ada sesuatu yang masuk pada pikiran mereka, sesuatu yang membuat mereka tidak berani untuk lebih jauh mencurigainya.

“Loh tidak duduk dulu?”, sahut wanita itu dengan nada yang masih aneh, lembut tapi menakutkan.

Saat Mia menoleh, dia jadi salah tingkah sendiri melihat sorot mata itu menusuk dan secara perlahan-lahan menggerogoti kejengkelannya. Ia merasa seperti ada yang memukuli jantungnya untuk berdegup lebih cepat dan lebih keras lagi. Apalagi ketika wanita itu berkata, “Loh tidak duduk dulu?”

Mia takut dia segera pulang begitu pula Pak RT. Tapi tetap saja wajah dan sikap Pak RT berubah semenjak dia masuk ke rumah itu. Entah apa yang dia lihat. Mia tidak tahu apa yang dia lihat, sebab tidak ada kata yang Pak RT ucap untuk menjelaskannya.



Gelap mulai merayap menyelimuti rumah-rumah yang ada di komplek itu. Tak terkecuali rumah yang penuh misteri. Misteri yang baru Mia peroleh beberapa jam yang lalu. Dan masih meninggalkan bekas yang mendalam di benaknya. Wanita dengan tatapan aneh.

Mia duduk di sofa ruang tengah. Tampak kedinginan meski sebenarnya hawanya tidak sedingin itu. Dia mulai jengah menanti Rina yang berjanji menemaninya malam ini, sekedar untuk mengurangi rasa takutnya.

Pintu rumah Mia diketuk keras dan tidak sabaran. Mungkin itu Rina yang berjanji akan menemaninya malam ini. Hati Mia mulai rada tenang, meski belum tahu siapa yang sedang berada di balik pintu.

“Ya, sebentar!”, teriak Mia.

Sebelum membuka pintu, Mia membuka gorden meyakinkan siapa yang datang. Tidak kelihatan, mungkin dia di sisi yang tidak terlihat dari dalam. Lantas Mia buka pintunya. Berdiri seorang wanita pemilik rumah itu menyodorkaan rantang dengan tatapan yang sama ketika terakhir melihatnya tadi siang.

“Untuk Mia…”

Mia hanya diam terkejut dan tidak bisa berkata apa-apa kecuali meraih rantang yang ada di depanya. Tenggorokan Mia tertahan tidak bisa dia mengucap sepatah kata pun. Perempuan itu menatapnya sejenak lalu membalikan badan melangkah pergi perlahan meninggalkan Mia yang sedang ketakutan.

Ketika perempuan itu sudah menghilang ditelan gelap. Barulah Mia sadar ada rantang di tangannya. Dia takut bukan main, lalu dia lempar rantang itu ke tanah. Sungguh mengejutkan ratang itu berisi sepasang bola mata dan sepasang telinga dengan kuah darah berwarna merah pekat. Berbau anyir.
Pemandangan yang menjijikan, darah itu mulai meresap ke tanah.

Rasanya Mia mau muntah, tetapi tidak ada yang keluar dari perutnya. Ia berjuang keras meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang terlihat, dan terbaui olehnya itu, sebetulnya hanyalah sesuatu yang hanya dia khayal saja. Tapi tidak, darah itu masih merah, bola mata itu masih di tanah seperti menatap tajam, dan dua telinga yang terserak.

Mia meuntup pintu dengan keras berharap rasa takutnya rontok bersama dengan hentakan pintu. Dia kembali ke sofa, tubuhnya menggigil, wajahnya pucat pasi. Dia gigit kain selimutnya, tak terasa keringat dingin menetes melalui pori-porinya. Mia sangat ketakutan.

Angin malam berhembus pelan masuk melalui cela dan menerpa tubuh Mia. Bulu romanya mulai bergidik. Jantungnya terpompa, keringat dingin membasahi pakainya.

“Grrrhhhuuekkhhh…”

Ada suara berdahak di dalam kamar mandi. Padahal hanya Mia yang berada di rumah ini.

“Grrrhhhhuuekkkhhh…” lagi-lagi saura itu terdengar diikuti suara air kran yang mengucur.
Mia tidak tahan dengan kejadian-kejadian ini. Dia berusaha bangkit dan memberanikan diri, memeriksa siapa yang ada di kamar mandi. Dengan langkah yang mengendap-ngendap. Tubuhnya masih menggigil, dia lihat ada sesosok perempuan di balik pintu kaca kamar mandi yang transaparan. Dia semakin mendekat, dia buka pintu itu meski ragu-ragu.

“Grrrhhhuuekkkhhh…”, seorang wanita berpakaian serba putih berdahak memuntahkan darah merah. Dengan spontan menatap Mia, sorot mata yang merah merembas darah dari matanya. Sorot mata yang sangat menakutkan. Kran juga mengalir darah. Kamar mandi itu menjadi banjir darah. Mia hafal wajah itu, dia adalah pemilik rumah yang menakutkan tapi dia sudah berubah semakin manakutkan.

“Bruuk”, Mia banting pintunya dia lari sekuat tenaga hendak keluar rumah. Namun lampu-lampu rumah satu per satu padam, hanya beberapa lampu remang berwarna kuning yang masih menyala.

Pintu untuk keluar terkunci, entah siapa yang menguncinya. Dia tarik sekuat tenaga tapi tidak berguna. Hanya sia-sia, pintu tetap terkunci, lantas Mia menangis sejadi-jadinya bersandar di tembok dekat pintu. Tubuhnya menggigil hebat. Hanya keringat dingin yang menerjemahkan keadaannya.

Wanita itu muncul dari balik kegelapan dan mulai mendekat, wanita dengan rambut berantakan dan pakaian serba putih. Pakaian yang pajang, sehingga wanita itu melangkah dengan menyeret pakaianya. Wajahnya penuh luka, kadang terdengar suara merintih, kadang suara tawa keluar dari mulutnya.

“Aku butuh bola matamu, aku butuh telingamu, aku butuh darahmu…”, suaranya pelan tapi jelas terdengar di telinga Mia.

“Tidak, tidak, tidak…!!!”, teriak Mia ketakutan.

Wanita itu semakin dekat sangat dekat, Mia palingkan mukanya dia takut menatap wanita dengan darah yang merembes dari matanya, mata yang merah. Tapi tiba-tiba wanita itu menghilang. Lampu-lampu menyala kembali.

Dan pintu yang disandarinya tiba-tiba terbuka. Sontak dia terkejut.

“Aaaaaaaa…!!!”

“Hey Mia, ada apa?”, ternyata dia adalah Rina, lantas dia goyang-goyangkan tubuh Mia yang kaku ketakutan.



Pagi yang kelabu, awan berwarna abu-abu. Sesekali terdengar suara gagak melintasi rumah. Mereka duduk di serambi dan Rina masih memeluk Mia. Tubuhnya kaku, masih terlihat semburat pucat di wajahnya. Mia tidak mengucap sepetah kata pun pada Rina semenjak dia datang. Mulutnya kaku.

Bukan hanya langit yang kelabu, bukan hanya awan yang berwarna abu-abu. Warga komplek pun dikejutkan dengan kabar yang kelabu. Pak RT meninggal dengan cara yang tragis. Sepasang bola mata dan telinganya hilang. Dan pisau dapur berada tepat di depan mayatnya sebelum polisi memeriksa.

Pagi itu bukan hanya Pak RT yang membuat warga komplek terkejut. Terpampang dalam surat kabar diberita utama bahwa.

Ditemukan mayat wanita dan laki-laki di lereng gunung Merapi. Diperkirakan mayat itu sudah mati sebulan yang lalu. Tapi anehnya kelopak mata dan telinga mayat wanita masih terlihat segar meskipun anggota tubuh yang lain sudah membusuk. Dan juga ditemukan sebuah kitab sihir di sisi perempuan itu.

Setengah misteri Mia mungkin telah terungkap. Namun tidak pula membuat rasa takutnya berkurang. Justru dia semakin takut. Dia merasa mungkin saja berikutnya dialah yang kehilangan bola mata dan telinga. Dengan apa dia akan melihat warna dunia ini jika matanya hilang. Dan dengan apa pula dia mendengar deburan ombak jika telinganya hilang. Oh biarlah. Biar Mia saja yang menanggung ketakutan.

Cerpen Karangan: Rendi Mahedra
Facebook: https://www.facebook.com/randy.mahendra
Rendi Mahendra, Ternggalek 1994 26 Juni yang lalu dia lahir. Kini tengah kuliah di STAIN Ponorogo, semester dua. Punya keinginan untuk menjelajahi Indonesia.

Hantu Penunggu Rumahku Di Bandung

Pada suatu hari, saya tinggal dengan ibu ku. Ayah ku pergi merantau ke jakarta. Di tempatku katanya banyak orang yang mengatakan tempat ini angker. Karena aku masih kecil jadi aku tidak merasa takut. Aku masih kelas 1 SD, dan setiap pagi aku mandi di belakang rumah, di belakang rumahku ada sumur.

Pada suatu pagi aku menimba air di sumur, dan pagi itu aku sedang mandi dan menggoskkan sabun ke tubuhku, lalu seperti ada benda jatuh ke dalam sumur, suaranya sangat besar hingga warga desa datang ke rumahku, kata warga desa bilang ke ibuku. “Suara apa itu?”
ibuku berkata “mungkin itu genting jatuh ke sumur”.
“Owhh..”

Saat malam tiba terasa sangat dingin, aku terbangun malam hari skitar jam 1 malam. Aku ke kamar ibu ku dan berkata bu aku kedinginan. Lalu aku tidur di kamar ibuku.

Saat mau tertidur seperti jendela terbuka dan tertutup, bulukuduku mulai tegak, ternyata jendela itu terbuka dengan lebar dan terlihat sosok wanita yang sangat menakutkan. Aku dan ibuku melihat sosok yang menakutkan itu tak tahu aku dari mana asal wanita yang menakutkan itu.

Aku dan ibuku tidak memberitahukan kisah ini semua warga karena takut warga pindah semua.

Kisah nyata

Cerpen Karangan: Fauzan Sibhotullah

Misteri Hantu Di Sekolahku

Sepasang sahabat, yaitu Risa dan Vinny duduk di teras sekolah. Mereka tertawa, menangis dan tersenyum bersama di sekolah tersebut. Risa dan Vinny yang duduk sebangku di kelas 5B tak pernah takut dengan apapun.

Konon, sekolah tersebut penuh dengan puluhan jenis hantu, karena sekolah tersebut merupakan rumah sakit pada zaman penjajahan Belanda.
Beberapa siswa kelas 6 yang akan lulus tewas dengan wajah yang hancur. Ya, Risa dan Vinny sudah lama mengetahui hal itu, tetapi mereka tidak percaya.

“Memangnya kamu percaya kalau ada hantu di sekolah ini?” Kata Vinny.
“Kamu percaya? Aku sih gak, jangan percaya gitu-gituan deh!” Jawab Risa.
“Tapi..Ris”.
“Udah deh, Vin. Malas aku ngomongin hal gak penting” Kata Risa dengan nada marah.

Pada malam hari, Risa yang tak percaya dengan hantu nekat mendatangi sekolahnya. “Woiii..Hantu!! Sini kalian, aku berani kok sama kalian, aku kan pemberani.. Cepat kesini!” Teriak Risa.
Tiba-tiba, ia merasakan makhluk halus datang padanya. Samar-samar, ia mendengar suara berbunyi “Risaaa… kamu akan mati”.
“Papaaa… Mamaaa… tolong aku!!” Risa menangis ketakutan.

Risa pun berlari ke arah rumahnya. Dengan muka yang memerah seperti udang rebus, ayah Risa memeluk Risa dan berkata “Risa, kenapa kamu pulang jam segini? Dan kenapa kamu menangis seperti ini?”.
“Papa, aku takut. Aku tidak mau lagi bersekolah disana lagi. Disana banyak hantunya” Jawab Risa yang mengelap air matanya.
“Ya sudah, kamu mandi dulu habis itu kamu tidur. Jangan lupa berdoa..”. Kata Papa Risa.

Esok harinya, Risa pun bersekolah kembali dengan ceria. Ia berjanji, ia tidak akan menggangu hantu di sekolahnya

Cerpen Karangan: Priskilla Verdina
Facebook: Priskilla Verdina

Priskilla Verdina
Kelas 7, SMP Negeri 8 Makassar
Ingin menjadi penulis cerpen profesional
Facebook: Priskilla Verdina
Twitter: @PVerdina

ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik